Thursday, 11 June 2020

Usaha VS Hasil

 

 

“Kak, aku udah usaha maksimal nih. Tapi kok hasilnya gak sesuai dengan usahaku ya?”

“Katanya hasil tidak mengkhianati proses, tapi kok aku merasa dikhianati ya?”

 

Apakah kalian pernah mengalaminya?

Ahh, aku yakin tentu saja. Hampir semua orang pernah merasakan hal semacam ini. Semua orang pernah memiliki perasaan bahwa hasil tengah mengkhinati proses yang dilakukannya.

 

Lalu, apa yang kalian lakukan?

Kecewa? Sedih? Menyerah? Marah?

Ahh, kurasa perasaan ini sangat wajar sekali hadir di dalam hati. Bagaimana tidak, usaha yang telah dilakukan secara maksimal tentu saja diharapkan membuahkan hasil yang sesuai harapan. Namun, pada kenyataan malah berbeda.

 

Jika kamu sedih kemudian menangis maka itu hal yang manusiawi banget. Namun, jika kamu memilih menyerah, aah kurasa itu bukan pilihan yang tepat. Percayalah, sepelik apapun kondisi saat ini jangan sampai menyerah menjadi pilihan. Menyerah bukanlah langkah yang tepat.

 

Menangislah jika itu memang membuatmu merasa lebih baik. Mengeluhlah jika dengan itu uneg-uneg dan segala kecewa hatimu bisa melebur. Tapi sekali lagi, jangan menyerah. Jika kamu memilih untuk mengibarkan bendera putih, itu artinya kamu memilih kalah. Dan sebanyak apapun orang menyemangatimu tidak akan berpengaruh apapun. Makanya jangan menyerah.

 

Mari ber positive thinking aja. Jika sampai saat ini Allah masih menangguhkan segala harapanmu padahal usaha kamu udah mati-matian banget, keep positive  saja. Mungkin saja Allah belum ridho untuk mengabulkan harapan itu. Atau bisa jadi Allah sedang menyiapkan hadiah yang lebih besar lagi. Jangan-jangan Allah juga sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberikan hadiah itu kepada kamu. Bisa saja sebentar lagi kan?

 

Ingat ya!

Tugas manusia itu hanya berusaha maksimal.

Urusan hasil itu hak perogeratif nya Allah. Gak usah risau, gak usah cemas perihal hasil dari usahamu. Kamu pasti akan mendapatkan apa-apa yang telah kamu usahakan. Percaya aja deh sama Allah.

 

 

 

 

Medan, 11 Juni 2020, 22: 10 WIB

 

 

 


Wednesday, 27 May 2020

Segera Nikmati

 

Udah lama banget aku gak bahas tentang bisnis kan ya? Maafkan yang teman-teman. Kali ini aku mau ngebahas tentang bisnis deh. Tentang bagaimana cara agar owner merasa bahagia dalam menjalankan bisnisnya.

Nah, menurut kalian apa sih yang membuat seseorang merasa bahagia dalam bisnis?

            “Bisnisnya lancar”

            “Profitnya gede”

            “Customernya banyak”

Dan masih banyak hal lainnya yang bisa kita jadikan indikator dari seorang owner yang bahagia.

Namun, hal receh yang paling membuat seorang owner itu bahagia adalah menikmati hasil dari bisnisnya. Wah, kalau aku pasti bahagiaaaa deh, pake banget malahan.

Apakah penting menikmati hasil bisnis? Kan profitku masih kecil banget. Kan bisnisku belum maju kayak yang lain. Mending uang profit kuputar jadi modal lagi deh biar bisnisku makin berkembang. Bla bla bla, ada banyak alasan owner bisnis online yang menolak untuk menikmati hasil bisnisnya.

Nah, bagaimanapun profit bisnis kita entah itu udah besar atau kecil banget. Atau juga yang masih ngerasa incomenya masih standard bahkan jauh di bawah rata-rata. Stop berkecil hati berendah diri dan merasa gak becus. Namanya juga pemula, yaw ajar dong jika incomenya masih dikit. Pelan-pelan income itu akan beranak pinak dengan sendirinya dong.

