Thursday, 8 June 2017

Ya Allah, Request Dong !


Pict : me, location : gundaling hills, North Sumatera

Siapa yang tidak mau ?
Siapa yang menolak ?
Siapa yang menolak harus terlahir dari keluarga kaya yang segala kebutuhannya, bahkan keiginannya terpenuhi. Siapa yang tidak mau memiliki orang tua yang berpendidikan, cerdas, bijak serta mengikuti zaman. Tak akan ada yang bermasalah jika terlahir dengan kondisi fisik yang bagus, bahkan memiliki paras rupawan, kulit putih, tinggi semampai. Siapa yang tidak menginginkan lahir dari rahim seorang ibu yang paham agama, kemudian dididik oleh ayah yang sangat paham batas larangan halal dan haram. Dan merupakan impian bahwa kita terlahir dari keluarga bangsawan, terlahir menjadi salah satu keturunan Raja Salman, atau Ratu Inggris, wahh, speechless deh.
Adakah yang bermasalah dengan itu semua? tentunya  TIDAK. Bahkan banyak di antara kita, eeh...hampir semua manusia begitu menginginkan semua hal itu. Menginginkan ia akan terlahir dari keluarga kaya, harmonis, memiliki orang tua yang sukses dunia dan paham akan akhirat serta memiliki paras yang rupawan. Bahkan sangat berangan-angan bisa menjadi salah satu bagian keluarga Raja Salman (ehh...). Manusia memang begitu, jika ia bisa memiliki 2 hal kenapa harus cukup dengan 1 hal, jika ia bisa memiliki semesta, kenapa harus berbangga dengan dunia yang dimilikinu. Ahh... 
 
Hanya saja, siapa yang menjamin kita bisa memiliki semua hal di atas?. Siapa yang menjamin bahwa kita akan terlahir dari keluarga kaya?, siapa yang bisa memastikan bahwa kita akan memiliki orang tua yang pintar, sukses serta paham agama?, dan tentunya tidak ada yang benar-benar menjamin bahwa kita akan memiliki wajah yang rupawan kelak. Lihatlah dirimu?, apakah engkau memiliki semuanya ?. Alhamdulillah jika engkau memiliki semua hal yang hampir diimpikan oleh seluruh manusia. Tapi jika tidak, engkau hanya memiliki 2 hal saja, tidak, hanya 1 hal saja, dan tidaaaak, bahkan kesemua itu tidak dimiliki. Lalu engkau berteriak-teriak ke langit mengatakan dengan lantangnya bahwa ALLAH itu tidak adil. Engkau mulai membanding-bandingkan dirimu dengan mereka, yang menurutmu mendapatkan keadilan ALLAH.   
     
Ketidak terimaan itu akhirnya menjadi penolakan tajam terhadap takdir Allah. Banyak manusia yang tidak mau mengakui keluarganya karena malu dengan status keluarga. Tidak sedikit pula orang yang merombak total wajahnya agar “terlihat” cantik, dan mungkin melakukan hal (gila) lainnya untuk mendapatkan beberapa predikat yang hanya dinilai di mata manusia. Picik sekali kita bukan?. Kita bahkan sangat mempermasalahkan hal itu, berjuang keras mewujudkannya sehingga melupakan hal utama yang jauh lebih penting dari hal tersebut. 

Ingat, ALLAH sama sekali tidak akan meminta pertanggungjawaban atas hal yang merupakan takdir Nya yang tak kuasa kita ubah. ALLAH tak akan meminta  tanggung jawab atas bentuk rupa yang kau miliki, ALLAH juga tidak akan menghinakan engkau ketika hanya terlahir dari rahim seorang perempuan yang dipandang hina di dunia. Lalu ? kenapa kebanyakan kita malah begitu disibukkan dengan hal ini?(berpikirlah !). Sudah cukup rasanya menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan hal yang di akhirat kelak juga tidak akan ditanya oleh Allah. Bukan lagi waktunya untuk menceritakan permasalahan yang akan selesai seiiring bergeraknya tubuh kita ke liang kubur.

Hanya karena memiliki keluarga yang tidak paham agama, menjadikanmu juga menomorduakan urusan agama. Hanya karena berparas tak rupawan, engkau benar-benar tak memperdulikan kesehatan. Hanya karena tak terlahir dari orang tua berpendidikan engkau menjadi malas belajar dan bekerja. BUKAN !!. Bukan itu yang ALLAH mau. ALLAH memang tak akan mempermasalahkan keluargamu, bentuk fisikmu, kepintaran orang tuamu, tapi yang ALLAH minta adalah bagaimana agar lingkunganmu bisa menjadikamu menjadi sebaik-baik hamba Nya. Bagaiamana agar manusia bisa menyikapi lingkungan agar terus berproses menjadi pengikut Rasul Nya. 

