Wednesday, 20 October 2021

DIAM-DIAM SUKA (PART 1)


13.45 WIB
 
Layar handphone menunjukkan waktu disiang hari itu. Seberkas cahaya handphone mengalihkan fokusku dari agenda rapat komunitas kami di siang ini. Bergegas aku mematikan layar handphone dan berusaha kembali fokus dengan pembahasan proyek kali ini

Ku edarkan pandangan pada orang-orang yang berada dalam ruangan ini. Semuanya fokus, mengerahkan  pikiran untuk memajukan proyek tersebut. Ya, sebuah proyek besar akan kami garap. Tentu saja membutuhkan perencanaan yang matang agar memberikan hasil yang maksimal.

Sayangnya, aku tidak seperti mereka. Walau kami berada di ruangan yang sama, kami membicarakan hal yang sama. Namun pikiranku tidaklah sama dengan mereka. 

Aku memang memegang berkas itu, sesekali ku bolak-balik dan mencoret tak tentu. Hal ini ku lakukan agar tak seorang pun di ruangan ini yang menyadari pikiran apa yang tengah menari-nari di dalam batok kepalaku. Tatapanku pun tak lagi fokus pada papan tulis yang ternyata telah penuh berisi target proyek kami ke depannya. Ahh, bahkan aku tak menyadarinya kalau papan tulis itu sudah penuh. Kemana saja sih aku?

Aku fokus pada dia.
Ya..
Dia yang sekarang berada di arah jam 11 ku. Dia yang sekarang memakai baju kotak-kotak hitam putih. Wah, ganteng sekali dia. Bibirku tersenyum malu setiap kali melihat wajah tampannya yang penuh dengan semangat.

Lihatlah, pria ini begitu antusias mengeluarkan ide briliannya. Dia yang terkadang menggeser layar smartphone nya dan mengetik beberapa kalimat disana. Nada bicaranya bersemangat, pilihan katanya apik dan rapi, dengan santai ia menjelaskan bahan rapat yang sebenarnya rumit dan memusingkan, bahkan sesekali ia mengelurakan jokes agar peserta rapat tetap rileks. Ahh, semakin menawan dan memikat hatiku.
.
"Oke guys, kita langsung ke pembagian kelompok untuk tugas masing-masing anggota ya" ucapnya
.
Kalimat ini adalah bagian yang paling ditunggu-tunggu dari sebuah rapat proyek. Disinilah kami tahu tim yang akan menjadi rekan dalam proyek ini, orang-orang yang akan menghabiskan waktu bersama-sama dalam waktu yang cukup lama.
.
Aku selalu deg-degan ketika berada di bagian ini. Mulutku tak henti-hentinya melantunkan doa banyak-banyak agar aku bisa satu tim dengan dia. Siapa lagi kalau bukan pria tampan berbaju kotak-kotak itu.
.
Akhirnya ~~~
Sekali lagi Allah masih kabulkan doaku. Ahh, sepertinya semesta memang bersahabat dengan diriku.
.
"Hai Kie, same group, agaian ?" lelaki bersuara bass itu menyapaku dengan semangat.
.
"Hai Ruu, yeah..," jawabku singkat menyembunyikan kegugupanku.
.
"Hope you not boring with me" dia kembali mengeluarkan kata-kata yang membuat jantungku bekerja lebih cepat.
.
"Of course. I will not boring, you are good friends" aku menjawab sambil memberikan senyum manis
.
"Okay, welcome to the jungle princess" dia menutup pembicaraan kami dengan kalimat yang membuat aku touching banget.
.
Dia berlalu untuk menyapa anggota grup yang lain. Oh My God. Kenapa dia begitu memesona? Terbuat dari apa makhluk Mu yang satu itu ya, kok dia begitu sempurna?
.
Aku segera membalikkan badan dan keluar ruangan rapat. Serasa ingin berteriak kesenangan. Karena kali ini Allah kabulkan lagi permohonanku. Aku kembali dipertemukan dalam kelompok yang sama.
.
Walau gembira, namun ada sedikit kecemasan dalam hatiku. Aku selalu deg-degan setiap memulai proyek dengannya. Aku berlebihan? Oh ya, tentu saja. Jika tidak berlebihan seperti ini, tentu saja itu bukan aku. Ehh.