Walaupun income masih sedikit, para owner kudu dan harus menyegerakan menikmati hasilnya. Harus ada lho alokasi dari income itu untuk owner. Nah lho.

            “Lho, kok gitu?”

            “Kan income nya masih sedikit?”

            “Mending buat tambah modal aja”

Dan masih banyak celetukan lainnya. Sini coba aku jelasin versi aku.

Kerja keras kita dalam membangun bisnis tentu bukan hal yang mudah. Kadang kita lelah, capek dan ingin menyerah saja. Terlebih lagi melihat income yang masih jauh dari pengharapan. Duh, bisa baper tingkat dewa tuh. Imbang-imbang ditanyain kapan nikah lah, padahal calon belum ada, hadoooh. Kebaperan ini bisa membuat malas atau malah menyerah kan. Kemudian muncul deh pikiran nakal

          “Sepertinya bisnis ini tidak cocok dengan saya”

Jangaaaaaan. Jangan lakukan itu.

Makanya, seorang owner harus segera menikmati hasil kerja kerasnya. Gunakan profit bisnis untuk beli tas baru, jam tangan baru atau tambahan biaya catering pernikahan, eh gimana sih, hehe. Gak usah harus yang mahal-mahal juga, pokoknya nikmati segera deh profit bisnis itu. Jika owner sudah merasakan hasil bisnisnya maka percaya deh, ia akan memiliki semangat yang membara. Ia jadi tahu nikmatnya berbisnis, malahan mungkin ketagihan dan semangat buat kembangin bisnisnya.

Hay para owner di luar sana.

Ada diskon belanja nih. Kapan-kapan belanja bareng ya?

Eh, habis pandemi saja ya. Hehehe



Medan, 27 Mei 2020, 22: 02

 

 

Thursday, 16 April 2020

Doakan Saja




Kalimat “doakan saja” adalah sebuah kalimat pamungkas dalam berbagai percakapan. Ya, terutama percakapan yang mengandung pertanyaan basa basi untuk mencairkan suasana. Sebagai orang timur kita tentu terbiasa memberikan pertanyaan basa basi, entah memang ingin tahu atau sekadar agar ada bahan obrolan.

Ada berbagai pertanyaan basa-basi yang sering kita dapatkan. Sebut saja pertanyaan kapan ini kapan itu, kapan begini kapan begitu, kapan kesana kapan kesini. Duuh, duuh. Selanjutnya pertanyaan ini akan memnuculkan jawaban basa-basi. Ya, jawaban yang sekadar basa basi doang agar kondisi percakapan masih berada di koridor yang aman dan grafiknya stabil. Eh. Jawaban basa-basi misalnya “hehehe”, “masa sih?”, “memangnya iya?”, “Ahh ada-ada saja”. Sampai ada satu jawaban basa-basi pamungkas yaitu “doakan saja”.

Dan ini juga menjadi jawaban favoritku ketika ada yang memunculkan pertanyaan aneh-aneh. Jawaban ini biasakan aku gunakan untuk sesuatu yang aku tidak tahu kapan pastinya. Ya, daripada aku menyebutkan waktu, terus tahu-tahunya nggak tepat waktu, eeh kan jadi malu. Selain itu pertanyaan netizen yang aneh-aneh itu terkadang memang aku tidak tahu kapan waktu pastinya. Maka mending aku jawab saja dengan jawaban pamungkas “doakan saja ya”.

Seiring berjalan waktu, ternyata “doakan saja” bukan hanya menjadi “jawaban basa-basi. Ia berubah menjadi sebuah sugesti bagiku. Begini, jika ada yang bertanya “kapan” terus aku menjawab dengan “doakan saja”, lalu ternyata seseorang itu benar-benar mendoakan. Nah lho. Hingga Allah mendengar setiap orang yang diam-diam mendoakan kita. Dan ternyata Allah benar-benar kabulkan. Kan Allah Maha mengabulkan doa.