ALLAH akan melihat usahamu untuk terus istiqomah dalam agamamu, meskipun memiliki orang tua yang bahkan tak pandai membaca Al Quran. ALLAH akan memujimu yang giat belajar agar memperoleh beasiswa sementara orang tua tidak tamat SD. Dan ALLAH akan menyebut-nyebut dirimu yang begitu apik menutup aurat, menjaga pandangan walaupun hanya memiliki wajah yang menurut mereka alakadarnya. 

Lihat, sudah tahu apa yang ALLAH inginkan? Masih mau minta yang aneh-aneh sama ALLAH? Masih mau berkhayal yang macam-macam jika aku menjadi ...., jika aku menjadi....?. tak ada yang salah kok dengan lingkungan kita, hanya saja cara kita menyikapinya saja yang agak keliru. Jika di sekitar kita adalah lingkungan yang bagus, bersyukurlah, jadikan itu sebagai jembatan untuk terus berproses menjadi baik. Jika di sekitar adalah lingkungan yang kurang baik, bersabarlah, teruslah bersinar di antara ketidakbaikan itu. Jangan-jangan engkau adalah orang yang ALLAH kirim untuk memperbaiknya kan?.  

Jangan request  yang aneh-aneh lagi yaah..
Cukup minta ALLAH karuniakan kebaikan dan keberkahan dalam hidup.
Cukup minta ALLAH karuniakan keimanan yang terus naik ke arah Nya
Cukup minta ALLAH berikan rasa cinta Nya kepada kita.
Dan...
Cukup minta sama ALLAH saja !!

Note :
Engkau pernah merasa lingkunganmu begitu menyesakkan? Pernah merasa bahwa di sekitar mu sedang terjadi sesuatu?. Ya...itu yang sedang aku rasakan
--------------------------

Sunday, 5 February 2017

Turun Naik Angkot


 
Pict : Jalan Raya di Kota Medan


Karena saya adalah seorang angkoters sejati, hehe, maka topik angkot akan menjadi sesuatu yang sangat enak untuk dibicarakan. Kita pernah membahas tentang waktu yang dibutuhkan untuk menunggu angkot itu datang. Tentang bagaimana kita menyikapi angkot yang datang, baik sebentar, ataupun membutuhkan waktu yang lama.

Banyak yang tidak sabar ketika menunggu kedatangan angkot. Akibatnya, ia memilih jalan lain yang menurutnya lebih cepat mengantarnya ke tujuan. Kami para angkoters menyebutnya “nyambung angkot”, hehehe. Maksudnya adalah menaiki angkot lain ke arah tertentu dan kemudian melanjutkan dengan angkot lainnya, begitulah seterusnya sampai ia sampai di tujuannya. Waah...kebayang dong turun naik angkot itu rasanya gimana kan, dan terkadang nyambung angkot itu gak cukup dua kali, bahkan ada yang lebih. Masya Allah !!

Apakah kita sampai ke tujuan kita ? Yaa. Lalu apa bedanya jika kita masih setia menunggu angkot yang “satu tujuan” dengan kita ?, rasanya daripada membuang waktu, mending cara “nyambung angkot” ini kita lakukan. Ahh...ternyata memang tidak sama, tidak sama dari energi yang akan kita keluarkan setiap proses turun naik angkot, tidak sama ketika harus beradaptasi dengan kondisi angkot yang baru dinaiki, dan yang jelas akan memakan biaya yang lebih mahal. Waah...lebih banyak hal negatifnya ya ?
Begitu juga “nyambung angkot” dalam masa penantian si “dia”. Mereka menyebutnya dengan istilah Pacaran. Bertemu dengan pasangan yang sepertinya idaman, menjalin hubungan, dan kemudian mengakhiri hubungannya tanpa status yang jelas. Ahh... pembenaran yang terjadi dalam pikiran mereka adalah pacaran adalah salah satu cara untuk menyeleksi calon yang benar-benar pantas mendampingi sisa hidup. Karena pacaran adalah ajang memilih calon suami atau calon istri yang terbaik, alasan klise mereka.