Aku selalu tak bisa mengontrol jantungku ketika dia memberikan perhatian lebih, walaupun hanya sekadar bertanya aku sudah makan atau belum.
Dan aku sering salah tingkah ketika dia mengatakan "Kie, cantik deh kalau pakai baju itu"
.
.
Ahh..
Ruu..
Aku memanggilnya Ruu..
Lalu kenapa harus Ruu?
.
Tunggu kisah Ruu dan Kie di part 2 yaak

Sunday, 12 September 2021

HAI BADUT

Kalian tahu badut kan? Ahh, kurasa semua orang tahu kok. Benda lucu yang menggemaskan dan selalu ceria. Biasanya hadir di pasar malam, festival atau acara anak-anak. Bahkan di acara anak-anak badut pun seolah benda wajib yang harus hadir. Seolah kalau gak ada badut itu gak rame. 
.
Padahal kita semua tahu kan kalau badut itu adalah boneka besar yang didalamnya adalah manusia. Mereka memainkan peran untuk mencari sesuap nasi. Wajah mereka mungkin tak seceria badut. Gaya mereka juga mungkin tak semenarik badut.
.
Dan tahukah kalian? Ternyata badut itu bukan hanya untuk mereka yang benar-benar menjadi badut lho. Bahkan tanpa disadari, kita sendiri pun pernah berperan menjadi badut. 
.
Hmm
Bingung?
Ayok lanjutkan membaca !!
.
Pernahkah kalian berpura-pura bahagia padahal dalam hatinya nestapa? Pernahkah kalian berpura-pura tersenyum manis padahal di dalam hati ada luka yang mengiris? Pernahkah kalian berusaha untuk tampil prima di mata mereka, walau ternyata sedang capek jiwa dan raga?
.
Ahh, tentu saja pernah bukan? 
Itu artinya kita sedang melakoni peran kita menjadi badut. Tidak tahu apa yang sebenarnya kita rasakan. Namun, semua orang menuntut kita untuk selalu ceria, semangat dan mempesona
.
Tak apa. Jika memang menjadi badut itu menyenangkan. Lakukan saja. Sungguh itu perbuatan baik. Jika memang menyukainya, lakukan saja. Menjadi badutlah dihadapan orang lain.
.
Apakah harus dengan dadanan menor? Apakah harus dengan loncat dan jingkrak-jikrak sesuai nada dan irama? Ahh, tentu saja tidak kan. 
.
Menjadi badut dihadapan semua orang dilakukan dengan tidak menampakkan luka yang sedang diderita. Tidak menumpahkan air mata di depan mereka. Berusaha untuk tersenyum di tengah langit yang mendung. Berusaha untuk ceria di atas hati yang merana?
.
Lalu sampai kapan kita menggunakan topeng badut ini? Bagaimana jika kita sepakat untuk melepaskan topeng badut ini di hadapan Robb kita. Masha Allah. Cukup menangis sejadi-jadinya di hadapan Robb mu. 
.
Kita punya Allah sebagai tempat mengadukan segala duka. Ceritakan saja segala peliknya hidup kepada Sang Penguasa Semesta. Terus saja bercerita, hingga suatu saat nanti kita akan benar-benar merasa cukup dengan adanya Allah.
.
Wah, kelihatannya susah ya?
Ya. Jika kita belum mencoba.
Makanya, yuk kita coba. Dan aku rasa, sekarang adalah waktu yang cocok untuk mencobanya.
.

