Monday, 25 June 2018

Resensi : Menjadi Murabbiyah Sukses



Judul               : Menjadi Murabbiyah Sukses
Penulis             : Cahyadi Takariawan dan Ida Nur Laila
Penerbit            : PT. Era Adicitra Intermedia
Halaman            : 210 halaman

Buku ini telah dikhatamkan sejak awal Juni, tetapi baru bisa mengulasnya di blog akhir Juni. Tentunya dengan alasan -eh lebih tepatnya pembenaran- karena kesibukan Ramadhan dan lebaran. Bukankah tidak seharusnya seperti itu? Harusnya ingat dan komitmen dong dengan azzam yang pernah terucap bahwa setiap hari harus menulis sebuah tulisan renyah untuk disetor di blog. Tapi ya, begitulah. Terkadang azzam itu bisa melemah, mengendur dan mengerut. Ahh, sudahlah! Aku akan mulai menulis lagi.

Buku ini adalah hasil kebaikan dan kemurahan hati kak Ayu, teman ngajar di Primagama. Awalnya iseng aja sih minjam buku sama beliau, karena aku tahu beberapa buku beliau telah di ‘hijrah’ kan pulang kampung. Sehingga pastilah buku beliau di Medan gak akan banyak. Qadarullah tiba-tiba di kantor Primagama, beliau menyerahkan buku ini kepadaku.

Glek. Aku menelan ludah ketika kak Ayu menyerahkan buku ini. Sedikit menggigil ketika menerima buku ini. Tentu ada banyak buku kak Ayu yang masih tersisa di Medan, tetapi kenapa si kakak harus meminjamkan buku ini ya? entah apa maksud kak Ayu meminjamkan buku ini kepadaku. Seolah beliau sedang menampar diriku dengan keras lalu mengatakan;
Nah, lu baca nih buku. Terus urus kelompok halaqoh elu yang berantakan itu”.
Astaghfirullah.

Ini adalah buku lama. Terbit pada tahun 2005, itu sekitar 13 tahun yang lalu euy. Hmm, waktu itu aku masih berseragam putih dongker, hahaha. Pengarangnya? Duuh please  deh jangan ditanya. Ketika aku melihat siapa pengarang buku ini, aku seolah tidak punya alasan lagi untuk menunda membacanya. Siapa lagi kalau bukan pak Cahyadi Takariawan, seorang qiyadhah, ustadz, dan sekaligus mentor tulisanku. Jujur, aku sukaaa banget dengan tulisan pak Cah. Selain to the point, beliau juga menulis dengan jelas, runut, dan detail. Tidak hanya itu, irisan pemikiran antara aku dan Pak Cah juga membuatku semakin menyukai tulisan beliau. Ya, tentu saja termasuk irisan wajihah, irisan guru besar, irisan ilmu pengajian, dan terlebih lagi irisan partai politik. Heheh.

Buku ini adalah panduan bagaimana seharusnya seorang murabbiyah membina para mutarobbinya. Duh, pada bingung ya? kok banyak banget istilah yang gak familiar nih? Makanya, ikut halaqoh dong, heheh. Murabbiyah merupakan sebutan untuk guru ngaji yang perempuan. Well, sama seperti ustadzah deh. Sedangkan mutarabbi merupakan sebutan untuk para anak didik dari sang murabbiyah. Nah, sudah paham kan?

Berarti ini buku edisi akhwat (perempuan) dong? Yap, benar sekali. Terus kenapa pak Cah yang nulis buku tentang akhwat? Nanti relate gak tuh? Tenaang, pak Cah menulis buku ini gak sendirian kok. Beliau merekrut seorang perempuan tarbiyah terbaik yang beliau miliki. Siapa lagi kalau bukan istri yang paling dicintai pak Cah, buk Ida. Jadi, pak Cah dan bu Ida berkolaborasi menuliskan buku ini untuk membahas bagaimana seorang murabbiyah membina kelompok halaqohnya. Ahh, what the perfect combination  deh.