“aku belajar mengenali sosok lawan jenis ketika pacaran jadi gak gamang lagi ketika sudah menikah”
Bagaimana kalau dengan pacar yang sekarang gak berjodoh ?”
“Ya...kadang kita harus bertemu dengan orang yang tidak tepat sebelum bertemu dengan orang yang tepat”

Jawaban yang rasional banget menurut mereka. Ya..mungkin mereka sedang turun naik angkot menuju ke tempat tujuannya. Lebih capek bukan ? dan tentunya membutuhkan biaya cukup banyak. Dan yang lebih naasnya, kadang tanpa kita sadari angkot itu telah melaju kencang ke arah yang berlawanan dengan tujuan kita. Nah lo...apa yang bisa kita lakukan jika kita sudah berada jauh dari tujuan kita ? Ayooo...buat kamu yang lagi turun naik angkot sekarang, yuuk perbaiki jalan hidupmu.

Karena pacaran tak akan membuat jodohmu lebih dekat, dan jomblo juga tak akan membuat jodohmu menjadi lebih jauh. Tugas kita sekarang adalah menjadi sebaik-baik hamba Nya dan sebaik-baik umat Rasul Nya. Tak mungkin Allah tidak akan memberikan yang terbaik kepada kita. Sedangkan mereka saja yang tak pernah menyembah Nya, tak pernah menyebut asma Nya, Allah masih memberikan kelonggaran oksigen, kondisi fisik, dan lainnya. Dan tentunya Allah akan berikan kenikmatan yang lebih untuk kita, hamba Nya yang terus belajar taat kepada Nya.

Jangan hanya sekadar agar bisa menikah, agar bisa punya gandengan, agar bisa jawab pertanyaan orang, atau hanya ikut-ikutan zaman. Menikah itu niatnya murni untuk  ibadah kepada Rabb mu. Karena menikah itu sendiri adalah ibadah, maka jaga keseluruhan prosesnya. Jangan sampai satu pun proses menuju pernikahan kita nodai dengan kesalahan. Jika semua kesucian proses ibadahnya terjaga, maka insya Allah, berkah Allah tak akan pernah henti-henti mengalir untuk pernikahan tersebut, sebelumnya, setelahnya, bahkan selama-lamanya, Amin.
Karena tugas kita bukan mencari tahu siapa jodoh kita, bukan mencari tahu kapan kita akan bertemu, dan kapan kita akan mengucapkan janji suci. Percayalah, Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban karena jodoh kita lama, karena sampai detik ini belum menikah. Tapi Allah akan melihat pertanggungjawaban dari perbuatan yang kita lakukan sampai kita dipertemukan dengan jodoh.
Yuk menjadi sebaik-baik hamba  Nya !!
===========================================================================
Sabarlah menunggu, janji Allah kan pasti
Sabarlah menanti, usahlah ragu, kekasih kan datang sesuai dengan iman di hati
(Maidany—Menunggu di Sayup Rindu)

