Saturday, 25 May 2019

Pertolongan Allah

Universitas Sumatera Utara


Apakah kamu pernah merasakan peliknya hidup?
Atau pernah bertemu dengan masalah yang serasa tak ada jalan keluar? Semuanya seakan rumit dan tak terselesaikan. Apa yang kamu lakukan? Tentu saja kamu akan begitu sibuk mendayagunakan segala upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kamu akan wara-wiri meminta bantuan kepada manusia. Kamu berharap mereka akan dapat membantumu menyelesaikan persoalan yang teramat rumit ini.

Apakah cara itu berhasil? Ya. Terkadang cara ini begitu ampuh menyelesaikan kesusahan hidup. Namun jika tidak berhasil, gimana dong? Seolah dunia ini berantakan, seolah diri ini tengah bertransformasi menjadi manusia paling bodoh sedunia. Lalu kemudian hidup pun dirasa semakin tak berguna. Seolah semuanya benar-benar buntu, tiada penyelamat, tiada pertolongan.

Ahh, benarkah seperti itu? Sepertinya  kamu lupa. Ada satu pertolongan luar biasa ketika sedang merasakan peliknya kehidupan yang tengah dijalani. Pertolongan itu bukan sekadar pertolongan. Ia hadir layaknya sebuah keajaiban, datang dengan sebuah skenario yang tidak di duga-duga. Lalu dari siapakah pertolongan luar biasa itu? Apakah dari orang tua ? pasangan hidup? Keluarga besar? Sahabat terdekat? BUKAN. Pertolongan itu sama sekali tidak berasal dari mereka.

“Jika Allah sudha menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal”
(Ali Imrah : 160)

Nah, sudah jelas kan sekarang? Siapa dzat yang memiliki pertolongan luar biasa itu? Siapa dzat yang mampu menghadirkan sebuah keajaiban di tengah riuhnya cobaan yang datang? Siapa dzat yang dengan begitu sempurna menyusun sebuah skenario penyelamatan untuk kita? ALLAH.

Pertolongan dari Allah adalah segalanya. Bukankah firman Allah di atas sudah sangat jelas? Jika Allah sudah menurunkan pertolongannya kepada kita, maka tiada sesiapapun yang mampu menghalanginya. Dan hebatnya lagi ketika Allah benar-benar memutuskan untuk menolong hamba Nya, maka ia akan dengan begitu sempurna menyelesaikan setiap persoalan yang sedang mendera hamba Nya itu. Artinya, jika kita memiliki ribuan bahkan jutaan masalah dan Allah benar-benar telah membantu kita, maka ribuan dan jutaan masalah itu akan hangus dan terbang seketika.

Hebat bukan?
Oh tentu saja. Bukan kita yang hebat, tapi pertolongan Allah yang luar biasa hebat. Mungkin kita telah menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, materi bahkan segala yang kita punya untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi bagi Allah, cukup berkata “Kun Fa Yakun”, maka seketika masalah yang terasa berat itu hilang dan musnah. Allahu Akbar !! sekali lagi, ini semua karena pertolongan yang Allah berikan.

Lalu masalahnya dimana? Kenapa kita masih sering berjibaku, stress, kecewa dengan hadirnya berbagai masalah dalam hidup kita?. Apakah kita sudah benar-benar meminta Allah agar memberikan pertolongan Nya kepada kita? Jangan-jangan selama ini kita lupa meminta pertolongan Allah, atau bahkan cenderung tidak percaya dengan pertolongan Allah. Sehingga dengan angkuhnya kita terus berharap kepada pertolongan manusia. Ahh.

Jika memang kita percaya dengan pertolongan Allah, apakah kita sudah benar-benar menjadi hamba yang layak ditolong oleh Allah? Jangan-jangan selama ini kita masih menjadi hamba Nya yang penuh dosa dan maksiat, lalu kenapa ketika ada masalah tanpa rasa bersalah kita mengemis-ngemis pertolongan Allah. Gak malu kah sama Allah? Ahh, mungkin ini salah satu alasannya kenapa Allah tidak juga menurunkan pertolongannya untuk kita.

Lalu, tunggu apalagi!
Bersegeralah mencari dan mendapatkan pertolongan Allah. Sudahlah, tidakkah capek bersandar kepada pertolongan manusia yang jelas-jelas makhluk lemah? Bangun keyakinan dalam diri bahwa Allah mampu menolong hamba Nya, bahwa pertolongan Allah adalah jalan keluar dari sepelik apapun masalah. Lalu jadikan diri ini sebagai hamba yang layak mendapatkan pertolongan Allah tersebut. Dekatkan diri kepada Allah, ikuti semua perintah Nya dan jauhi segala larangan Nya. Insya allah pertolongan Allah itu akan semakin dekat. Percaya aja deh!!