Seperti biasa, pak Cah dan bu Ida amat apik menuliskan buku ini. Dimulai dari penjelasan apa itu tarbiyah, mengapa seorang akhwat harus tarbiyah, bagaimana memulai tarbiyah, sampai kepada hal-hal yang diperlukan untuk memulai proses tarbiyah. Saking detailnya, buku ini juga menjabarkan dengan jelas dan rinci, dilengkapi berbagai dalil. Jadi, buat kamu yang bingung apa itu tarbiyah, buku ini cocok banget menjawab kebingungan kamu. Buat kamu yang sudah paham tetapi terkendala mengenai langkah pertama, percaya deh buku ini akan menyingkirkan segala kendala itu. Begitu juga, jika kamu sudah terjun ke dunia tarbiyah dan tiba-tiba butuh suntikan semangat (ah, mungkin ini aku), maka buku ini juga cocok untuk kembali menyegarkan pengetahuan dan motivasi kamu tentang tarbiyah. Ahh, pokoknya puass banget deh membaca buku ini.

Pak Cah dan bu Ida juga melengkapi buku ini dengan beberapa kisah nyata dari pelaku tarbiyah. Tentang bagaimana mereka menemukan tarbiyah, tentang jatuh bangun dalam mengelola kelompok halaqohnya, atau suka duka menjadi murabbiyah. Semuanya terangkum dalam cerita pendek tentang mereka, yang benar-benar menginspirasi. Bahkan ketika membahas bagaimana mengelola halaqoh, pak Cah dan bu Ida menyajikannya dalam bahasa yang benar-benar praktis. Beliau memberikan saran yang langsung ‘siap pakai’ bagi murabbiyah untuk dipraktikkan langsung ketika mengelola kelompok halaqoh. Keren kan?

Tarbiyah itu seperti menggesek biola. Ia menganalisa fitrah manusia secara cermat, menggesek seluruh senar dan nada sehingga menghasilkan sebuah suara yang merdu ( page 4 ).

Aku sendiri adalah pelaku tarbiyah. Aku merasa beruntung karena mengenal tarbiyah sejak tahun 2009. Well, tentunya belum seujung kuku pak Cah dan bu Ida. Tetapi dua orang hebat ini benar-benar menginspirasiku agar tetap istiqomah di jalan tarbiyah ini. Nah, kamu gak mau ikutan tarbiyah juga?





Medan, 26 Juni 2018, 09 :11 WIB
Terima kasih atas ‘tamparan keras’ melalui buku ini ya kak Ayu, pak Cah dan bu Ida. Pokoknya benar-benar harus merapikan kembali kelompok halaqoh yang berantakan. Keep Hamasah !!

Saturday, 9 June 2018

Saksi Perubahan Diriku

Bukit Naang, Bangkinang, Kabupaten Kampar


Foto ini diambil sekitar tujuh tahun yang lalu. Ya, itu adalah waktu yang lama untuk menunggu. Tapi waktu yang masih begitu singkat untuk menyebutnya dengan kenangan. Begitulah, bagiku mereka belum masuk ke dalam memori kenangan. Aku masih beranggapan mereka masih ada, dekat, ketawa bersama, susah payah sama-sama. Hihihi. Well, mungkin kebersamaan itu memang bukan kontak fisik layaknya tujuh tahun yang lalu. Bertemu dengan wajah mereka secara virtual saja sudah sangat menyenangkan hatiku. Mengobrol panjang dengan mereka melalui sentuhan jari di layar smartphone juga sangat memuaskan. Sesekali mendengar intonasi dan nada suara mereka juga telah mengobati sebongkah rindu.

Mereka adalah teman satu kelas dan satu angkatan ketika aku masih unyu-unyu berkuliah di Universitas Riau? *kamu unyu? Eh, skip aja*. Jumlah kami yang minimalis satu angkatan (just 48 orang) ya benar-benar membuat lumayan dekat dan akrab satu sama lain. Hmm, sebenarnya gak juga sih, tetapi ada kelompok-kelompok tertentu di dalam kelas, tapi kalau udah hangout  seperti ini ya no more gank lah, hihi.

Mereka bukan hanya sekadar teman satu kelas, teman makan siang ke kantin, teman sama-sama nunggu dosen pembimbing, atau teman yang nyontek-in tugas kuliah *eh, afa-afaan ini*, atau teman yang sigap menghubungi jika ada kuliah ganti atau dosen gak datang. Bagiku malah mereka bukan sekadar teman atau sahabat, mereka itu adalah saksi perubahan diriku. Mereka adalah orang-orang yang menyaksikan bagaiman proses aku dari ulat, larva, pupa, terus menjadi kupu-kupu, *tapi, sekarang masih belum jadi kupu-kupu juga sih*. Intinya, mereka adalah orang yang tahu ritme perubahan dalam diriku.

