Thursday, 20 July 2017

Ini Monas Yaak?


Monas, siapa sih yang gak kenal dengan benda ini. Benda yang merupakan icon dari ibu Kota Indonesia, Jakarta, ramai menjadi bahan perbincangan orang (eeh atau aku aja kali ya, heheh). Tapi kali ini aku gak mau ngebahas tentang sejarah monas, kapan dibangun, siapa yang membangun atau alasan dibalik pembangunannya. Silakan searching atau tanya guru sejarah aja yaa...opss.


Mungkin untuk sebagian orang tugu monas ini adalah hal yang biasa saja, ‘basi’, begitu beberapa ungkapan dari mereka. Tapi tentu tidak denganku, gadis lugu (cie elah) yang hidup di sebuah desa kecil di pinggir kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Buatku monas adalah cita-cita kecilku, karena dari kecil aku sangat menginginkan bisa melihat tugu itu langsung dengan mataku sendiri. Ntah kenapa aku selalu ingin segera sampai kesini, aku ingin melihat Monas.
“Suci mau ke Jakarta gak?”. Mau.
“Ntar di Jakarta mau ngapain? Ke Ancol ?”.  Gak, aku mau lihat Monas aja.
Ya Allah, cita-cita yang sederhana banget, hehehe.

Tapi sayang, kondisiku begitu sangat tidak memungkinkan. Dimulai dari kondisi ekonomi yang tidak bersahabat, waktu yang tak kunjung datang dan pertimbangan tidak adanya keluarga di Jakarta, membuatku mengurungkan niatku untuk berkunjung ke icon Jakarta itu. Buatku mendarat di Jakarta sehari atau dua hari saja adalah impianku, karena membayangkannya saja aku tidak bisa, takut, takut gak terwujud. Karena memang ada beberapa kondisi yang sangat tidak memungkinkan aku untuk bisa berpergian dengan jarak yang jauh dan biaya yang cukup mahal (dulu mah, tiket pesawat harganya melangit banget).

Tapi aku kan punya  Allah, aku minta langsung saja sama Dia. Dan ternyata Allah kabulkan permohonanku, Huaa...aku beneran gak nyangka banget, bisa menginjakkan kaki ke negeri para artis itu. Masha Allah. Alhamdulillah. Tahun 2014 aku menginjakkan kaki ke sana, Jakarta, Im Coming. Aku gak nyangka ternyata rencana Allah malahan lebih indah ketimbang rencanaku sendiri. Teringat dengan surat Ar Rahman deh, “Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”.

Bukan jalan-jalan atau memang sekadar mewujudkan salah satu impianku agar bisa berkunjung ke ibu kota negaraku itu, melainkan ada tugas dari NGO tempat aku bekerja. Kami diwajibkan untuk ikut pelatihan di Jakarta selama hampir satu minggu, bahkan tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Ya Allah, aku bukan berangkat ke Jakata dengan biayaku sendiri, aku sama sekali tak perlu memikirkan dimana aku akan menginap, bagaimana caranya agar aku bisa makan di Jakarta. Ternyata itu Allah yang uruskan. Allah yang pilihkan pesawat Garuda untuk perjalananku Medan-Jakarta, Jakarta-Medan. Allah yang pilihkan Hotel Sultan, tempatku menginap selama hampir seminggu di Jakarta, dan Allah juga yang urus makanan yang aku makan melalui dapur hotel yang kaya akan cita rasa itu. Sekali lagi aku katakan, Allah itu maha baik, Allah itu amat sayang dengan hamba Nya, bahkan ungkapan sayangnya itu kadang tak ternalar lagi dalam pikiran kita. Alhamdulillah.

Karena ini judulnya adalah pelatihan, alhasil dari pagi sampai sore kami harus berkutat dengan bahan, kertas, presentasi atau tanya jawab. Akhirnya waktu yang luang untuk menikmati indahnya kota Jakarta adalah di malam hari. Dan jadilah kami malam-malam mengitari kota Jakarta, termasuk berkunjung ke tugu Monas, jeng,..jeng...jeng...
Maafkan jika hasil kameranya tak seperti yang diharapkan, maklum anak kuliahan yang kos-kosan jadi hp pun ala kadarnya. Mereka adalah teman NGO ku, teman kampusku juga. Bersama merekalah aku mengitari kota Jakarta di malam hari.
 
Lho, kalian cuma pergi berempat doang? Ahh tentunya tidak. Untuk seseorang seperti kami, yang barus first step di Ibu Kota Negara pasti kebingungan dong ketika melihat kota Jakarta yang gedungnya tinggi-tinggi banget. Huaa... tenang, kami punya guide kok, teman SMA nya Siti yang bekerja di Jakarta. Dan inilah guide kami selama di Jakarta
Laki-laki yah? Tenang. Insya allah mereka laki-laki baik. Mereka mengajak kami berkelana dari sore sampai malam, Hahaha. Mereka pun menceritakan beberapa destinasi wisata di Jakarta. Dan aku sangat antusias mendengar setiap cerita dari dua laki-laki ini, Wah,..mungkin mereka melihat ke”katrok”an ku kali ya, yang begitu norak banget ketika melihat Jakarta, ketika melihat tingginya gedung atau ramainya lalu lintas di Jakarta.