Wednesday, 18 January 2017

Jodoh dan Angkot



Pict : Angkot di Kota Medan

Angkutan Umum merupakan salah satu sarana transportasi yang diminati oleh masyarakat. Trayeknya yang beragam, biaya sewa yang terjangkau serta keberadaannya yang hampir menelurusi jalan kecil, membuat angkutan umum menjadi primadona bagi masyarakat, terutama angkot.
Di Kota Medan khususnya, sahabat akan menemukan berbagai jenis angkot di sepanjang jalan raya. Kami membedakan angkot berdasarkan nomor dan warnanya. Aku baru menemukan angkot bernomor 135 merupakan angkot dengan nomor terbesar, belum termasuk beberapa angkot bernomor sama dengan warna yang berbeda. Wahh...sangat banyak sekali kan. Warna yang berbeda, nomor yang berbeda menandakan bahwa tujuan angkot itu juga berbeda.
Menunggu angkot merupakan hal yang sangat upredictable  banget. Tak bisa diprediksikan kapan angkot kita akan datang. Adakalanya hanya hitungan detik kita mendapatkannya, dan adakalanya kita butuh hitungan jam menunggu kedatangannya. Walau membutuhkan waktu yang lama kita tetap setia bukan menunggu nya ? walau kadang mulut penuh umpatan dan gerutu, angkot tersebut akan tetap ditunggu. Kenapa ? kenapa tidak naik angkot lain saja? tentu para sahabat akan menjawab tegas KARENA TUJUANNYA TIDAK SAMA. Yapp...tepat, itu poinnya. Kita tidak bisa menaiki angkot lainnya karena tujuan kita hanya sama dengan angkot yang sedang kita tunggu sekarang. Kalau memaksa naik angkot lain, tentunya kita akan tersesat, kita akan berbeda dengan tujuan awal. Nah Lho..
Menunggu jodoh layaknya menunggu angkot. Tak ada satupun orang yang bisa memprediksikan kapan dirinya akan bertemu pasangannya. Ada yang cepat, hitungan hari berkenalan dengan seseorang, beberapa minggu kemudian mereka sudah mengabadikan cinta dalam bingkai pernikahan, cerita seperti inilah yang sangat diimpi-impikan oleh kebanyakan manusia, bertemu dengan jodoh mereka “tepat waktu”. Akan tetapi juga ada orang yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukannya. Di saat usia tak lagi ideal lagi untuk menikah (menurut “mereka”), sang Maha Segala mempertemukannya dengan seseorang yang menyempurnakan separuh agamanya.
Apa yang menyebabkan mereka lama menemukan jodohnya ? Ahh..pertanyaan yang sampai detik ini akupun belum bisa menjawabnya untuk diriku. Kadang takdir Sang Maha Kuasa sangat istimewa, tak terlintas dalam pikiran hamba Nya. Tak adakah para “belahan jiwa” itu datang selama penantian ? Tentu saja ADA. Ada banyak yang datang menghampiri. Lalu masalahnya ? harta ? rupawan ? keturunan ?. BUKAN !!. Masalahnya hanyalah karena TIDAK SATU TUJUAN.
Menikah itu bukanlah suatu ajang untuk melampiaskan hawa nafsu, ajang untuk mencari gengsi dunia, melainkan alat untuk beribadah kepada Rabb. Menikah adalah komitmen untuk mengarungi lautan dunia ini berdua dengan pasangan. Bahkan kita akan lebih banyak menghabiskan masa usia kita dengan pasangan ketimbang dengan orang tua. Ahh...artinya menikah benar-benar komitmen sisa hidupmu. Bahkan di salah satu perkataan Sang Kuasa menyebutnya sebagai “mitsaqon gholizo” yang artinya perjanjian yang kokoh. Bayangkan dua orang yang berkomitmen mengarungi lautan dunia memiliki tujuan yang berbeda. Jika istri menyuruh A, dan suami menyuruh B, rumah tangga seperti apa yang sedang terjadi.
Ahh..kan rumat tangga kami demokrasi, rumah tangga kami pancasila, walau beragam tetap satu, salah satu alasan klise pembenaran mereka. Kita boleh berbeda pendapat tentang hal yang tidak prinsip, tetapi tentang hal yang prinsip, maka tetap harus SATU TUJUAN. Wanita yang menginginkan keluarga yang bernuansa islami tak masalah kah menikah dengan pria yang beragama non muslim ?. Sekufu, begitu juga bahasa lainnya. Ketika menikah dengan orang yang memiliki tujuan yang sama, minimal tak jauh berbeda, maka hidup kita akan lebih tentram. Kita akan lebih mudah mencapai tujuan tersebut.
Jangan hanya karena engkau merasa kehadiran “nya” terlalu lama, lalu engkau dengan santainya memilih siapa saja agar bisa memenuhi gengsi mu itu. TIDAK. Layaknya angkot, tetaplah menunggu. Jangan mengumpat, jangan menggerutu dan jangan menyalahkan siapapun karena kegiatan itu tak akan mempercepat kedatangannya. Dia sedang menuju ke arah mu, hanya saja kecepatannya yang terlalu lama. Maka, jemputlah “dia”, bergeraklah ke arahnya. Ketika engkau dan “dia” bergerak menuju ke arah yang sama, maka percayalah suatu hari akan bertemu.
Menjemput “dia” ? Bagaimana caranya ? teruslah perbaiki diri menjadi sebaik-baik pasangan, isi kegiatan “menunggu” dengan hal-hal positif, sehingga tak kau sadari “dia” telah di depan mata, jangan lupa berdoa. Berdoa kepada Robb dalam shalat malam mu, berdoa saat bersedekah, berdoa saat menuntut ilmu, berdoa di waktu-waktu mustajab. Percayalah bahwa Allah sedang mempersiapkan seseorang untukmu, dan jangan sampai engkau tidak siap ketika “dia” telah datang.
Para Kupu-Kupu Cinta..
Yuk Bermetamorfosa dengan sempurna !!

Medan, 19 Januari 2017

Wednesday, 16 March 2016

Berproseslah !


Gagal ? tentunya kata ini sudah biasa terdengar dalam kehidupan manusia. Bahkan, hampir setiap manusia sendiri mengalaminya, mengalami apa yang disebut dengan kegagalan. Merupakan suatu kelaziman dan sebuah keniscayaan manusia yang mengalami kegagalan. Akan tetapi yang berbeda antara kegagalan yang dialami oleh satu orang dengan yang lainnya terletak pada tindakannya setelah mengalami kegagalan tersebut, ada sebagian orang yang terus melangkah dan ada sebagian orang yang berhenti bahkan memilih untuk mundur.