Tentunya bukan hal yang mengejutkan. Bersama mereka itu hampir empat tahun lamanya. Wajar dong jika mereka melihat empat tahun episode kehidupanku. Wajar juga jika mereka melihat aku-nya yang dulu pemalu, berantakan tiba-tiba telah menjadi seseorang seperti sekarang, *memangnya sekarang gimana ya, hehe*

Mereka menyaksikan aku yang dulunya masih pakai celana kemanapun pergi, hingga sekarang bermetamorfosa dengan mengenakan rok atau gamis. Mereka juga yang menyaksikan aku yang dulu jilbabnya masih “lempar kiri kanan” hingga sekarang tak berdaya lagi untuk ‘melempar’nya. Bahkan proses hijrah itu terdokumentasikan dengan jelas di setiap foto-foto kami. Ahh, bahkan jadi malu dengan foto studio yang fenomenal itu. Foto dengan nuansa hitam putih dan almamater kampus itu masih menampilkan aku yang belum berhijrah. Jadi, jangan terkejut jika kalian menemukan di foto itu seorang gadis yang jilbabnya dilempar kiri kanan serta memakai jeans, hiks.

Dari mereka aku juga belajar banyak hal. Belajar tentang bagaimana harusnya kalau ngomong di depan umum. Aku yang dulunya pemalu banget setiap ngomong, suka terbata-bata kalau ngomong di depan kelas, dan alhamdulillah sekarang menjadi lebih berani. Ini berkat mereka, yang secara sengaja atau tanpa sengaja mengariku akan hal ini.

Dari mereka aku juga banyak belajar tentang profesiku. Mereka mengajariku yang dulunya sangat tidak paham dengan istilah definit positif sampai akhirnya aku berhasil membuktikan Teorema Butterfly. Aku, yang masih begitu tidak paham dengan materi kuliah, sering mendapatkan les gratis dari mereka. Dengan kebesaran hati, mereka rela meluangkan waktu setiap selesai kuliah untuk mengajariku beberapa materi yang tidak aku pahami. Mereka juga tidak sungkan berbagi catatan kepadaku. Aah, aku yang dulunya teramat bodoh mengenai profesi ini benar-benar tercerahkan oleh kebaikan hati mereka. Masha Allah.

Mereka juga membelajarkan aku tentang agama. Ahh, aku yang dulunya hampir tidak peduli dengan urusan agama. Paling malas ketika urusan agama dibawa-bawa dalam urusan dunia, astaghfirullah. Lalu mereka dengan sabarnya mengajariku tentang bagaimana urgensinya agama dalam dunia. Tentang bagaimana seorang muslim harus benar-benar kaffah dengan keislamannya. Tentang bagaimana seorang muslimah itu berpakaian, berpola tingkah laku, bergaul. Hingga akhirnya mereka membuatku merasakan momen yang disebut dengan ‘hijrah’. Mereka akhirnya mengubah pola pikirku sehingga sekarang aku merasa bahwa agama adalah hal paling prioritas dalam hidup. Mereka yang membuat hidupku yang ‘berantakan’ menjadi lebih teratur.

Dan begitulah mereka. Sekumpulan malaikat langit yang Allah kirimkan untuk menjagaku, mengajariku dan membimbingku selama di dunia. Mereka adalah saksi perubahan diriku. Bukan hanya perubahan fisik, gaya berpakaian atau pola tingkah lakuku, tetapi juga perubahan pola pikir dan prinsip hidupku. Empat tahun bersama mereka adalah episode terindah dalam hidup. Terima kasih karena kalian telah membuat lukisan kehidupanku lebih berwarna, terima kasih telah memberikan warna berbeda dalam lukisanku, dan tentunya terima kasih telah menjadikan diriku seperti sekarang ini. Aah, aku merasa menjadi pribadi yang lebih baik setelah bertemu kalian. Masha Allah.