Makanya, sekarang jika masih ada netizen yang suka nanya kapan ini, kapan itu, kapan anu, kapan blablabla. Aku akan sering menjawab dengan jawaban “doakan saja”. Lalu dalam hati kecilku berharap mereka diam-diam mendoakan dan ternyata Allah lebih mengijabah doa mereka.

Jadi kalau ada nanya hal serupa dengan kalian. Coba deh lakukan cara yang sama. Dijamin berhasil  dan lebih menenangkan.

Kapan nikah? Doakan saja

Kapan lanjut S3? Doakan saja

Kapan bukunya terbit? Doakan saja

Kapan waras? Doakan saja (eeh..eh.)




Medan, 16 April 2020, 21 : 12
Hari ini telah berhasil dilalui dengan waras dan bahagia. Yeaaay !!!

Tuesday, 14 April 2020

Pintar Tak Terlihat

Dewi Kwan Inn, Siantar, Sumatera Utara



Ada seseorang ketika di kelas hanya tidur, bermain atau sekadar bermalas-malasan. Akan tetapi, saat ujian atau presentasi ia mampu memberikan hasil yang maksimal. Seolah ilmu yang dipelajari selama ini tersimpan rapi di dalam batok kepalanya. Sehingga ketika ujian, semua jawaban soal mengalir dengan lancarnya.

Lalu, kita dengan naifnya mengambil kesimpulan bahwa ia memang pintar karena memang dasarnya pintar. Kita menyimpulkan bahwa seseorang itu memang pintar secara genetis. Melihat anak professor yang dapat prediket cum laude di kampus, lalu kita beranggapan :
            “Wajar dia pintar, keturunan sih. Bapaknya saja professor”
Melihat teman nyatri yang hafalannya sudah berjuz juz, otak kita pun berpikir :
            “ya iya lah, dia anak Hafizh quran”

Perasaan ini terus menjadi-jadi, hingga dengan tanpa rasa bersalah, kita mendeklarasikan diri bahwa kita tidak akan mampu seperti dia. Kita merasa bahwa dia menjadi hebat, pintar adalah karena anugerah Illahi. Kita tak akan mampu menjadi seperti dia karena Tuhan tidak memberikan anugerah itu kepada kita.

Hingga akhirnya kita tetap bertahan menjadi kita. Tidak ada upaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Merasa bahwa diri ini memang sudah seperti ini takdirnya. Kita enggan untuk bercermin kepada kesuksesan orang lain. Kita terus men-judge bahwa kesuksesan orang lain semata hanya karena faktor keberuntungan. Astaghfirullah

Hal ini seperti ini sudah jelas harus segera diluruskan. Bisa saja bukan keberuntungan orang lain yang menjadi persoalannya, melainkan cara berpikir kita saja yang kurang jeli. Orang-orang yang kelihatan santai dan cuek, namun memiliki nilai ujian yang cemerlang, bisa saja bukan mereka yang pintar dari lahir. Sangat besar kemungkinan bahwa ia tidak pintar dari lahir, melainkan ia berusaha pintar tapi tidak merasa terlihat.

Tanpa kita ketahui, bisa saja ia telah minum kopi agar bisa terus terjaga sepanjang malam untuk belajar. Bisa saja mulutnya telah berbusa melafalkan semua rumus-rumus yang akan keluar ketika ujian. Ia begitu berusaha maksimal untuk mendapatkan hasil yang bagus dalam ujiannya. Hanya saja ia tak melakukan itu di depan kita. Karena ia memang ingin pintar tapi tidak terlihat oleh orang lain.

Atau juga bisa saja ia mati-matian membaca buku tentang materi yang akan diajarkan oleh bu Guru. Sehingga ketika belajar ia tetap mampu menjawab pertanyaan bu Guru walau ia sedang membaca komik. Apakah ia pintar dari lahir? Belum tentu.