Thursday, 4 February 2021

Teruslah Bergerak

 


 

Memastikan diri untuk selalu bergerak menjadi hal yang patut untuk dilakukan. Melalui pergerakan inilah kita membangun masa depan, membina harapan dan merancang mimpi-mimpi agar menjadi nyata. Untuk itulah, mengapa kita dituntut untuk terus bergerak. Bagaimanapun kondisi, situasi, tetaplah bergerak.

Walau belum sukses, kita bahkan disuruh untuk terus bergerak. Walau belum berhasil, terus saja bergerak. Walau belum menjadi seseorang yang benar-benar “baik” kita tetap harus bergerak. Bergerak seperti apa? Ya bergerak dalam hal positif. Bergerak terus dalam membangun mimpi yang masih tertunda. Bergerak terus menjadi pribadi yang baik.

Jadi, yuk bisa yuk. Wahai diri yang mimpinya tengah menggantung di langit-langit dunia. Jangan pundung. Yuk kita terus bergerak mencapai mimpi-mimpi tersebut. Maksimalkan usaha, kencangkan doa.

Wahai diri yang asa nya masih direbut orang. Usap air mata, hentikan nestapa. Jadikan ia sebagai cambuk semangat. Bangun kembali segala harapan dan asa. Percayalah bahwa harapan itu masih ada

Wahai diri yang doa-doanya masih terkatung-katung. Yang masih menunggu jawaban atas doa-doa yang terus didengungkan. Sabarlah dan jangan pernah berhenti berdoa. Masalah dikabulkan, itu hanya soal waktu saja. Percayalah, insya allah sebentar lagi, sebentar lagi.

Wahai diri yang merasa bahwa pintu kesuksesan itu masih jauuuuuh sekali. Tetap semangat mengejarnya. Ia terlihat jauh hanya karena kita belum sampai di depannya. Jika kita terus berjalan dengan semangat dan tiada henti, percayalah pintu kesuksesan itu akan terlihat dekat dan semakin dekat.

Wahai diri yang sedang dalam proses hijrah menjadi sebaik-baik hamba Robb nya. Teruslah bersinar dalam jalan kebaikan itu. Abaikan segala omongan dan cercaan. Yakinlah bahwa Allah menilai setiap perubahan yang tengah engkau lakukan.

Tak perlu terburu-buru dalam bergerak. Jangan sesekali menyamakan gerakan kaki mu dengan orang lain. Jika tak mampu berlari kencang, kan kita bisa berlari pelan. Yaa, ala-ala maraton jarak jauh. Jika memang tak bisa berlari pelan, sungguh berjalan pun tak apa. Jika memang bahkan tak kuasa berjalan, maka merangkaklah. Tak apa jika memang harus pelan sekali. Yang penting kau berjalan saja terus. Berjalan ke depan menuju impian yang ingin kau wujudkan.

Satu hal lagi yang perlu kau ingat. Jika perjalananmu terasa melelahkan, jika gerakmu memayahkan diri, mungkin kau perlu berhenti sejenak. Ya, ambil nafas, temukan jeda. Setidaknya jadikan pemberhentian ini sebagai proses perenungan dari setiap langkah yang telah kau ambil. Jadikan ia sebagai sarana belajar dari semua kesalahan yang pernah kau lakukan di masa lalu. Jadikan ia sebagai ajang bentuk syukur atas perjalanan yang telah kau tempuh.

Jangan terlena dalam peristirahatanmu. Kembali lagi tatap masa depanmu. Bisikkan diri, apa yang belum saya lakukan ya? Apa yang harus saya perbaiki? Apa tindakan saya selanjutnya? Dan jika sudah cukup dengan istirahatmu, jika energi dan kekuatanmu sudah kembali terisi, bergeraklah lagi. Kembalilah perjuangkan mimpi-mimpi mu.



