Thursday, 2 November 2017

Siapkan Maharmu!


Loc : Universitas Sumatera Utara

Teruntuk hati yang masih bertanya-tanya siapakah orangnya.
Teruntuk jiwa yang gersang karena separuh agamanya masih berkeliaran di belahan bumi lain.
Teruntuk telinga yang kadang “panas” dirongrong dengan pertanyaan “kapan?”
Teruntuk mulut yang tak pernah berhenti berdoa agar tahun ini, bulan ini, bahkan hari ini Allah menunjukkan kuasa Nya.
Teruntuk mata yang kadang menangis manja di hadapan Robb nya, tersedu-sedu mengadukan hati yang merindukan seseorang yang Kau janjikan.

Teruntuk siapapun itu yang merasa disebut pada paragraf awal. Mungkin kalian, eh lebih tepatnya kita, bertanya-tanya kenapa di usia segini Allah masih pending kehadiran “nya”. Allah masih merahasiakan takdir yang sering membuat deg-degan ini. Di saat mereka mungkin telah menyempurnakan agama bahkan menyempurnakan hidupnya dengan kehadiran amanah dari Allah, kita masih disibukkan dengan bertanya-tanya “siapa Dia ya Allah?”, “Kapan Dia datang ya Allah?”, atau bahkan kita disibukkan untuk memikirkan jawaban terbaik ketika keluarga besar sedang ngumpul dan mereka dengan spontan bertanya “KAPAN?”. Dan sejak saat itu kata tanya ‘Kapan’ menjadi suatu hal yang paling dibenci (hehehe)

Trus, kapan ya Allah? (eeeh)
Tunggu saja ! hingga nanti saatnya telah tiba..(kok seperti lirik lagu ya? Hehe)

Mungkin kita butuh waktu. Butuh waktu untuk mengerti maunya Allah itu apa. Kita butuh waktu untuk mengerti kenapa Allah masih takdirkan kita “sendiri” di usia segini. Mungkin Allah memang sedang mempersiapkan calon pasangan kita yang ideal banget. Dan bukankah sesuatu yang ideal itu butuh waktu? Kalau mau beli baju yang unik, bahan bagus, berkualitas kita sering pre order dulu kan ? coba deh beli baju yang biasa aja, langsung ready stock tuh. Begitu juga dengan jodoh. Ada jodoh yang ready stock, ada jodoh yang harus pre order.

Jangan-jangan, kenapa Allah masih belum pertemukan kita karena jodoh kita itu adalah seseorang yang istimewa banget. Sehingga butuh waktu untuk mendapatkannya.
Mungkin saja dia istimewa karena sedang mengkhatamkan Al Quran. Mungkin saja dia sedang meniti karier agar benar-benar mapan sehingga bisa menafkahi keluarga secara maksimal. Mungkin saja dia istimewa karena sedang menyelesaikan studinya agar bisa mendidik keluarganya kelak. Ahh..

Maka teruslah bersabar !
Bersabarlah memperjuangkannya. Apakah “dia” harus diperjuangkan? Tentu. Bagaiamana?
Siapkan mahar terbaik untuk calon pasangan kita. Mahar terbaik itu adalah keimanan dan ketakwaan kita.

Sebelum kita benar-benar Allah pertemukan dengan pasangan, maka siapkan mahar terbaik untuk pasangan kita. Mahar, bukanlah emas, pertama, kendaraan, rumah mewah atau hal lainnya, melainkan keimanan, ketakwaan, atau kepribadian yang berkualitas. Persiapkan itu semua sambil terus menunggu seseorang yang istimewa.

Teruslah berprilaku menjadi muslim terbaik, sehingga Allah akan menghadiahimu seorang wanita shalihah yang akhlaknya mulia. Dan berperilakulah sebaik-baik wanita shalihah, sehingga Allah akan mempertemukanmu dengan seorang malaikat dari kalangan manusia yang siap mempertanggung jawabkan sisa hidupmu, bahkan urusanmu di akhirat kelak.