Medan, 26 Mei 2019, 08 : 45
Ungkapan dari hati yang tengah rapuh dalam menunggu pertolongan Allah. Bersabarlah wahai hati, pertolongan Allah itu semakin dekat, semakin dekat. Tidakkah kau merasakannya?

Wednesday, 30 January 2019

Lemah Yang Menguatkan




Banyak orang yang mengeluhkan berbagai hal dalam hidupnya. Dari hal yang wajar dan pantas untuk dikeluhkan, sampai dengan hal yang remeh banget. Seolah hidup itu harusnya berjalan sesuai dengan yang ia mau, jika ada kendala sedikit saja maka ribuan keluhan akan keluar dari mulutnya. Aiih.

Mungkin orang-orang seperti ini lupa bahwa ada orang lain yang hidupnya jauh lebih tidak sempurna dari kehidupan yang ia miliki. Ada orang yang bahkan hidup dalam kekurangan, kepayahan dan kezholiman lingkungannya. Ada orang yang akhirnya mencoba berdamai dengan takdir yang Tuhan gariskan. Akan tetapi orang-orang ini berbeda. Mereka tidak sibuk mengeluh, tidak sibuk mengutuki ini itu, tidak sibuk menyalahkan dia dan dia. Mereka malah disibukkan untuk terus menjalani kehidupannya, yang menurut sebagian orang sangat tidak sempurna.

Sungguh sebuah kesenjangan bukan? Orang yang hidup penuh kekurangan, kelemahan, hal yang memayahkan malah menjadi pribadi yang bahagia, penuh syukur, kuat dan hebat. Lalu, mereka yang hidupnya bergelimang kesuksesan, finansial, malah menjadi pribadi yang suka mengeluh manakala ia mendapat cobaan kecil saja. Memang aneh. Tapi begitulah hidup, ada banyak hal-hal aneh yang akan terus kita jumpai.

Otak kita seringkali berpikir bahwa setiap cobaan yang Tuhan berikan adalah bentuk kezholiman Nya? Atau setiap kelemahan yang Ia takdirkan adalah nasib na’as yang harus kita terima? Tentu saja tidak. Bukankah Tuhan itu Maha Penyangang? Tentu saja Ia tidak akan tega memperlakukan makhluk terbaik Nya dengan cara-cara yang tidak pantas. Lalu apa cerita Tuhan memberikan hal-hal yang menurut kita buruk?

Tujuan Tuhan adalah untuk menguatkan. Pernah gak sih menyadari bahwa setiap kelemahan yang Tuhan gariskan itu sebenarnya sedang menguatkan kita? Pernah gak tahu bahwa setiap cobaan itu membuat kita tahan banting dengan setiap cobaan lainnya? Ternyata begitu. Tuhan itu tidak akan pernah sia-sia memberikan apapun kepada hamba Nya, termasuklah itu cobaan atau kesenangan. Selalu ada hikmah dari semua hal yang Tuhan berikan.

Sebuah kondisi di foto ini pernah aku temukan di dunia nyata. Dari mereka aku menemukan bahwa ternyata untuk menjadi kuat tidak harus memiliki hal-hal yang luar biasa atau fantastis. Bahkan kelemahan, kepayahan, kesusahan sesungguhnya bisa menjadi sesuatu hal yang bisa menguatkan. Mereka saja contohnya. Para generasi muda ini sama sekali tidak memerlukan AC atau pendingin ruangan ketika belajar. Padahal di tempat lain sana ada siswa yang mengeluh ketika mati lampu di kelas sehingga AC mereka menjadi tidak berfungsi.

Mereka juga tidak memerlukan ruangan belajar yang bagus dan instagramable. Cukup meja belajar dan papan tulis, mereka menyerap berbagai ilmu dari sang guru. Sayangnya, ada siswa di luar sana yang menjadikan fasilitas, kualitas gedung dan ruangan belajar sebagai salah satu bagian paling penting ketika memilih sebuah sekolah.
Generasi muda nan bersahaja ini juga tidak memerlukan pakaian seragam warna warni ala film Korea. Bagi mereka cukuplah pakaian yang sopan, menutup aurat dan nyaman dikenakan. Toh apapun seragamnya, ilmu itu akan diperoleh kok. Karena ilmu itu tidak dipengaruhi oleh warna seragam, begitu seloroh mereka. Sangat berbeda dengan sebagian generasi muda lainnya yang malah saling melombakan seragam sekolahnya. Mereka bikin baju seragam event ini itu dengan biaya yang cukup fantastis.