Terkadang ada yang kerjaannya tidur di kelas atau sibuk bermalas-malasan selama pembelajaran. Kita lupa kenapa ia bisa tidur di kelas atau bermalas-malasan? Aah, barangkali ia telah paham dengan apa yang guru atau dosen ajarkan. Namun kita tidak begitu, selalu mengambil kesimpulan dari sudut yang salah.

Begitulah, kita tidak akan pernah benar-benar tahu bagaimana seeorang itu bekerja keras untuk meningkatkan kualitas dirinya. Yang sering kita lakukan adalah mengambil kesimpulan dari sekelumit kisah hidup mereka yang terlihat. Itu sungguh aneh bukan?

Hingga akhirnya kita sendiri yang memilih untuk kalah sejak awal. Kita takut memulai peperangan karena salah dalam melihat lawan. Teman yang kritis kita anggap skeptis. Teman yang hebat, kita beranggapan itu sebuah bakat.

Kita terbiasa mencari-cari alasan untuk memaklumi kemalasan diri sendiri. Menganggap diri ini tak mampu, tak berdaya. Kesuksesan orang lain adalah hasil genetis yang ia peroleh atau anugerah Illahi yang tengah berpihak padanya.

Nah, kalau sudah begitu bagaimana bisa kita meningkatkan kualitas diri?





Medan, 12 April 2020, 21 : 53
Ditulis untuk mencambuk keras jiwa yang tengah dilanda kemalasan.


Sunday, 12 April 2020

Ice Breaking : Face Your Face




Kenapa di setiap tulisan ada spasi? Kenapa di setiap cerita ada paragraf? Agar si pembaca bisa mengambil jeda. Agar si pembaca mampu menganalisis setiap kalimat yang tengah ia baca. Nah, dalam belajar pun perlu ‘mengambil jeda’. Terlebih lagi pada mata pelajaran yang membosankan, rumit,  susah, atau bikin sakit kepala. Matematika misalnya.
                                                                 
Sudah seharusnya pengajar matematika mengambil jeda dalam mengajarkan matematika kepada siswa. Hal ini bertujuan agar para siswa bisa menarik nafas atau bisa memahami materi dengan lebih baik lagi. Sudah menjadi rahasia umum kan ya betapa susahnya pelajaran matematika. Lalu bayangkan seorang pengajar matematika mengajar tanpa mengambil jeda. Duuh, gak kebayang deh mumetnya isi kepala siswa.

Bagaimana bentuk mengambil jeda?

Guru boleh berkreasi dengan bebas apapun bentuk ‘mengambil jeda’ yang ia lakukan. Tentu saja hal ini menyesuaikan dengan sarana prasarana sekolah, kualitas siswa atau kepadatan materi yang diajarkan. Jangan bayangkan bahwa mengambil jeda ini adalah membiarkan siswa tidak belajar. Oh, tentu tydaccck Fergusso.

Perlu trik yang handal bagi para guru untuk mengambil jeda namun tidak mengganggu aktivitas pembelajaran. Namanya juga mengambil jeda, ya itu artinya sebentar saja dong. Bukan berarti 2 jam pelajaran habis untuk relaksasi atau 3 sks habis untuk ngobrol ngalor ngidul di depan mahasiswa.

Ada beberapa alternative yang bisa dilakukan guru dalam melakukan aktivitas mengambil jeda. Misalnya menonton, bermain games, ice breaking, atau aktivitas fisik lainnya. Sesuaikan saja dengan kondisi siswa, lebih cocok menggunakan yang mana.

Bermain games sebenarnya adalah aktivitas mengambil jeda yang paling seru. Ia hanya membutuhkan waktu sebentar dan sangat ampuh mengembalikan konsentrasi siswa dan mood belajar siswa tentunya. Para guru bisa mencari berbagai permainan yang bisa dilakukan dalam waktu singat, gampang aplikasinya dan menyenangkan prosesnya.