Maka teruslah belajar. Teruslah menjadi baik. Perbaiki dan tingkatkan kualitas ibadah, hindari hal maksiat dan tiada berguna, sering ikut ta’lim (karena bisa jadi, jodohnya ketemu di ta’lim kan? Eeh), sering membaca buku tentang persiapan menikah, menjadi istri/suami idaman, menyambung silaturrahim, bersedekah, menyebar kebaikan. Aah...mungkin tak akan cukup kertas untuk menceritakan apa saja yang bisa kita lakukan untuk calon pasangan kita. Siapkan mahar terbaik untuk calon pasangan kita. Sehingga kita akan menjadi istimewa baginya, dan diapun akan menjadi sesuatu yang istimewa bagi kita.

Bukankah Ibunda Khadijah juga harus kehilangan kedua suaminya ?
Bukankah Ibunda Khadijah juga mengalami masa kesendirian yang begitu lama?
Kenapa Allah takdirkan seperti itu untuk wanita semulia Khadijah?
Karena Allah sedang mempersiapkan seseorang yang paling istimewa untuk Khadijah.
Ialah Nabi Muhammad SAW.
Dan bukankah tidak ada laki-laki yang lebih istimewa daripada Rasulullah?
Lihatlah, Allah itu punya rencana. Dan rencana Allah itu adalah sebaik-baik rencana.

Teruslah bersabarlah..
Semua yang datang dari Allah itu baik, bahkan lebih baik daripada apa yang kita angan-angankan.
Teruslah berhusnudzon..
Teruslah berpikir positif bahwa Allah benar-benar sedang mempersiapkan seseorang yang istimewa.
Teruslah mempersiapkan mahar terbaik untuk calon pasanganmu. Dan ketika harinya telah tiba, kau akan terkejut karena “dia” ternyata benar-benar istimewa.
Masha Allah..

 
Medan, 2 November 2017, 21:40
Ketika mulai gerah dengan pertanyaan “kapan”. Ketika mata mulai berkaca-kaca, ketika mulut bergetar melantunkan harapan-harapan agar segera. Segera aja, semoga tahun ini, eeh bulan ini ajah !.

Thursday, 17 August 2017

Kenali lah Mereka !



Menjadi guru dengan ratusan bahkan hampir ribuan siswa memiliki keseruan tersendiri. Ada setakat bangga karena telah berhasil membelajarkan mereka.  Sekarung kabahagiaan karena telah berhasil mengantarkan kesuksesan mereka (ya Allah, sukseskan mereka, dimanapun mereka berada, aamin).
 
Kelas X MIA SMA YPK Medan, Research done!!

Tapi kalian tahu, ada bagian yang menjadi pe er terbesarku ketika mengajarkan mereka yang jumlahnya ribuan tersebut, yaitu mengenali mereka (opps). Aku mungkin adalah guru yang paling susah mensikronkan antara wajah dan nama siswaku. Gak tahu kenapa, itulah masalah terbesarku. Mungkin karena banyak diantara mereka yang wajahnya saling menyerupai kali ya, apalagi yang perempuan (halaah). Kebanyakan mereka berjilbab, sehingga semakin sulit otakku untuk membedakan manakah yang Fifi, atau manakah yang Kartika. Ya ampuuun !!. mungkin wajah mereka lebih susah ketimbang dari pembuktian Teorema Pytahgoras ya.

But, anyway mengenali siswa itu merupakan hal yang kudu and  harus banget dilakukan oleh guru. Bahkan bukan hanya sekadar nama, tanggal lahir, makanan kesukaan, penyakitnya, cara belajar, hobi, bahkan masalah yang dihadapi oleh para siswa (hihihi, complete banget ya). Ketika seorang guru sudah mengenali siswanya dengan baik, maka akan mudah baginya untuk membangun chemistry yang bagus dengan siswa. Nah, lalu apa ? chemistry  yang bagus ini akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar mata pelajaran yang akan kita jelaskan. Next, bakalan tahu dong bagaimana hasil belajar jika motivasi siswa itu tinggi, wahh..

Terus, bagaimana dong kasus seperti aku yang mengalami kesulitan ketika mengenali siswaku?, bahkan untuk nama saja aku kewalahan. Oke, aku pernah menerapkan trik yang mungkin sedikit membantu para guru untuk mengenali siswanya. Jeng---jeng—jeng--, ini dia solusinya ‘daftar presensi siswa'.