Tentunya masih ingat kisah perjuangan luar biasa Ibunda Siti Hajar ketika mencari air untuk anaknya, Nabi Ismail AS yang kehausan. Di tengah gurun pasir yang sangat panas beliau bolak-balik mencari air, tiga kali, lima kali bolak-balik tetapi beliau tetap tidak menemukan air, lalu Ibunda Siti Hajar tetap berusaha sehingga kali ketujuh air itu keluar dari kaki Nabi Ismail AS, rezekinya ada ketika kali ketujuh beliau mengitari gurun pasir itu. Begitulah keteguhan perjuangan Ibunda Siti Hajar, andaikan ketika kali ketujuh tidak ada air yang ditemukannya, pastilah ada kali kedelapan, kali kesembilan sampai Ibunda Siti Hajar menemukan air. Jadi intinya bukan soal gagalnya, tetapi seberapa jauh kita terus mencoba.
Pertanyaannya, harus sampai kapankah kita mencobanya ? haruskah ribuan kali layaknya Thomas Alfa Edison yang berhasil menemukan lampu pada kali ke seribu? Tentunya tidak harus. Bermodalkan ilmu yang mendukung serta mentor yang berkompeten maka kita akan menemukan hasil yang baik dalam jangka waktu yang tidak begitu lama. Jadi jangan hanya coba-coba sendiri, lakukan sesuau dengan ilmunya, maka kita akan mendapatkan hasil yang lebih baik.
Satu pernyataan yang dicetuskan oleh Albert Einstein : “Jika kita melakukan hal yang sama berharap hasilnya berbeda, itu yang dinamakan dengan sinting”. Benar sekali !. Jadi jika ingin hasilnya berbeda, maka caranya juga harusnya berbeda. Untuk menghasilkan cara yang berbeda itu harus ada ilmunya, jadi bukan semata-mata gigih berusaha, bukan semata-mata kerja keras, kita seharusnya kerja cerdas. Sehingga proses kita untuk bangkit, proses kita untuk sukses itu tidak memerlukan waktu yang lama, syaratnya kita tahu ilmu untuk kerja cerdas tersebut. Jika kita tahu ilmunya, maka kita bisa mempersingkat waktu menuju kesuksesan kita.
Untuk siapapun yang sedang mengalami kegagalan, teruslah berproses untuk segera bangkit dari kegagalan itu. Percayalah jika kita sedang mengusahakan sesuatu dan kita gagal mendapatkannya, maka kita berhak mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari hal tersebut. teruslah berpikir positif, teruslah berbaik sangka karena dengan berbaik sangka keadaan akan menjadi lebih baik. Jadi, kita bisa jemput rezeki, kita bisa jemput kesuksesan jika kita mau berproses dan tahu ilmu nya dalam berproses tersebut.
Selamat mencoba !!
Selamat sukses !!







Wednesday, 3 February 2016

Untukmu yang menunggu

Tepat pada hari ke 120 di rahim ibunya, seorang "calon manusia" mengalami kejadian hebat dalam hidupnya. Disaat itu esensinya sebagai manusia diakui karena saat itu ruh ditiupkan dan membuat calon manusia itu menjadi hidup, bukan hanya tumbuh dan berkembang. Tapi tidak hanya itu, Allah SWT melakukan suatu kejadian besar lagi ketika hari itu, yaitu menetapkan takdir bagi si “calon manusia” itu, Allah SWT menetapkan perihal rezekinya, perihal jodohnya, perihal mautnya, serta perihal bahagia dan suka yang akan dialami oleh si “calon manusia” tersebut. Masha Allah, Allah begitu apik menyusun skenario hidup makhluknya, bahkan saat makhluknya belum terlahir ke dunia, Allah telah menyelesaikan script drama kehidupan yang akan dijalani oleh makhluknya.

Ada hal yang paling menarik di antara ketetapan Allah SWT tersebut, hampir semua insan mengalami rangsangan adrenalin begitu tinggi ketika menceritakan ketetapan Allah SWT yang satu ini. Jodoh, begitulah kosakata membahasakannya. Tak dapat dinafikan bahwa jodoh merupakan rezeki terbesar dalam hidup manusia, jodoh merupakan mistery guest yang paling ditunggu kehadirannya, bahkan dipersiapkan untuk menyambut kedatangannya. Impuls luar biasa yang diberikan oleh jodoh menyebabkan banyak diantara manusia yang menunggu-nunggu, bahkan menjadi perasaan tak karuan, istilah anak mudanya galau.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana menemukan jodoh itu ? harus dijemput atau ditunggu saja ?. Jodoh memang ditangan Tuhan, tapi kalau tidak diambil, tidak dijemput maka dia akan selamanya ditangan Tuhan. Apakah cukup dengan hanya menunggu dan berharap besok pagi datang pangeran berkuda putih di depan rumah dengan setangkai mawar merah, tentunya tidak. Perhatikan kalimat luar biasa yang langsung Allah SWT lantunkan di dalam Al-Quran Surat An-Nur : 26

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan –perempuan yang baik......”