Payakumbuh, 9 Juni 2018, 20 : 29 WIB
In frame ; ini adalah dokumentasi terakhir kami jalan-jalan ke salah satu arena outbond di Kabupaten Kampar. Setelah ini, kami benar-benar tidak pernah lagi hangout barengan lagi, hiks. Eh, kok tiba-tiba merindukan kalian semua ya? Lets Robithoh and Lets Al Fatihah (especially for Alm.Zul)

Monday, 4 June 2018

Catatan Wisuda


Judicium Ceremonial of Master Program

Siapa sih yang tidak memimpikan momen ini berlangsung dalam kehidupannya. Apalagi mahasiswa semester akhir yang masing ngos-ngosan dengan tugas akhirnya. Bisa segera merasakan momen wisuda adalah impian terbesar dalam hidup. Seolah kebahagiaan hidup paling paripurna itu didapatkan setelah mengecap momen wisuda. Jangankan mahasiswa semester akhir, mahasiswa baru pun juga berdecak kagum ketika acara perhelatan wisuda di gelar di kampusnya. Melihat senior yang berbaju toga itu kok ya rasanya keren banget, rasanya bahagiaaa banget.

Eh, apakah sebenarnya wisuda itu menyenangkan? Membahagiakan? Aah tentu saja. Aku yang notabene nya sudah dua kali merasakan prosesi wisuda gak akan pernah lupa gimana rasa deg-degan setiap wisuda. Seolah wisuda itu punya sensasi tersendiri.

Momen wisuda membuat lupa bagaimana jerih payah masuk ke kampus favorit. Dulu sebelum masuk kampus berjuang mati-matian, ada yang lewat jalur undangan, ada juga yang diharuskan mengikuti seleksi masuk kampus. Walau masuk ke kampus favorit itu susah dan nyesek banget, tapi keluarnya (read : wisuda) itu tetap harus disegerakan. Jadi teringat kata senior “dek, masuk kampus ini susah, udah masuk malah mau cepat-cepat keluar”. Ahh, pemikiran yang sedikit aneh menurutku, heheh.

Wisuda itu membuat lupa bagaimana rasanya bergadang mengerjakan tugas kuliah, laporan praktikum, laporan penelitian, algoritma program. Tugas kuliah itu benar-benar kayak tukang bubur naik haji atau cinta fitri atau tersanjung, gak ada habis-habisnya, hehehe. Prediksi seorang mahasiswa itu ia bisa menghabiskan week end dengan bermalas-malasan di kos, tetapi takdir berkata lain, ia harus berkutat dengan laptop, artikel ataupun buku.

Wisuda juga membuat lupa bagaimana rasanya ketika tugas akhir dipenuhi oleh tanda cinta dari dosen pembimbing. Semua bab ada coretannya, ketika ditanya salahnya dimana ya pak?, lalu beliau dengan lugu, polos dan tak berdosa menjawab cari sendiri lah. Allahu Akbar!! Ini tuh lebih parah dari di PHP-in euy, *uhuk*. Belum lagi harus ada drama kejar-kejaran dengan si bapak. Ketika kita masuk lewat pintu depan, ee si bapak kabur lewat pintu belakang. Aah, sakitnya itu dimana-mana. Atau yang paling melatih kesabaran, kita udah hampir 3 jam nungguin di depan ruangan beliau, menghubungi beliau tapi gak aktif, terus tiba-tiba beliau memberi kabar maaf ya, saya lupa kalau kita ada janji. Bunuh aja saya pak, bunuh aja, hahaha. Ini nih derita mahasiswa semester akhir banget.

Wisuda pun membuat lupa tentang rasa deg-degan ketika sidang tugas akhir berlangsung. Mulut tergagap menjawab pertanyaan dari empat dosen mengenai hasil penelitian kita, dimana keempat dosen itu bukanlah dosen kemarin sore, melainkan mereka yang sudah maral melintang di profesinya. Betapa keringat dingin membanjiri tubuh ketika ada seorang dosen yang tiba-tiba walk out. Betapa adrenalin diproduksi dengan maksimal ketika seorang dosen dengan lantang memberikan pertanyaan yang susah atau dengan santainya mencampak-campakkan tugas akhir kita. Ahhh, sensai naik roller coster kalah deh dengan sensasi sidang tugas akhir.

Wisuda memang membuat segala kesusahan dan kepayahan itu menjadi sebuah fatamorgana. Dan orang-orang yang menyaksikan prosesi wisuda tentu tidak tahu bagaimana susah dan payahnya diri ini tertatih-tatih menuju gerbang wisuda. Para penonton wisuda itu hanya melihat kesuksesan yang telah kita capai dan melupakan bagaimana capeknya mendapatkan moment wisuda, bagaimana sakitnya jiwa raga ini.