Medan, 5 Februari 2021, 11 : 57

Foto ini diambil entah beberapa tahun yang lalu. Kala itu kamu tengah berhenti melepas lelah karena mengelilingi lapangan merdeka. Ahh, betapa lemahnya diri ini, lapangan merdeka aja udah capek, hehehe. Btw, aku merindukan pemilk kaos kaki ini, entah kapan bisa bertemu lagi, entah kapan bisa bercerita lagi

Monday, 1 February 2021

Pahlawan



Kali ini aku mau bercerita agak nasionalis gitu. Eeh, gimana ini? Ya, tulisan kali ini membahas tentang pahlawan. Nasionalis banget kan? Hehehe. MERDEKAAAA !!!

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah foto di layar pc ku. Ya, waktu itu aku sedang memanggil masa lalu tentang hal-hal luar biasa yang pernah aku lakukan. Hingga pandanganku tertuju pada foto ini. Sebuah foto yang diabadikan di depan makan seorang pahlawan ternama tanah air,  Sisingamangaraja.

Aku mengenal sosok Sisingamangaraja ini ketika aku SD (Gak usah dihitung berapa tahun yang lalu, pokoknya udah lama lah. Heheh). Sosok yang kutangkap dari cerita guru SD ku itu adalah Sisingamangaraja ini sungguh sangat gagah, berani, dan garang (menurutku, heheh). Entahlah, cerita guru ips serta penggambaran tokohnya di dalam buku pelajaran membuatku berpikir begitu.

Pahlawan. Itulah sebutan yang dicantumkan untuk Sisingamangaraja ini. Bukan hanya beliau, tapi banyak tokoh dan pejuang kemerdekaan yang bergelar pahlawan ini. Tapi, apakah hanya mereka yang bergelar pahlawan? Apakah sesempit itu makna pahlawan? Lalu bagaimana dengan zaman sekarang yang tiada lagi penjajahan, tiada lagi angkat senjata? Apakah tidak ada lagi pahlawan di era sekarang ini?

Ada. Bahkan ada banyak pahlawan di sekitar kita. Pahlawan yang kadang terlupakan, diabaikan dan diacuhkan. Mari kita kembali menceritakan kisah-kisah pahlawan yang terlupakan itu.
.
Ialah dia, petugas kebersihan kota. Yang setiap hari rela bangun pagi demi merapikan kota yang tengah berantakan. Bermodal baju dinas dan setangkai sapu, mereka menyatu dengan bau-bauan yang tidak sedap. Bahkan kita sendiripun enggan untuk berdekatan karena bau-bauan itu. 
.
Ialah dia, tenaga pendidik honorer. Mereka dengan begitu ikhlasnya mengajar, mencerdaskan anak bangsa, melintasi perjalanan menantang menuju ke sekolah. Berhujan, berpanas, bermendung demi menjadi setetes embun bagi anak-anak yang tengah kehausan. Tapi apa? Mereka tak pernah mengeluh ketika gajinya berjumlah sedikit. Bahkan tak ayal gaji itu dirapel sampai 3 bulan. 
.
Ialah mereka, penjual gorengan di pinggir jalan. Ya, ini pahlawan versi aku. Lihat mereka rela berpanasan di pinggir jalan, menatap nanar wajan gorengan yang begitu panas, padahal cuacapun tak kalah panasnya. Menunggu satu-satu orang lewat untuk membeli gorengannya. Menjadi bahagia ketika berhasil membantu mereka yang tengah kelaparan di sela rutinitasnya. Ahh, sungguh ini curhatan aku banget. Hehe

Tapi intinya adalah, pahlawan itu bukan mereka yang ada dalam buku-buku pelajaran saja. Mereka ada, mereka nyata, mereka di sekitar kita. Hanya saja kita yang sering remeh, abai dan acuh terhadap mereka. Kita sering menganggap rendah pekerjaan tersebut, padahal tanpa mereka, belum tentu ada yang mau mengerjakannya bukan?

Apapun bentuk dan jenis pekerjaan orang lain, hargailah. Mereka adalah pahlawan dalam hidup kita. Jangan anggap sepele dan memandangnya remeh. Sungguh mereka akan sangat membantu hidup kita. 