Jelas bahwa Allah SWT menjanjikan pasangan yang baik hanya untuk pribadi yang baik, pasangan yang keji hanya untuk pribadi yang keji. Lalu, bagian dari janji Allah yang manakah yang harus dipertanyakan?

Semua orang tentu ingin mendapatkan jodoh yang baik, jodoh yang taat, dan bertanggung jawab. Jika diberikan pilihan jodoh yang memiliki nilai 7 atau 8, maka hampir semua akan memilih jodoh yang bernilai 8, bahkan jika dihadirkan jodoh yang bernilai 9, tentu itu akan menjadi pilihannya. Itu fitrah manusia, selalu menginginkan yang terbaik dalam kehidupannya. Pertanyaannya, apakah setiap manusia akan dipertemukan dengan jodoh yang memiliki nilai terbaik ? Tentunya tidak. Lalu bagaimana supaya dipertemukan dengan jodoh yang memiliki nilai terbaik ?. Tagihlah janji Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah menjanjikan bahwa pasangan yang baik hanya untuk yang pribadi yang baik ?. Dari hal ini dapat ditarik kesimpulan penting bahwa jika menginginkan jodoh yang baik, maka bentuklah diri ini menjadi pribadi yang lebih baik. Jika menginginkan jodoh bernilai 9, maka harus menjadi pribadi yang memiliki nilai 9, tapi jika hanya menginginkan jodoh bernilai 6 maka cukup menjadi pribadi yang memiliki nilai 6. Intinya, Allah hanya akan memberikan pasangan yang pantas untuk makhluknya. Jodoh itu adalah refleksi dari diri sendiri. Jangan pernah menyalahkan keadaan jika mendapatkan pasangan yang memiliki nilai 6 karena sesungguhnya pribadi ini pun bernilai 6.

Sebagian orang sering mempertanyakan kenapa jodoh saya tak kunjung datang, padahal saya sudah rajin ibadah ?. Sekali lagi inilah hukum ke “pantas” an Allah SWT berlaku pada makhluknya. Bukan Allah SWT yang belum memberikan jodoh, tapi diri ini yang belum pantas untuk dipertemukan dengan jodoh. Ketika pribadi ini masih memiliki nilai 6 sementara jodoh telah memiliki nilai 8, pantaskan Allah mempertemukan ?. Tidak, sangat tidak pantas. Maka, buatlah pribadi ini menjadi bernilai 8, sehingga setelah sama dan pantas percayalah Allah SWT akan mempertemukannya. Inilah yang kita sebut dengan ilmu memantaskan diri. Sampai kapan harus memantaskan diri ? Sampai jodoh itu datang, bahkan  sepanjang hidup.

Tak ada satupun manusia mengetahui berapa nilai kepribadiannya di mata Allah SWT, juga tidak mengetahui berapa nilai jodohnya. Dan tentunya tidak boleh mengklaim bahwa diri ini telah baik dan harus dapat yang baik. Bukankah Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba Nya ?. Teruslah berusaha memantaskan diri ini, teruslah bermetamorfosa menjadi pribadi yang lebih baik. Semakin sibuk memantaskan diri, maka 

Untukmu yang sedang menunggu, jangan bangun khayalan tentang kehadiran sang pangeran atau bidadari, tetapi sibukkan diri dengan memantaskan diri. Ingat, Allah hanya memberikan seseorang yang pantas untuk kita. Jika diri ini semakin tenggelam dalam metamorfosa menjadi lebih baik, maka tanpa disadari Allah SWT telah menyiapkan skenario perjumpaan dengan jodoh terbaik. Percayalah akan janji Allah SWT. Cukupkan ikhtiar, lengkapi dengan doa, lalu sempurnakan dengan bertawakall kepada Allah SWT.