Dan satu lagi, generasi muda ini tidak peduli dengan sesulit apapun pelajaran matematika, mereka akan tetap belajar. Ahhh, paling suka deh dengan testimony mereka yang ini. Aku percaya, bahwa kalimat ini bukan hanya tertuju kepada matematika saja (yang katanya terkenal sulit), akan tetapi juga untuk mata pelajaran yang lain. Mereka yang hidup dalam kekurangan ini sama sekali tidak mengeluhkan sulitnya mata pelajaran atau panasnya ruangan belajar. Mereka terus belajar dan menikmati kondisi yang tengah mereka jalani.

Luar biasa, batinku. Ternyata bukan fasilitas lengkap yang membuat kita hebat. Bukan kemudahan-kemudahan yang menjadikan kita sosok luar biasa dan bermental pemberani. Dari mereka aku belajar bahwa kekurangan, hambatan, ancaman dan tantangan ternyata menyimpan sesuatu yang istimewa. Mereka mampu membuat jiwa yang rapuh menjadi lebih kuat, mampu menyulap jiwa yang kerdil menjadi lebih bijaksana. Dan aku teringat dengan sebuah quotes; bahwa angin dan gelombang itu hanya berada di dekat navigator yang handal.

Jadi, jika sekarang kamu tengah berada di sebuah angin badai, nikmati saja prosesnya. Semua kekurangan yang melekat, hambatan yang terus bermain-main di depan mata atau ancaman yang tiada kunjung berakhir, nikmati saja. Toh juga mengeluh tidak akan membuat semuanya menjadi baik-baikk saja. Jangan-jangan kamu adalah navigator atau pelaut yang handal, makanya Allah berikan gelombang dan angin badai di kapal yang tengah kamu kemudikan.

Coba deh tarik napas pelan-pelan, lalu katakan kepada dirimu sendiri;
“Aku baik-baik saja kok”






Medan, 6 November 2018 14 : 50 WIB
Ditulis ketika sedang merasa di dalam sebuah badai dan gelombang yang dahsyat. Sabarlah wahai diri, Tuhan hanya sedang mengetes kemampuan navigasimu.





Saturday, 6 October 2018

Tukang Drama




Memiliki saudara kandung yang semuanya perempuan itu adalah sesuatu hal yang menakjubkan. Kebayang dong ya beberapa perempuan yang rentang usianya tidak begitu jauh kalau udah ngumpul? Semuanya deh jadi bahan omongan. Semuanya juga jadi hal-hal yang dipermasalahakan. Waktu satu jam, dua jam bahkan berjam-jam sekalipun tidak akan cukup menampung semua cerita mereka. Aah, dasar perempuan.

Di keluarga besar kami, hanya keluargaku yang paling banyak cantiknya. Gimana enggak coba, aku adalah anak pertama dengan dua adik. Dan kedua adikku itu adalah perempuan. Itu artinya kami adalah tiga bersaudara yang isinya perempuan semua. Halaah. Alhasil papa adalah  the one and only the most handsome one in my family. Hahaha. Sebenarnya aku punya abang. Tetapi beliau meninggal dunia ketika masih kecil. Dan Allah ganti abang dengan dua adik perempuanku yang lucu dan menyebalkan. Hahaha.

Banyak yang bilang memiliki saudara perempuan itu menyenangkan. Katanya semuanya akan baik-baik saja, terkondisi dan teratur. Aah, kalian yakin? Terus juga katanya saudara perempuan itu jarang berantem, saling sabar dan memahami satu sama lain. Eeh, siapa yang bilang nih? Katanya lagi kalau saudara perempuan itu gak pernah diem-dieman. Mereka akan dengan legowo memaafkan kesalahan saudaranya. Aduuh, please deh. Kok pada hoax semua sih yang bilang itu?

Semua hal yang mereka bilang itu sama sekali tidak aku temukan dalam persaudaraan ala perempuan ini. Bahkan bagiku mereka adalah tukang drama terbaik. Persaudaraan yang timbul antara kami layaknya sebuah drama yang drama banget, sesuatu deh pokoknya. Yaaa terkadang  drama itu menjengkelkan banget tapi geli kalau diingat-ingat. Di waktu lain drama itu bisa banget bikin kesal maksimal namun di saat yang sama malah membuat rindu yang teramat sangat.