Source : Tokopedia

Buat apa sih ? aku memiliki kebiasaan sebelum mengajar selalu mengecek kehadiran siswaku (wah..ini mah wajib dilakukan guru). Aku melakukannya bukan semata karena menerapkan RPP yang telah aku buat, atau hanya sekadar memastikan si Furqon gak terlambat kan ?. aku melakukannya dalam rangka menghapal nama siswaku satu per satu (duuh, ketahuan). Aku menyebut nama mereka, lalu memperhatikan wajah dan kondisi fisik mereka, bentuk wajah, cara memakai jilbab atau potongan rambut mereka. Dan ketika ada siswa yang hanya menjawab panggilan namanya dengan “hadir buk” tanpa memperlihatkan wajahnya, maka aku akan menagihnya (ngeri ahh) “mana orangnya?, ibu gak nampak”. Intinya, aku akan selalu memperhatikan wajah mereka satu per satu setiap kali aku masuk ke kelas. Dan alhamdulillah aku tidak melewati scene ini setiap memulai pelajaranku.

Lalu hasilnya ? Alhamdulillah, terima kasih kepada Allah yang telah mengaruniakan ingatan terhadap mereka, aku mulai mengingat nama mereka, aku mulai terlatih menskironkan nama dan wajah mereka (yeyeyey, loncat-loncat di depan pantai dulu, eeeh). Nah, jadi buat para guru, para ustadz/zah, para dosen yang bermasalah dengan nama siswa nya, boleh mencoba caraku ini. Insya allah bakal mulai ingat tuh nama siswanya satu-satu.

Gak cuma ngabsen lo pak dan buibu. Aku juga tidak begitu suka dengan panggilan seperti “anda” atau “saudara” atau “kalian” apalagi “kau”. Biasanya dalam pembelajaran, aku mengusahakan untuk memanggil mereka dengan sebutan nama mereka. Wah..tentunya ini juga semakin berat tugasku kan, karena aku harus benar-benar pas mencocokkan antara nama dan wajah mereka. Tapi i did it  kok. Biasanya kata-kata panggilan di atas hanya keluar ketika aku mulai marah dengan mereka. Marah ? guru boleh marah kah ? boleh dong. Ntar di next tulisan aku coba bahas ya (semoga Allah mudahkan melawan rasa malas nulis ini, hehe)

Percayalah para pendidik, merasa diperhatikan, merasa disayangi, merasa menjadi objek penglihatan guru merupakan sensasi tersendiri bagi siswa. Hal itu merupakan impuls terbaik dalam proses pembelajaran. Salah satu cara agar siswa itu merasa diperhatikan, merasa disayangi adalah panggil lah mereka dengan nama mereka, kenalilah mereka pelan-pelan. Dan eits..jangan lupa perhatikan siswa secara detail yak, perhatikan perubahan yang mereka sajikan setiap harinya. Karena kebanyakan siswa membutuhkan komentar terhadap perubahan yang mereka tunjukkan. Jadi jangan sungkan untuk mengatakan “Ridwan, potong rambut ya?” atau “Masha Allah Ilma, kalau jilbabnya diulurkan ke dada gitu tambah cantik deh”. Bakalan klepek-klepek tuh siswa sama gurunya. Dan ketika sang guru telah berhasil merebut hatinya, percaya deh, para siswa itu juga akan memberikan sepenuh hatinya, pikirannya untuk sang guru.

Nah, buat para guru yang lain, monggo di coba caraku ya. Jangan berhenti menjadi guru terbaik untuk para siswa hebat ya.. Orang hebat hanya akan lahir dari tangan seorang guru yang luar biasa. Siap melahirkan dan mencetak generasi hebat ? maka jadilah guru yang luar biasa.

Medan, 17 Agustus 2017, 14:55 WIB
Memaknai kemerdekaan di kos an sederhana (eeh)

Thursday, 20 July 2017

Ini Monas Yaak?