                                                                                                Medan, 4 Februari 2016, 11 : 51

Friday, 17 January 2014

Percayakan Saja Kepada Allah

Kerja keras, berusaha, ikhtiar, adalah beberapa kosa kata yang menggambarkan usaha yang dilakukan manusia untuk mencapai sesuatu yang benar-benar ia harapkan. Bahkan tak jarang kita melihat bahwa manusia itu begitu totalitas dalam melakukan usahanya, berharap agar hasil yang diperolehnya nanti sesuai dengan usaha yang telah dilakukan serta sesuai dengan apa yang diharapkan. Seorang pelajar atau mahasiswa misalnya, ia akan sangat rajin belajar, serius mengikuti proses pembelajaran, merelakan diri menghabiskan waktu di dalam perpustakaan untuk mempelajari beberapa topik, atau ada yang tidak tidur hanya untuk menghadiahkan tugas yang mendekati sempurna untuk para guru atau dosennya. Semua hal yang dilakukan oleh pelajar atau mahasiswa tersebut adalah agar ia bisa mendapatkan ilmu yang dibutuhkannya, dan itu benar, akan tetapi tidak dapat dinafikan bahwa kebutuhan akan penghargaan atas usaha yang telah dilakukannya berupa nilai yang bagus, itu juga benar.

Jikalau kita telah melakukan sesuatu usaha yang maksimal, kemudian kita mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang kita usahakan dan apa yang kita harapkan, maka itu lah yang kemudian kita definisikan sebagai suatu perasaan bahagia, lalu ?? bagaimana jika kondisi yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan ?? akankah itu bisa kita definisikan sebagai ketidak bahagiaan ???. Jika memang seperti itu betapa banyak ketidakbahagiaan di dunia ini. Sungguh pelik kita mendefinisikan hal itu sebagai ketidakbahagiaan, di antara beribu nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita, kemudian kita memunculkan idiom “tidak bahagia” hanya ketika apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi.

Lalu, apakah Allah itu adil dengan hal yang sedang diperbuatnya ?? bukannya Dia sendiri yang telah tegas menyatakan di dalam surat Ar Ra`d ayat 11 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa jika kita berusaha untuk mengubah diri kita, maka Allah akan menjamin perubahan itu terjadi. Nah lo?? Ini Allah yang betul-betul menjanjikan, lalu kenapa ketika seorang pelajar atau mahasiswa berusaha keras, rajin belajar agar mendapatkan nilai yang bagus, malahan tidak mendapatkan hal yang diinginkannya?? Kemanakah janji Allah itu ???

Dan kemudian kita mendefinisikan bahwa Allah itu tidak adil ?? Allah itu ingkar janii?? Tidak !!!. Ada suatu cerita luar biasa, ada hikmah yang tidak bisa ditebak ketika kondisi ini menimpa kita. Ujian dan cobaan yang diberikan Allah ini adalah suatu skenario Allah yang pasti akan berujung kepada sesuatu yang indah dan bermakna. Ketika air mata ini berjatuhan, menyuarakan perasaan hati yang tidak bisa diungkapkan, ketika raga ini terlalu lelah dengan usaha yang telah dilakukan, akan tetapi hasil yang diharapkan tidak sebanding dengan apa yang terjadi. Apakah Allah melihat usaha yang kita perbuat ??? tidakkah Dia berkenan untuk membalas usaha itu ?? lalu bagaimana dengan mereka ?? mereka yang usahanya tidak maksimal, bahkan ada yang tidak berusaha, mereka mendapatkan hasil yang mereka harapkan ?? Dimana Allah ?? Apakah Allah hanya diam saja ???

Tentunya perasaan ini acap kali muncul. Apalagi ketika sahabat, rekan kerja, tetangga atau orang lain bisa mendapatkan hasil yang diharapkan dengan usaha yang minimal. Nah kita ??? yang usahanya sudah paling maksimal malahan mendapat hasil yang jauh dari apa yang kita perkirakan. Pertanyaannya, siapakah yang patut disalahkan ???. Begitulah manusia, perasaannya akan cepat menguasai pikirannya dalam kondisi seperti ini, akibatnya logikanya akan bekerja untuk mulai menyalahkan Allah. Naudzubillahi min dzalik. Padahal Allah juga telah menjawab kegalauan ini di dalam surat ................. yang artinya “.........................”. Ayat ini menjelaskan bahwa hal-hal yang telah kita terima, sedang kita terima atau yang akan kita terima semuanya adalah hal yang terbaik untuk kita. Lihatlah, Allah benar-benar teramat bertanggung jawab atas kehidupan kita. Bukankah Allah yang Maha Mengetahui tentang diri ini ? tentunya Dia tahu apa-apa saja yang terbaik untuk kita. Dia lha yang mengatur segala lika-liku hidup kita agar kita selalu mendapatkan apa-apa yang sebenarnya kita butuhkan bukan apa-apa yang kita inginkan. Garis bawahi, bukan KEINGINAN tapi KEBUTUHAN.