Salah satu bentuk games yang oke adalah permainan ini. Aku menamakannya Face Your Face. Aku akan menyuruh siswa menyediakan kertas kosong satu lembar dan sebuah pulpen. Setelah itu, siswa disuruh untuk menempelkan kertas tersebut di wajah mereka masing-masing. Satu tangan memegang kertas, sementara satu lagi memegang pulpen.

Setelah itu, guru akan memberikan instruksi untuk menggambar wajah masing-masing. Lakukanlah dengan acak. Misalnya pertama “gambar mata kiri”, dilanjutkan dengan “Gambar bibir atas” dan begitu seterusnya. Lakukan instruksi ini sampai semua bagian yang ada di wajah tergambar di atas kertas itu. Jangan biarkan siswa melihat atau membalik kertas tersebut. Selama permainan kertas itu wajib menempel di wajah siswa.

Setelah menyelesaikan semua instruksi, guru boleh menyuruh siswa untuk membalik kertas itu dan melihat hasil gambar mereka. Lalu guru bisa mengatakan “Itulah bentuk asli wajah kalian”. Dipastikan siswa akan spontan tertawa meriah menggelegar melihat wajah yang mereka gambar sendiri. Bahkan di antara mereka tak malu menunjukkan hasil lukian wajah kepada temannya dan akhirnya mereka tertawa bersama.
Guru juga bisa menyampaikan pesan moral dari permainan ini. Misalnya ternyata wajah kita tak secantik yang dibayangkan. Makanya jangan sombong kalau memang cantik, karena sejatinya tidak ada yang benar-benar cantik secara fisik. Yang ada itu cantik secara hati. Duuuh, mendengar quote ini para abegeh abegeh akan meleleh langsung. Seolah mendapat suntukan semangat.

Tak perlu waktu lama melakukan permainan ini. Paling lama 15 menit deh. Dan kelas akan riuh, meriah. Tentu saja konsentrasi dan mood siswa telah kembali. Gampang kan? Jadi para guru bisa melakukannya di ujung pembelajaran menjelang tugas atau di tengah pembelajaran ketika suasana kelas sudah tidak bersahabat lagi. Hehehe.


Selamat mencoba!



Medan, 25 Maret 2020, 22 : 16


Monday, 10 June 2019

Partner Kerja

Bukber with TIF Pagi B at Marelan, North Sumatera


Siapa mereka?
Teman satu SMA? Teman kuliah? Atau teman kerja?
Bukan. Sama sekali bukan. Mereka adalah mahasiswaku. Ahh, jika kalian hendak mengatakan bahwa wajah kami yang hampir seumuran, oh please jangan lakukan ya ! Aku sudah terlalu sering mendapat pujian seperti itu, hehehe.

Ya, mereka adalah mahasiswaku. Mereka adalah orang-orang yang dengan sukarela dan terpaksa memasang kedua telinga mendengarkan penjelasan materiku di depan kelas. Mereka juga yang berbesar hati mengerjakan tugas yang aku berikan dalam jumlah yang tiada tara. Mereka juga yang berlapang dada ketika aku tiba-tiba memberitahukan keberhalanganku hadir secara mendadak (maafkeun ya guys). Dan mereka juga lah yang duduk diam mendengar semua ungkapan kekesalan ketika aku lagi bĂȘte tingkat dewa. Hahaha.

Tapi buatku mereka bukan hanya sekadar mahasiswa belaka. Bukan hanya orang-orang yang aku ajari ilmu matematika setiap seminggu sekali. Mereka juga bukan hanya orang-orang yang nasibnya berada pada ujung pena nilai yang akan aku berikan. Mereka juga buka hanya orang-orang yang dengan sesuka hatiku bisa aku lakukan segala hal, entah memarahi, entah menyuruh ini itu.