Medan, 2 Februari 2021, 14 : 21

Thursday, 14 January 2021

Daripada Zina

 


 

Jika aku bertanya “Apa tujuan kalian menikah?”. Kalian akan menjawab apa? Ya, terlepas lah apakah kalian belum atau sudah menikah. Kira-kira mengapa sih kalian menikah?

Beberapa orang menikah dengan alasan yang (sedikit) absurd menurutku. Setidaknya begini redaksi jawaban mereka ketika kutanya mengapa mereka memilih untuk menikah;

Daripada aku berzina, mending nikah aja. Jauh lebih halal kan? Gak dosa

Well, sebenarnya tidak ada yang salah dengan alasan itu. Karena salah satu hikmah dari pernikahan adalah menghindarkan anak manusia dari perbuatan zina. Tetapi gimana ya? Agak sulit rasanya membenarkan anjuran menikah hanya dengan alasan daripada zina. Entahlah, aku merasa alasan ini terkesan seperti pemb-biar-an dan lepas tangan.

Jika banyak orang yang menjadikan hal ini sebagai alasan mereka untuk menikah, sungguh sangat memilukan. Aku merasa kok lucu gitu ya, motivasi mereka menikah adalah supaya gak zina. Menurutku, terlalu remeh banget alasan tersebut untuk membangun sebuah pernikahan. Dan bagaimana mungkin memulai sesuai dengan pondasi yang sangat rapuh seperti itu? Aku tegaskan sekali lagi bahwa menikah bukan sekadar mencari teman tidur yang halal.

Alasan “daripada” zina sungguh terkesan emosional di telingaku. Lalu coba bayangkan dua orang yang memulai sesuatu dengan emosional? Lalu bagaimana masalah setelah menikah nanti bisa diatasi oleh dua orang yang belum matang secara emosi? Apakah pernikahan  semacam ini juga akan melahirkan emosional yang baru?

Lalu, apakah tidak boleh menikah karena  memang ingin menghindari zina?

Boleh saja sih menikah untuk menghindari zina, tapi hmm, apakah memang kondisinya sudah segitu tidak tertahankan lagi? Sehingga zina menjadi tameng pernikahanmu?

Itu masih satu alasan remeh kebanyakan orang ketika ditanya mengapa ia menikah. Belum lagi alasan-alasan laiinya misalnya sangat mencintai pasangan, takut dibilang gak laku, memang sudah masanya untuk menikah atau bawaan takdir. Sungguh, alasan yang sangat emosional sekali bukan?

Bukan berarti tidak boleh menjadikan alasan emosional sebagai pondasi pernikahan. Hanya saja, alangkah lebih baik dan alangkah bijaksananya jika kita memulai proses pernikahan itu dengan alasan yang menguatkan, alasan yang baik, bukan lagi sesederhana “daripada zina”.

Buat yang belum menikah, yuk luruskan lagi niatnya, kenapa harus menikah? Bangunlah pernikahan kalian di atas pondasi yang kokoh. Ingat, bahwa pernikahan itu ibadah terlama sepanjang hidup, jadi please jangan main-main. Persiapkan dengan matang pernikahan kalian, bukan pestanya, undangan atau honeymoonnya. Melainkan konsep menikah di mata kalian dan pasangan.

Dan buat yang sudah menikah, yuk kembali perbaiki pondasi pernikahan. Belum terlambat jika memang ada niat untuk menguatkan pondasi pernikahan. Bukankah kita menginginkan pernikahan yang sakinah mawaddah warohmah? Ketiga kriteria ini hanya akan tercapai jka memang pondasi pernikahan dan rumah tangga kita kuat dan sesuai syariat.