Sayangnya, manusia begitu cepat untuk menjudge bahwa Allah itu tidak adil, Allah itu pilih kasih. Apakah dengan menjelek-jelekkan Sang Maha Kuasa masalah akan menjadi baik ?? tentunya tidak bukan? Jadi apa gunanya. Selang beberapa waktu Allah akan menunjukkan bahwa takdir yang menimpa kita sebelumnya memberikan suatu berkah yang berharga kepada kita, dan sekali lagi manusia sering lupa bahwa inilah balasan usaha yang dulu pernah dilakukannya. Allah baru saja menunda memberikan hadiah kecil kepada kita agar kita lebih bersabar karena ada hadiah yang teramat besar yang sedang Allah siapkan untuk kita ? Lalu apakah kita tidak bisa bersabar sebentar menunggu hadiah yang besar itu ? apakah perlu kita terburu-buru meminta hadiah yang kecil jikalau Allah sebenarnya akan memberikan hadiah yang teramat istimewa. Luar biasa bukan !

Pada hakikatnya, tidak ada hal-hal yang jelek dalam hidup ini. Jika kita bisa merunut kembali setiap peristiwa hidup ini maka kita akan menemukan bahwa skenario kehidupan kita benar-benar luar biasa, sutradara kehidupan ita yakninya Allah benar-benar merupakan sutradara terbaik sepanjang zaman. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini, semuanya bermakna, semua punya cerita dan kisah tersendiri. Jika memang diri ini ditimpa suatu cobaan, maka kembalikan semuanya kepada Dzat yang memberikan cobaan itu dan kemudian bersabarlah untuk menunggu kejutan besar yang akan diberikan kepada kita. Kita memang diberikan kebebasan untuk merencanakan kehidupan ini, membuat hidup ini lebih sempurna, akan tetapi, sebaik, sebagus, dan sehebat apapun rencana kita, maka ketahuilah rencana Allah itu jauh lebih baik. Percayakan semua kehidupan ini kepada Sang Khalik, Hanya Dia yang mengetahui diri kita, bahkan Dia lebih tahu diri kita dari pada kita sendiri.

Itulah uniknya pribadi seorang muslim, ia akan bersabar ketika ia mendapatkan musibah dan ia akan bersyukur ketika ia mendapatkan kebahagiaan. Lihatlah, betapa indahnya hidup jika kita bisa menikmati dan mensyukuri semua alur kehidupan ini karena hidup ini cuman sekali, bersyukur akan membuat hati ini menjadi lebih lapang dan jauh dari masalah. Jadi nikmatilah dan kemudian syukurilah !. Sebuah renungan penutup, Surat Ibrahim ayat 7 “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat Ku, maka pasti azab Ku sangat berat” 

Waalahu `alam bis Shawwab !!

Sunday, 18 November 2012

Insya Allah Menuju Tempat Yang Terbaik

Apa yang kalian pikirkan ketika kalian tidak diterima di lingkungan kalian ? Cuek ? Sedih ? atau malah bahagia ? Ya....itu semua suatu kondisi yang sangat bergantung dengan kepribadian seseorang.. dan Aku...?? sampai saat ini aku masih sibuk berkeluh kesah... Astagfirullah hal adzim.. Ya.... tempat dimana aku berdiri sekarang, adalah sebuah "Penjara Suci" bagi ku, aku sungguh merasa tidak nyaman disini. Ntah....ntah apa sebabnya... tidak ada satu orang pun yang tahu bagaimana kondisi aku disini... Dosakah aku ?? aku memanipulasi semua cerita indah yang sengaja aku rangkai disini, sehingga semua orang mengetahui bahwa aku sangat bahagia di tempat ini. Sebenarnya aku ingin berhenti, tapi ntah kenapa hati kecil ini selalu menahanku disini Aku sudah muaak...muak dengan kondisi di "Penjara Suci" ini, tapi apalah daya, aku tidak tahu harus mengadu kepada siapa... Aku capek jika hanya terus-terusan menjadi seorang ibu rumah tangga, aku ingin berkarier, seperti mereka...ya....sekali lagi seperti mereka.. Mereka bahagia, mereka bisa membagikan ilmu kepada setiap anak yang diajar, kemudian aku ??? bahkan aku tidak punya sedikit kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang
Apa aku terlalu bodoh ?? sehingga mereka, para sipir-sipir "Penjara Suci" tidak menjadikan aku sebagai pemberi ilmu.. aku ingin menjelaskan kepada mereka kalau aku bisa.. aku mampu...kenapa aku tidak diberi kesempatan membagi ilmu... What the Hell all of this... tanggal 5 Desember nantik, saat dimana keputusan itu akan aku ambil, ya...aku akan beranjak...pergi dari tempat ini.. insya Allah menuju tempat yang lebih baik.. Insya Allah

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...