Monas, siapa sih yang gak kenal dengan benda ini. Benda yang merupakan icon dari ibu Kota Indonesia, Jakarta, ramai menjadi bahan perbincangan orang (eeh atau aku aja kali ya, heheh). Tapi kali ini aku gak mau ngebahas tentang sejarah monas, kapan dibangun, siapa yang membangun atau alasan dibalik pembangunannya. Silakan searching atau tanya guru sejarah aja yaa...opss.


Mungkin untuk sebagian orang tugu monas ini adalah hal yang biasa saja, ‘basi’, begitu beberapa ungkapan dari mereka. Tapi tentu tidak denganku, gadis lugu (cie elah) yang hidup di sebuah desa kecil di pinggir kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Buatku monas adalah cita-cita kecilku, karena dari kecil aku sangat menginginkan bisa melihat tugu itu langsung dengan mataku sendiri. Ntah kenapa aku selalu ingin segera sampai kesini, aku ingin melihat Monas.
“Suci mau ke Jakarta gak?”. Mau.
“Ntar di Jakarta mau ngapain? Ke Ancol ?”.  Gak, aku mau lihat Monas aja.
Ya Allah, cita-cita yang sederhana banget, hehehe.

Tapi sayang, kondisiku begitu sangat tidak memungkinkan. Dimulai dari kondisi ekonomi yang tidak bersahabat, waktu yang tak kunjung datang dan pertimbangan tidak adanya keluarga di Jakarta, membuatku mengurungkan niatku untuk berkunjung ke icon Jakarta itu. Buatku mendarat di Jakarta sehari atau dua hari saja adalah impianku, karena membayangkannya saja aku tidak bisa, takut, takut gak terwujud. Karena memang ada beberapa kondisi yang sangat tidak memungkinkan aku untuk bisa berpergian dengan jarak yang jauh dan biaya yang cukup mahal (dulu mah, tiket pesawat harganya melangit banget).

Tapi aku kan punya  Allah, aku minta langsung saja sama Dia. Dan ternyata Allah kabulkan permohonanku, Huaa...aku beneran gak nyangka banget, bisa menginjakkan kaki ke negeri para artis itu. Masha Allah. Alhamdulillah. Tahun 2014 aku menginjakkan kaki ke sana, Jakarta, Im Coming. Aku gak nyangka ternyata rencana Allah malahan lebih indah ketimbang rencanaku sendiri. Teringat dengan surat Ar Rahman deh, “Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”.

Bukan jalan-jalan atau memang sekadar mewujudkan salah satu impianku agar bisa berkunjung ke ibu kota negaraku itu, melainkan ada tugas dari NGO tempat aku bekerja. Kami diwajibkan untuk ikut pelatihan di Jakarta selama hampir satu minggu, bahkan tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Ya Allah, aku bukan berangkat ke Jakata dengan biayaku sendiri, aku sama sekali tak perlu memikirkan dimana aku akan menginap, bagaimana caranya agar aku bisa makan di Jakarta. Ternyata itu Allah yang uruskan. Allah yang pilihkan pesawat Garuda untuk perjalananku Medan-Jakarta, Jakarta-Medan. Allah yang pilihkan Hotel Sultan, tempatku menginap selama hampir seminggu di Jakarta, dan Allah juga yang urus makanan yang aku makan melalui dapur hotel yang kaya akan cita rasa itu. Sekali lagi aku katakan, Allah itu maha baik, Allah itu amat sayang dengan hamba Nya, bahkan ungkapan sayangnya itu kadang tak ternalar lagi dalam pikiran kita. Alhamdulillah.

Karena ini judulnya adalah pelatihan, alhasil dari pagi sampai sore kami harus berkutat dengan bahan, kertas, presentasi atau tanya jawab. Akhirnya waktu yang luang untuk menikmati indahnya kota Jakarta adalah di malam hari. Dan jadilah kami malam-malam mengitari kota Jakarta, termasuk berkunjung ke tugu Monas, jeng,..jeng...jeng...
Maafkan jika hasil kameranya tak seperti yang diharapkan, maklum anak kuliahan yang kos-kosan jadi hp pun ala kadarnya. Mereka adalah teman NGO ku, teman kampusku juga. Bersama merekalah aku mengitari kota Jakarta di malam hari.
 