Medan, 14 Januari 2021, 22 : 27

Monday, 11 January 2021

Saat Diberi Lebih

 



Apakah pernah merasakan  bahwa diri ini memiliki banyak kelebihan? Bukan sombong, ujub atau narsis. Melainkan sebuah perasaan bahwa “saya diberi lebih oleh Allah”. Entah itu dari segi harta, fisik, kepintaran, keturunan atau berbagai hal duniawi lainnya. Sadar bahwa ternyata diri ini memang diberi kelebihan oleh Allah adalah sebuah keharusan, namun menjadi sombong dengan kelebihan yang dimiliki sungguh perbuatan tercela. Menganggap orang lain lemah karena tak memiliki apa yang dipunya adalah sesuatu yang tak terpuji.

 

Misalnya ketika diri diberi ilmu yang lebih. Bukan berarti mereka yang ilmunya masih kurang adalah orang yang tidak berilmu. Mungkin saja kita tidak memahami bagaimana susah payahnya mereka mempelajari ilmu tersebut. Ya, bisa saja mereka berjuang dengan rutinitas lain yang membuat mereka kesusahan mempelajari ilmu, sedangkan kita begitu diberi kemudahan oleh Allah dalam mengerjakannya. Sungguh tidak adil kan jikalau kita membandingkan diri ini dengan mereka?

 

Saat kita diberi finansial yang berlebih oleh Allah. Bukan berarti mereka yang sedang berusaha keras mencari uang adalah budak dunia. Mungkin saja kita tidak memahami bagaimana kondisi keungan keluarga mereka. Entah mereka sedang terlilit hutang, biaya hidup yang terus meningkat tajam dari pemasukan atau kondisi lainnya. Sementara kita Allah berikan kemudahan dengan lancarnya finansial, tidak ada hutang dan biaya hidup yang selalu terjamin.

 

Saat kita diberi kemudahan dalam mendidik anak. Bukan berarti mereka yang belum maksimal mendidik anaknya adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab. Kemudian dengan pongahnya kita melabeli mereka dengan orang tua yang minim ilmu parenting. Mungkin saja kita tidak memahami bagaimana susah payahnya dia memberikan ikhtiar semaksimal mungkin dalam segala keterbatasannya.

 

Saat kita diberi begitu banyak hal-hal lebih oleh Allah. Apapun itu bentuknya, entah mudahnya mendapatkan momongan tanpa perlu menanti lama atau mudahnya melahirkan tanpa ada banyak luka atau mudahnya meng-ASI-hi anak. Atau berbagai kemudahan lainnya, yang mungkin orang lain tidak dapatkan. Jangan jadikan itu sebagai bentuk penghakiman terhadap orang lain. Jangan menganggap orang lain harusnya juga mendapatkan kelebihan yang kita dapatkan. Hingga akhirnya kita berlagak sombong di depan mereka. Astaghfirullah.

 

Cukup jadikan saja segala bentuk kelebihan itu sebagai bahan untuk banyak-banyak bersyukur kepada Allah. Bukankah itu artinya Allah Maha Baik sekali kepada kita? Atau jangan-jangan segala macam bentuk kelebihan itu adalah bentuk ujian Allah terhadap kita. Dan bagaiman jika sikap sombong yang kita tunjukkan membuat Allah murka dan kemudian mencabut segala bentuk kelebihan tersebut? Innalillah. Makanya, cukup jadikan ia sebagai bentuk syukur kepada Sang Maha Pemberi

 

 

Medan, 4 Desember 2020 ; 22 : 14 WIB

Thursday, 3 September 2020

Sang Mentor






Bagaimana sih langkah awal memulai bisnis online?
Berdasarkan pengalamanku, sebagai seseorang yang beneran buta tentang bisnis online, tentu bukan hal yang mudah ketika pertama kali berniat memulainya. Gimana sih prosedurnya? Cara packing barangnya? Cara bikin buku kas nya? Cara menghitung keuntungan maksimal dan masih banyak tetek bengek lainnya.