Dan begitulah, setiap wisuda itu akan selalu ada cerita. Wisuda itu selalu memberikan sebuah pengalaman luar biasa, memberikan gambaran kebahagiaan yang tiada terkira. Dan memberikan rasa yang ingin lagi, ingin lagi, seperti candu. Aah, kok  jadi kepengen wisuda lagi ya? Aku sempat menuturkan masalah keinginan untuk wisuda lagi (read : doctoral program) kepada salah seorang sahabat. Aku pikir akan mendapat sebuah suntikan semangat, kata-kata motivasi atau apa lah gitu, ternyata tidak.

“Jika tesis dikerjakan seorang diri, apa bedanya tesis dengan skripsi. Dan jika disertasi dikerjakan seorang diri, apa bedanya disertasi dengan skripsi. Paham masukku toh?” kurang lebih begitulah kalimat menyakitkan ini keluar dari mulutnya. Menyakitkan. Jleb banget. Nohok. Nampar keras. Semuanya deh. Tapi apa bener seperti itu? Terus aku-nya harus gimana? Hmmm *let me think*. Dan akhirnya baca panduan beasiswa LPDP. Hehehe


Medan, 05 Juni 2018, 11 : 16 WIB
Foto ini adalah wisuda besar-besaran teman satu gank, satu kelas, satu perjuangan tapi gak satu nasib. Hehe. Foto ini diambil sekitar Oktober 2015. Please jangan tanya aku kenapa gak pakai toga di foto itu, hehe.

Saturday, 2 June 2018

Resensi : Diary Garpu Tala



Judul            : Diary Garpu Tala
Penulis          : Nasrullah
Penerbit         : KMO Indonesia, 2018
Halaman        : 180 halaman

Buku ini adalah hasil marketing luar biasa dari salah seorang teman pengajianku, kak Ade. Sebagai reseller buku ini, kak Ade memang berhasil banget mempengaruhiku untuk membelinya. Gimana nggak berhasil coba, setiap kajian mingguan beliau selalu menghipnotis aku dengan kalimat-kalimat menakjubkan dari buku ini. Belum lagi chat  pribadi kami yang tiap harinya nge-gosipin buku ini. Aiih.

Kak Ade pun sedikit spoiler isi buku ini kepadaku. Yang katanya ada trik biar rezeki mengalir dengan lancar, katanya ada tips bagaimana menenangkan hati yang galau, bahkan sampai menemukan jodoh melalui Al Quran. Nah, siapa yang bisa menolak diberi tawaran seperti itu, hehe, apalagi tawaran ketiga, ahh Masha Allah. Dari cerita kak Ade sih isi buku ini sangat menarik. Bahkan ini merupakan ilmu baru bagiku. Aku belum ketemu buku seperti ini sebelumnya. Tidak hanya itu, ketika aku membaca ulasan dan testimoni buku ini, aku kembali dikejutkan oleh dua nama teratas yang memberikan komentar positif terhadap buku ini. Mereka adalah guru dan ustadz yang menginspirasiku, yaitu Ustadz Yusuf Mansyur dan Mas Ippho Santosa. Nah, sepertinya tidak ada lagi alasan bagiku untuk tidak memiliki buku ini.

Dan begitulah, buku ini akhirnya masuk ke perpustakaan pribadiku. Aku PO buku ini dari April dan baru sampai di genggamanku akhir Mei. Eh, itu artinya hampir satu bulan kan ya? bener banget. Selama proses penantian buku ini, aku benar-benar harap-harap cemas *kayak nunggu jodoh, hehe*. Tiap hari nge-japri kak Ade nanyain bukunya udah nyampe atau belum, hihi. Maafkan kalau adek kakak yang satu ini ngeyel jiddan.

Pengarang buku ini adalah Nasrullah, lebih akrab dipanggil pak Nas. Ini adalah buku seri Magnet Rezeki. Beliau menulis buku ini karena terinspirasi dari percobaan fisika yaitu garpu tala. Do you remember it? Baik. Aku coba jelaskan ya *perbaiki kerah baju, hehe*. Jika ada dua garpu tala yang diletakkan, dan satu garpu tala digetarkan maka garpu tala yang lain pasti juga akan ikut bergetar. Eh, kok bisa? Ya iya lah, kan pakai media suara.