Lho, kalian cuma pergi berempat doang? Ahh tentunya tidak. Untuk seseorang seperti kami, yang barus first step di Ibu Kota Negara pasti kebingungan dong ketika melihat kota Jakarta yang gedungnya tinggi-tinggi banget. Huaa... tenang, kami punya guide kok, teman SMA nya Siti yang bekerja di Jakarta. Dan inilah guide kami selama di Jakarta
Laki-laki yah? Tenang. Insya allah mereka laki-laki baik. Mereka mengajak kami berkelana dari sore sampai malam, Hahaha. Mereka pun menceritakan beberapa destinasi wisata di Jakarta. Dan aku sangat antusias mendengar setiap cerita dari dua laki-laki ini, Wah,..mungkin mereka melihat ke”katrok”an ku kali ya, yang begitu norak banget ketika melihat Jakarta, ketika melihat tingginya gedung atau ramainya lalu lintas di Jakarta.

 “Ini Monas Yaak”
Itulah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulutku ketika menyaksikan tugu itu berdiri kokoh dihadapanku. Mungkin dua orang guide kami tersenyum melihat pernyataanku. Hahaha. Yang jelas aku menyaksikan tugu itu hampir selama 10 menit tanpa beralih pandangan. Ya Allah. Tugu yang dari kecil aku impikan, sekarang dengan kuasa Mu aku berdiri di hadapannya. Jangankan mewujudkannya, memimpikan bisa sampai ke hadapan Monas saja aku gak berani, karena bisa sampai ke Monas itu adalah miracle  banget buat kehidupanku. Ahh...mungkin kalau kalian bisa bertemu dan melihat kondisiku akan paham mengapa aku tak sanggup memimpikannya. Hikss..

Aku menginjakkan kaki di Monas itu sudah hampir jam 7 malam waktu itu. Jadi ya gelap banget deh kondisi di sana. Untung saja kami kesana gak malam minggu jadinya gak begitu padat. Kata guide kami, kalau malam minggu ke Monas itu seperti mengunjungi pasar malam. Banyak orang berkumpul di Monas, banyak orang jualan. Aku juga terkejut dengan cerita sang guide. Karena sangat kontras dengan apa yang aku lihat di sana. Aku melihat Monas tak begitu ramai, bahkan kami sangat nyaman untuk berfoto karena begitu banyak spot yang lumayan cantik diabadikan. 

Kalau malam, Monas bercahaya, dan cahayanya berganti-ganti. Kadang warna kuning, hijau, ungu. Jadinya kalau mau foto yang nampak Monasnya harus berbarengan dengan lampu yang menyala ya..kalau gak ya gak bakalan nampak tu Monasnya. Alhasil guide kami yang luar biasa ini mengerahkan segala tenaganya agar kami bisa tercandeed dengan sempurna di depan Monas. Terima kasih sang guide, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian yaah.
Ternyata di pelataran Monas itu banyak badut, waah...akhirnya kami pun mengabadikan foto dengan badut juga. 















































Ini salah satu bentuk mata pencarian masyarakat Jakarta, miris. Mereka sama sekali tak menetapkan berapa biaya yang dibebankan. Mereka hanya menyediakan kotak di depan mereka. Waah...aku benar-benar terkejut dengan kondisi itu, mungkin first time aku melihat hal yang seperti ini. Kami menghabiskan beberapa shoot  dengan badut doraemon dan masha, lalu meninggalkan beberapa uang ribuan kepada keduanya. Gak tahu kenapa aku merasa sedih saja melihat perjuangan masyarakat Jakarta memenuhi kehidupannya.

Dan akhirnya setelah mengitari Monas dengan bermodalkan kedua langkah kaki ini, kami pun merasa lapar (lagi) hahaha. Aku iseng memesan kerak telor yang katanya makanan khas Jakarta. Kebetulan di Monas ada beberapa yang jualan kerak telor. Ahh..mungkin semua orang tahu kerak telor, kecuali aku. Katrok banget sih aku, hehe. Akibatnya aku begitu detail memperhatikan ketika mas-mas itu membuatkan kerak telor spesial untukku. Lalu ketika sudah selesai, aku bersiap menyantapnya, dan jeng...jeng...jeng...
Aku menelannya perlahan.