Bagiku, mereka adalah pelukis senyumku saat sederetan dedline kampus berseliweran di kepala. Percaya lah, tingkah konyol mereka, candaan remeh mereka adalah hiburan terbaik yang pernah ada. Kadang aku begitu kesal karena suatu masalah, tetapi ketika memasuki kelas mereka, mulai mendistribusikan ilmu kepada mereka, kok ya rasa kesal, marah dan sedih itu berkurang ya? Seolah bersama mereka adalah anastesi terbaik ketika sakit ini mulai terasa. Saking luar biasanya mereka, bahkan mereka mampu mengganti lukaku dengan bahagia, atau menghadirkan senyum di tengah badai yang melanda.

Mereka juga adalah wayang terbaik dalam opera yang dimainkan. Mereka siap bertingkah konyol, melemparkan guyonan terbaik, candaan berkelas ketika suasana di kelas mulai gerah dan panas. Mereka bahkan tahu kalau suasana hatiku sedang tidak bersahabat. Lalu mereka akan berupaya menghancurkan gunung kegelisahan itu dengan berbagai cara. Sehingga tanpa aku sadari gunung itu telah meleleh, Masha Allah.

Itulah mengapa, bagiku mereka bukan hanya sekadar mahasiswa. Bagiku mereka adalah partner kerja. Ya. Mereka yang membersamai hari-hariku di kampus. Mereka yang aku jumpai di lorong-lorong kampus. Bukankah itu definsi lain dari partner kerja kan?

Dan foto ini juga berhasil menjadikan aku sebagai partner kerja terbaiknya. Lihat saja, mereka berhasil menculikku hari ini. Membuat sebuah janji buka bersama yang telah direncanakan dengan baik. Dan entah kenapa aku dengan sigap mengiyakan undangan buka bersama dari mereka. Tanpa aku peduli dimana tempat buka bersama itu diadakan, entah bagaimana caranya agar aku sampai di tempat itu atau siapa yang akan mengantarku pulang di tengah malam setelah acara itu? Aku sama sekali tidak memusingkan hal itu.

Dan benar sajalah. Ternyata partner kerja terbaik ini telah mempersiapkan itu semua. Dengan mengutus salah seorang dari mereka yang siap mengantar dan menjemputku. Oh Liza, thank you so much. Kalau gak ada Liza, gak tahu nih nasib perjalanan pulang pergi ku ke tempat itu.

Perjalanan dengan Liza benar-benar luar biasa. Kami tuh mendadak banget berangkat ke tempat bukbernya. Karena Liza yang juga harus mempersiapkan buka puasa di rumahnya, belum lagi dia yang tersesat menemuka kos kosan kecilku. Hehehe. Alhasil kami baru berangkat sekitar 20 menit menjelang waktu berbuka tiba. Oh my god. Padahal perjalanan ke tempat bukber itu hampir 45 menit lho. Belum lagi macet karena sore begini adalah jam pulang kantor semua orang.

Tapi tenaaang, kami tidak harus berkecil hati atau patah semangat. Setelah berhasil mendaki gunung dan melewati lembah, saling berebutan jalan dengan kendaraan lain, dan terpaksa berbesar hati dengan berbuka di pinggir jalan, kami sampai ke tempat buka bersama ini. Jujur ya, aku baru ngeh kalau Marelan itu jauuuuuhh banget. Karena pegal banget pinggangku melewati perjalanan panjang ala Ninja Hatori.

Semua itu terbayarkan kok. Dengan sikap mereka yang sigap menyediakan tempat duduk istimewa, menyediakan bukaan special untukku. Luarrr biassa. Dan di akhir kebersamaan kami, akhirnya foto-foto ini adalah penutupnya. Hadir di tengah mereka benar-benar membuat aku merasa muda. Benaraaan deh. Hahahahaha.

Terima kasih untuk undangan buka puasa yang berkesan ini ya guys. Aku tahu, akan susah untuk menghadiri acara buka puasa bersama kalian lagi. Tetapi yakinlah, acara ini akan selalu tersimpan dan terkenang dalam setiap memori otakku.





Medan, 10 Juni 2019, 09 : 57 WIB
Pas buka galeri laptop, terus terpampang foto bersama mereka. Kok ya jadi pengen nulis sesuatu tentang mereka ya.

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...