Menurut pak Nas hidup kita layaknya garpu tala. Kadang kita harus menggetarkan garpu tala yang satu agar yang lain juga ikut bergetar. Terus apa sih yang harus kita gerakkan? Hati dan pikiran. Getarkan hati dan pikiran agar selalu positif terhadap apapun yang terjadi. Hati dan pikiran yang positif ini selanjutnya akan menggerakkan semesta untuk mem-positif-kan hidup kita.

Ibarat antena, seperti itulah cara kerja hati dan pikiran. Ada banyak frekuensi yang mengudara di atas sana, tetapi jika antena hanya diatur untuk menarik frekuensi tertentu, ya frekuensi itu saja yang akan ditarik, yang lain tidak akan ditarik. Begitupun pikiran dan hati kita. Jika ia dilatih untuk menarik sesuatu yang baik, ya itulah yang akan ditarik. Pikiran yang jahat dan buruk tidak akan bisa ditarik. Inilah yang kemudian seharusnya menjadi pe er kita bagaimana melatihnya agar terus berpikiran positif. Kata pak Nas tidak cukup dengan pikiran positif, setidaknya ada tiga bagian yang utama dan penting yaitu positive thinking, positive feeling, dan positive motivation (halaman 6).

Pertanyaannya, bagaiman sih cara menggerakkan hati dan pikiran? Nah, pak Nas memberikan jawaban terbaik yaitu Al Quran. Tiada masalah hidup yang tidak selesai dengan Al Quran. Percaya kan? Kalau gak percaya mending gak usah baca buku ini deh, hehe. semua persoalan baik itu perihal rezeki, sakit atau jodoh, semuanya ada di dalam Al Quran. Bahkan sebuah kalimat indah dari Abu Bakar ‘seandainya aku kehilangan tali pecut unta, aku akan menemukannya dalam Al Quran’ (halaman 29).  Masha Allah.

Pak Nas menggunakan istilah garpu tala ketika berinteraksi dengan Al Quran. Sebuah metode yang ia temukan, ia praktikkan sendiri, dan menyuruh orang lain melakukannya. Alhamdulillah metode garpu tala ini benar-benar bekerja dengan baik. Kata pak Nas, langkah pertama ya harus yakin dulu bahwa penyelesaian masalah ada di dalam Al Quran. Setelah itu luruskan niat, berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Ambil wudhu, sholat, baca istighfar. Kemudian buka deh Al Quran, terserah halaman berapa. Lalu pilih satu ayat, terserah ayat apa saja. Baca dan renungkan ayat tersebut. Insya allah itu jawabannya. Gampang kan? Jadi, kalau ada masalah di garpu tala-in aja deh!

Ini adalah sebuah buku praktis. Semua hal yang tertuang di buku ini sifatnya aplikatif banget, artinya kamu bisa langsung mempraktekkannya. Pak Nas juga membubuhkan beberapa cerita tentang orang-orang yang menggunakan garpu tala dalam penyelesaian masalah hidupnya. Dari seorang ibu yang frutasi kehilangan anaknya, seorang wanita yang terlalu lama menunggu jodohnya, seorang anak kecil yang tidak betah berada di pesantren, istri yang selalu marah dengan apapun tindakan suami. Aah, ada banyak kisah nyata di buku ini. Kisah nyata ini semakin menguatkan pembaca bahwa Al Quran memang menyimpan keajaiban sendiri dalam menyelesaikan masalah hidup manusia.

Percaya deh, kamu akan benar-benar penasaran dengan isi buku ini. Tentunya aku gak akan spoiler banget. Pokoknya, kalau ada masalah, ada keinginan, ada keraguan, kegelisahan atau apapun yang kamu rasakan, tinggal di garpu tala-in aja. Penasaran? Langsung cobain aja deh.




Medan, 02 Juni 2018, 10:35 WIB
Jadi kepingin ikut camp nya Magnet Rezeki pak Nas deh. Biar ilmu Garpu Tala makin oke. Dan tentu saja biar makin percaya sama Allah dan Al Quran. Dan yang paling penting, biar cepat ketemu kapten!! *uhuk*

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...