Nah, drama persaudaraan kami juga gak kalah hebat dari sinetron atau film India lho ya. Sebuah drama yang natural banget, gak dibuat-buat, tapi bikin keseel dan rindu. Lihat saja, kami selalu berebutan mau pakai jilbab warna ini lah, warna itulah. Entahlah, jilbab yang dipakai saudara itu kok kelihatannya selalu lebih cantik, sehingga hasrat untuk merebut itu kuat banget. Hahaha. Belum lagi kalau kami pakai baju senada, huaaa, bakal rebutan jilbab selama beberapa menit tuh. Akhirnya yang berbesar hati akan mengalah dengan mengganti baju agar memakai jilbab dengan warna lain. Drama banget kan ya? Hahaha.

Bukan hanya jilbab, kami juga suka berebut setiap mau pakai motor. Secara, motor di rumah itu cuma satu. Alhasil ya harus berebut setiap mau pakai motor. Masing-masing kamipun berdalih bahwa urusan kami lebih penting dari yang lain sehingga lebih layak dan pantas menggunakan motor kala itu. Halaah. Hingga akhirnya papa dengan bijaksana membuat jadwal kami menggunakan sepeda motor. Lebay kan? Ya iyalah, wong kami drama banget kok. Hahaha.

Belum lagi kalau si adek ngerusak benda kesayangan kakak atau sebaliknya. Waah, bakal perang dingin beberapa hari itu. Gak sapa-sapaan lah, bahkan hijrah kamar tidur juga. Hahaha. Lalu akhirnya mencari sekutu dengan saudara yang lain, bunda atau papa. Tapi percaya deh, perang dingin  ini gak akan berlangsung lama. Soalnya kalau gak ngobrol sehari sama mereka itu kok ya rasanya beda.

Parahnya kalau ada the last one chocolate di atas meja. Semua dari kami merasa bahwa kamilah pemilik cokelat itu. Kebayang dong kan sesengit apa persaingan yang akan terjadi. Hingga bunda dengan kasih sayangnya membagi tiga cokelat itu kepada masing-masing kami. Nyebelin banget sih, karena harusnya bisa dapat porsi yang lebih besar. Hahaha. Bahkan remote tivi pun bukan masalah yang dianggap sepele. Kami harus benar-benar berkuasa dengan remote itu agar bisa menonton televisi dengan damai dan sejahtera.

Ya, penuh drama banget kan? Begitulah kami. Saudara yang isinya perempuan semua. Aku gak tahu dengan orang lain yang saudaranya juga perempuan semua. Mungkin mereka lebih bijaksana ketimbang kami yang benar-benar tukang drama ini. Bahkan, walau sekarang kami udah jauhan satu sama lain. Sekarang sudah sibuk dengan kuliah dan rutinitas masing-masing. Sekarang cuma bisa ketemu pas lebaran Idhul Fitri doang. Namun yaa, tetap aja drama itu terjadi.

Kalau dulu drmanya live, sekarang via media sosial atau alat komunikasi. Halaah. Jadi jangan heran deh kalau ada diantara kami yang tiba-tiba nelepon sambil nangis-nangis, katanya rindu. Aiih. Terus ada yang nge ping banyak-banyak, minta diisiin pulsa. Urgent banget katanya. Ada juga yang sibuk chat di line  karena habis kena marah pak bos. Aah. Drama banget kan ya?

Lebay? Oh tentu saja. Kami adalah tiga saudara yang penuh dengan ke-lebay-an. Kami adalah anak Papa dan Bunda yang paling hobi berdrama setiap harinya. Ya, kata papa, kami bertiga itu tukang drama terbaik. Oh ya?? Jadi kapan kita ikutan casting sinetron bawang merah dan bawang Bombay?  Hahaha.










Payakumbuh, 31 Agustus 2018 09:40 WIB
Ini adalah hasil selfie terbaik kami hari itu ketika Idhul Fitri 2016. Foto dengan formasi ini ya cuma bisa dijumpai ketika Idhul Fitri doang. Hahaha.

Thursday, 27 September 2018

Buka Hati dan Pikiran



Ada sebuah jendela di sudut kamar. Jendela yang dihiasi oleh gorden berwarna putih. Gorden itu bisa ditarik menutup dan membuka. Ia bisa menghalangi atau membiarkan cahaya masuk ke dalam kamar. Kapan gorden itu ditutup? Tentunya ketika semburat cahaya itu ingin dihalangi memasuki kamar. Kapan gorden itu dibuka? ketika penghuninya menginginkan hangatnya sinar mentari menyapa setiap sudut ruangan.