Oh my God !! aku langsung meneguk aqua lalu berteriak ke arah teman-teman, “kita ke rumah makan Padang yokk” (teteup, kemana-mana rumah makan padang is the best). Ternyata lidahku tak sesuai dengan kerak telor ini, hahaha. Bukan gak enak lo, tapi mungkin kurang cocok saja di lidahku. Maklum, anak kampung ini kan biasa maka ubi sama kangkung saja, hehe. Buat kalian boleh kok mencoba kerak telor, biar ngerasain jadi orang betawi itu gimana, heheh..

Kami pun landing di hotel sekitar jam 11an malam. Ya Allah lama banget, padahal besok pagi jam 8 kami harus pelatihan lagi, harus diskusi lagi, harus presentasi lagi. Ahh...untung tubuhku bersahabat. Aku benar-benar menikmati perjalanan pertamaku ke Monas, dan serasa ingin berteriak “AKU UDAH SAMPAI MONAS”.

Medan, 20 Juli 2017, 15:55
Ps : Ntah kenapa begitu merindukan berpetualang di Jakarta saat malam hari bersama mereka.

Thursday, 13 July 2017

Resensi Novel : Shattered


Pict : Novel Shattered
Sebelumnya, aku ingin memperkenalkan siapa yang akan menjadi objek tulisanku. Novel. Ya, kali ini aku akan menuliskan resensi sebuah novel yang baru aku tamatkan (alhamdulillah).
Judul            : Shattered (Menghancurkan, Dihancurkan)
Penulis          : Teri Terry
Penerbit         : PT Bhuana Ilmu Populer, Kelompok Gramedia.
Halaman         : 501

“Tumben baca novel Uni”, begitu tanggapan beberapa teman kerjaku ketika aku mengeluarkan novel ini dari ransel. Haahaha, memang begitulah kenyataannya. Aku sangat jarang sekali membaca novel, teenlit, apalagi komik. Biasanya buku non fiksi, seperti buku agama, buku matematika, buku pendidikan, buku psikologi sangat menjadi andalanku di sela kesibukan. Tapi tidak untuk kali ini, aku merasa butuh sedikit perubahan bahan bacaan. Terenyuh dengan ucapan seorang teman di facebookku, “jangan seius amat Uni, nanti cepet tua lo (udah tua kali ya), sesekali baca novel buat bahan imajinasi, karena buku non fiksi itu gak bisa menghadirkan sebuah imajinasi”. Finally, aku membeli novel ini.

Kadang butuh beberapa bacaan ringan di sela bacaan “berat” dan syarat makna. Akhirnya novel ini pun aku garap. Awalnya aku pikir ini bacaan ringan, sekedar melepaskan kejenuhan dari rutinitas pekerjaan, ternyata Oooh tidaaak !! aku terjebak. Novel ini benar-benar syarat akan ilmu, novel ini syarat akan emosi. Biasanya beberapa novel akan membuat pembacanya memiliki ekspresi seperti terpingkal, atau tersenyum kecil, pipi merona, bahkan ada yang berurai air mata. Tapi tidak untuk novel ini. Novel ini benar-benar membuat keningku berkerut, otakku bekerja, menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Benar-benar petualangan terbaik untuk para neuron di otakku.

Petualangan? Ya. Novel ini tentang sebuah petualangan. Petualangan seorang gadis di masa depan. Masa depan? Ya. Novel ini bercerita tentang masa depan. Tentang bagaimana kehidupan masyarakat masa depan yang semuanya bergantung dengan komputer. Bahkan manusia “nakal” di masa depan akan diprogram otaknya melalui komputer, sehingga ia akan hadir sebagai pribadi yang lebih baik, lebih tepatnya pribadi yang nantinya akan dimanfaatkan oleh para orang yang akan menggunakannya.