Makanya, ketika benar-benar nol besar tentang dunia per bisnis an online, seharusnya kita mencari seseorang untuk mengajari tentang bisnis online tersebut. Itulah alasanyya hal pertama yang aku lakukan ketika memulai bisnis online adalah mencari sang mentor. Kalian tentu tahu mentor kan? Ya, bahasa lain dari guru lah.

Menemukan mentor itu adalah langkah yang sangat tepat. Kenapa? Karena dari mentor kita dapat belajar bisnis secara langsung. Silakan serap ilmu sebanyak-banyaknya dari mentor tersebut. Jika ada yang mau ditanyakan silakan bertanya sebanyak mungkin. Memang sih sekarang ada internet yang menyediakan berbagai informasi. Namun, bagiku belajar secara langsung memang lebih `nyentrum`. Sehingga hasil belajar langsung itu pun lebih bermakna.

Tidak hanya menyerap ilmu dari sang mentor. Terkadang belajar langsung dari sang mentor membuat kita lebih terinspirasi bergerak dan berjuang mengembangkan bisnis online. Biasanya kan mentor itu kan sudah memiliki bisnis yang keren, nah itu akan membuat kita bersemangat agar bisa menyerupainya. Istilahnya itu ya, melihat dia saja bisa menyulut api semangat di dalam dada (KHAAK !!)

Lalu bagaimana menemukan mentor?
Ahh, sebenarnya pertanyaan itu gak harus dimunculkan lagi. Semua orang bisa dengan mudah menemukan mentornya  masing-masing. Bisa melalui searching di internet, ngobrol bermanfaat antar teman atau bergabung dengan beberapa komunitas pebisnis online. Namun, ada beberapa tips yang dapat aku bagi dalam menemukan mentor yang cocok dengan bisnis online, ini dia :

Pertama, temukan mentor yang satu passion bisnisnya
Misalnya nih, kamu berbisnis fashion, ya cari mentor yang juga berbisnis fashion. Bukan bermaksud menyaingi sih, tapi biar lebih nyambung aja. Coba deh bayangin aja kita mau jual baju, tapi berguru pada teman yang jual kebab. Ya kan susah nanti, kita bahasnya bahan babyteri, ee si kawan bahas mayonnaise. Piye toh.

Kedua, pastikan mentor telah memiliki bisnis yang ‘oke’
Maksud oke disini bukan berarti yang omsetnya berpuluh puluh juta ya. Namun setidaknya dia sudah memiliki bisnis yang baik. Bisnis yang baik ini menunjukkan keberhasilan dari pengalaman dan ilmu yang digunakan selama ia mengembangkan bisnisnya. Jadinya kan kita lebih percaya untuk belajar dengan si dia, karena toh sudah terbukti omsetnya lumayan bagus


Ketiga, pastikan mentornya bersedia
Ini yang enggak kalah penting nih. Mentor harus bersedia direpotin. Karena kita sebagai pembelajar akan sibuk bertanya, ngeyel masalah ini itu, bingung gimana ini gimana gitu. Makanya mentor harus yang benar-benar bersedia untuk menjadi mentor.

Sudah siap menemukan sang mentor? Semoga segera bertemu sang mentor kalian ya. Dan jika sudah menemukannya, teruslah belajar darinya. Ambil ilmu sebanyak-banyaknya darinya. Oh ya, jangan lupa untuk senantiasa mendoakan beliau, semoga bisnis dia dan bisnis kita semakin berkembang. Aamiin.

Kalau ada yang bertanya siapa mentor bisnis aku. Nih aku kenalin orangnya. Taraaaaa dia adalah gadis yang memakai jilbab garis cokelat ini. Percaya deh, gadis ini benar-benar memotivasi aku banget untuk segera terjun ke dunia bisnis online. Bahkan tak ayal semua printilan kecil bisnis onlineku dia yang uruskan. Mengajarkanku secara perlaham dan kemudian melepasknaku ketika aku sudah benar-benar paham.
Ahh, semoga Allah terus memberkatimu ya Ty


Medan, 1 September 2020, 22 : 54


KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...