Hati dan pikiran juga sama layaknya kamar yang dihiasi gorden. Selalu ada ‘gorden’ yang membatasi hati dan pikiran manusia terhadap dunia luar. Dan manusia sepenuhhnya punya hak veto untuk membuka ataupun menutup gorden tersebut. Melakukan kedua hal itu sesuka hatinya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan.

Walau mengatur gorden adalah hak veto manusia, tetap seharusnya manusia tetap bijak menggunakan hak veto tersebut. Jangan asal membuka dan menutup gorden. Diperlukan kebijaksanaan dalam melakukannya. Agar cahaya itu  benar-benar masuk ke dalam hati dan pikiran ketika memang dibutuhkan. Jangan sampai cahaya itu malah merusak hati dan pikiran yang telah tertata rapi.

Manusia memang perlu membuka hati dan pikirannya. Tetapi disatu sisi, juga perlu menutup keduanya. Masalahnya adalah kapan? Kapan harusnya manusia membuka hati dan pikirannya serta kapan pula harus menutup hati dan pikirannya?

Dikala sinar kebaikan menerangi kehidupanmu, bahkan menyilaukan matamu. Maka inilah saatnya membuka hati dan pikiranmu. Ambil seberkas sinar kebaikan itu sebanyak-banyaknya. Serap kebaikan itu sekuat yang kau mampu. Nikmati hangatnya cahaya kebaikan itu. Lalu tempah hati dan latih pikiranmu untuk ikut menjadi bagian dari semburat cahaya kebaikan. Hingga akhirnya kau pun ikut memancarkan sinar kebaikan kepada setiap orang ditemui. Saat inilah seharusnya gorden itu kau buka. Lalu membiarkan cahaya itu masuk dan menghiasi relung hati dan pikiranmu. Inilah saatnya kau buka hati dan pikiranmu seluas-luasnya.

Tetapi ketika keburukan sedang menghampiri. Petir dan guruh saling bersahut-sahutan menyambar. Sungguh, ada baiknya kau perlu menutup gorden itu dengan sempurna. Agar tetesan air tidak masuk ke dalam kamarmu. Agar matamu tidak silau menghadapi kilat yang tengah menghiasi langit. Begitu juga dengan hati dan pikiranmu. Ketika keburukan sedang menghampiri, kemaksiatan meraja lela di sekitarmu, ada kezholiman yang tengah menghampiri duniamu. Mungkin ada baiknya kau menutup hatimu.

Menutup hati bukan berarti tidak peduli, acuh atau malah tidak memikirkan sama sekali. Menutup hati dan pikiran adalah bentuk menjaga keduanya agar tak ternoda dengan keburukan dan kezholiman. Menjaga agar hati dan pikiran selalu tertata rapi dalam ruangan yang bernunsa positif. Menjaga agar keduanya selalu putih, bersih dan damai serta terlepas dari hal-hal yang membuat kelam dan nista.

Menutup hati dan pikiran akan menjadi penting ketika kita ingin membentengi keduanya dari segala bentuk kezholiman. Menghalangi sinar keburukan yang bisa berakibat buruk bagi keduanya. Membentengi sesuatu yang nantinya akan merusak hati dan pikiran.

Sudah seyogyanya kita mampu dan bijaksana (tentunya) untuk membuka dan menutup hati dan pikiran kita. Jangan sampai keliru dalam melakukanya. Karena ketika hati dan pikiran dibuka pada saat yang tidak tepat, percayalah nilai keburukan akan sangat gampang mempengaruhinya. Begitu juga sebaliknya, ketika seberkas sinar kebaikan datang namun kita masih terus menutup hati dan pikiran, maka cahaya itu tiada berguna. Sekuat apapun ia mengajak diri untuk mengikuti kebaikan tersebut, ya tetap tidak akan mempan.

Nah, mulai sekarang belajarlah untuk membuka dan menutup hati serta pikiranmu dengan benar-benar tepat. Percayalah, kamu akan merasakan efek yang luar biasa. Dan tunggu saja, akan datang keajaiban dalam hidupmu.








Payakumbuh, 20 Agustus 2018, 17 : 25 WIB
Foto itu adalah kiriman Kak Afifah ketika menginap di sebuah hotel di Kota Bandung. Kata beliau sih hotelnya lumayan recommended.

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...