Lucy, Riley, Kyla, Gadis yang menjadi subjek utama dari novel ini, entah sudah berapa kali ia berganti nama, berganti warna rambut, berganti riasan wajah, hanya untuk mengelabui orang-orang yang memiliki niat jahat terhadapnya. Hanya satu hal yang tak pernah berubah darinya yaitu warna bola matanya yang hijau, ia tak mau mengubahnya. Sudah pernah “dihapus” (baca : sudah dicuci otak) oleh pemerintah karena disangka teroris yang akan melaksanakan bom bunuh diri terhadap perdana menteri mereka. Pernah dipalsukan kematiannya sehingga ia terus berganti nama, berganti wajah. Terakhir kali ia tercatat sebagai Riley.

Petualangan Riley di novel ini adalah menemukan siapa dirinya sebenarnya. Ia berpetualang sendirian, meninggalkan zona amannya untuk menemukan ibu kandungnya, ayahnya, kenapa ia bisa “dihapus”, kenapa kematiannya dipalsukan oleh negara. Ya...dan gadis belia ini berhasil menemukannya. Ia memang bertemu dengan ibunya, yang ternyata setelah diselidiki bukanlah ibu kandungnya. Lalu siapa ibu kandungnya? Teka-teki yang membuat Riley berpikir lebih keras. Terus menemukan beberapa fakta tentang siapa dirinya.

Keingintahuannya yang besar itu mengantarkannya kepada sebuah panti asuhan yang mengakomodasi pencucian otak untuk anak-anal (ILEGAL). Mengantarkannya kepada sekelompok pemberontak negara yang berhasil melumpuhkan asrama mahasiswa Oxford. Mengantarkannya untuk bertemu dengan kekasih masa lalunya yang sangat ia cintai dan ternyata bagian dari pemberontak tersebut, bahkan ingin membunuhnya.

Ahh...penuh petualangan sekali. Perjuangan Riley, Mac, Aiden yang terus berusaha membuktikan kepada pemerintah tentang keberadaan pemberontak ini. Sampai akhirnya kebenaran itu terungkap perlahan. Terungkap oleh seorang Bapak tua yang gagah berani, dan tidaaaak, ternyata bola matanya berwarna sama dengan Riley. Perdana Menteri.

Ternyata. Riley adalah cucu dari perdana menteri. Dimana ibunya, anak perdana menteri disekap oleh para pemberontak selama bertahun-tahun sampai akhirnya meninggal. Sedikit perasaan lega bagi Riley akhirnya ia menemukan siapa dirinya sebenarnya, untuk apa ia dikirim sebagai pembunuh yang memegang  bom bunuh diri, kenapa chip di otaknya tidak ada yang bisa memecahkan kodenya. Ternyata dirinya memang sudah diprogram sedari kecil untuk membunuh keluarganya sendiri, apakah seunik itu? Sehingga hidupnya telah dibayang-bayangi masa depan padahal masih anak kecil yang ingin bermain.

“Hope”, itulah nama yang diberikan ibumu. Begitulah sipir penjara itu mengatakannya. Ia memang dilahirkan di penjara bawah tanah milik pemberontak. Ahh..nama yang  bagus.

Lembar per lembarnya adalah petualangan kecil, sehingga semakin dibalik akan meningkatkan adrenalinmu, menambah rasa penasaran. Jadi kau mungkin akan berusaha untuk menamatkannya lebih dari usaha yang aku lakukan (heheh). Pilihan katanya bagus, memang benar-benar menggambarkan suasana yang aku bayangkan. Mungkin sangat dianjurkan membaca buku pertama dan keduanya, karena memang saling berhubungan. Dan kesalahanku, aku tidak membacanya. Ya.. wamalupun begitu aku cukup memahami beberapa istilah yang dimunculkan seperti TAP, DOH, Levo, atau lainnya. Akan tetapi lebih seru jika kita lebih paham dengan beberapa istilah penting di atas.

Beneran deeeh, ini tuh refreshing yang oke banget. Oke banget buat kamu yang lagi menghela nafas dari rutinitas pekerjaan sekolah, pekerjaan kampus, ataupun pekerjaan kantor. Memang ceritanya seperti unlogic , tapi lihat perjuangannya, lihat petualangannya, lihat melankolisnya.

Silakan ditemukan bukunya, dan selamat membaca !!

Medan, 13 Juli 2017, 14.10
Standby di kos aja, waktu produktif banget buat nulis.

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...