 “Ini Monas Yaak”
Itulah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulutku ketika menyaksikan tugu itu berdiri kokoh dihadapanku. Mungkin dua orang guide kami tersenyum melihat pernyataanku. Hahaha. Yang jelas aku menyaksikan tugu itu hampir selama 10 menit tanpa beralih pandangan. Ya Allah. Tugu yang dari kecil aku impikan, sekarang dengan kuasa Mu aku berdiri di hadapannya. Jangankan mewujudkannya, memimpikan bisa sampai ke hadapan Monas saja aku gak berani, karena bisa sampai ke Monas itu adalah miracle  banget buat kehidupanku. Ahh...mungkin kalau kalian bisa bertemu dan melihat kondisiku akan paham mengapa aku tak sanggup memimpikannya. Hikss..

Aku menginjakkan kaki di Monas itu sudah hampir jam 7 malam waktu itu. Jadi ya gelap banget deh kondisi di sana. Untung saja kami kesana gak malam minggu jadinya gak begitu padat. Kata guide kami, kalau malam minggu ke Monas itu seperti mengunjungi pasar malam. Banyak orang berkumpul di Monas, banyak orang jualan. Aku juga terkejut dengan cerita sang guide. Karena sangat kontras dengan apa yang aku lihat di sana. Aku melihat Monas tak begitu ramai, bahkan kami sangat nyaman untuk berfoto karena begitu banyak spot yang lumayan cantik diabadikan. 

Kalau malam, Monas bercahaya, dan cahayanya berganti-ganti. Kadang warna kuning, hijau, ungu. Jadinya kalau mau foto yang nampak Monasnya harus berbarengan dengan lampu yang menyala ya..kalau gak ya gak bakalan nampak tu Monasnya. Alhasil guide kami yang luar biasa ini mengerahkan segala tenaganya agar kami bisa tercandeed dengan sempurna di depan Monas. Terima kasih sang guide, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian yaah.
Ternyata di pelataran Monas itu banyak badut, waah...akhirnya kami pun mengabadikan foto dengan badut juga. 















































Ini salah satu bentuk mata pencarian masyarakat Jakarta, miris. Mereka sama sekali tak menetapkan berapa biaya yang dibebankan. Mereka hanya menyediakan kotak di depan mereka. Waah...aku benar-benar terkejut dengan kondisi itu, mungkin first time aku melihat hal yang seperti ini. Kami menghabiskan beberapa shoot  dengan badut doraemon dan masha, lalu meninggalkan beberapa uang ribuan kepada keduanya. Gak tahu kenapa aku merasa sedih saja melihat perjuangan masyarakat Jakarta memenuhi kehidupannya.

Dan akhirnya setelah mengitari Monas dengan bermodalkan kedua langkah kaki ini, kami pun merasa lapar (lagi) hahaha. Aku iseng memesan kerak telor yang katanya makanan khas Jakarta. Kebetulan di Monas ada beberapa yang jualan kerak telor. Ahh..mungkin semua orang tahu kerak telor, kecuali aku. Katrok banget sih aku, hehe. Akibatnya aku begitu detail memperhatikan ketika mas-mas itu membuatkan kerak telor spesial untukku. Lalu ketika sudah selesai, aku bersiap menyantapnya, dan jeng...jeng...jeng...
Aku menelannya perlahan.

Oh my God !! aku langsung meneguk aqua lalu berteriak ke arah teman-teman, “kita ke rumah makan Padang yokk” (teteup, kemana-mana rumah makan padang is the best). Ternyata lidahku tak sesuai dengan kerak telor ini, hahaha. Bukan gak enak lo, tapi mungkin kurang cocok saja di lidahku. Maklum, anak kampung ini kan biasa maka ubi sama kangkung saja, hehe. Buat kalian boleh kok mencoba kerak telor, biar ngerasain jadi orang betawi itu gimana, heheh..

Kami pun landing di hotel sekitar jam 11an malam. Ya Allah lama banget, padahal besok pagi jam 8 kami harus pelatihan lagi, harus diskusi lagi, harus presentasi lagi. Ahh...untung tubuhku bersahabat. Aku benar-benar menikmati perjalanan pertamaku ke Monas, dan serasa ingin berteriak “AKU UDAH SAMPAI MONAS”.

Medan, 20 Juli 2017, 15:55
Ps : Ntah kenapa begitu merindukan berpetualang di Jakarta saat malam hari bersama mereka.

Thursday, 13 July 2017

Resensi Novel : Shattered


Pict : Novel Shattered
Sebelumnya, aku ingin memperkenalkan siapa yang akan menjadi objek tulisanku. Novel. Ya, kali ini aku akan menuliskan resensi sebuah novel yang baru aku tamatkan (alhamdulillah).
Judul            : Shattered (Menghancurkan, Dihancurkan)
Penulis          : Teri Terry
Penerbit         : PT Bhuana Ilmu Populer, Kelompok Gramedia.
Halaman         : 501

“Tumben baca novel Uni”, begitu tanggapan beberapa teman kerjaku ketika aku mengeluarkan novel ini dari ransel. Haahaha, memang begitulah kenyataannya. Aku sangat jarang sekali membaca novel, teenlit, apalagi komik. Biasanya buku non fiksi, seperti buku agama, buku matematika, buku pendidikan, buku psikologi sangat menjadi andalanku di sela kesibukan. Tapi tidak untuk kali ini, aku merasa butuh sedikit perubahan bahan bacaan. Terenyuh dengan ucapan seorang teman di facebookku, “jangan seius amat Uni, nanti cepet tua lo (udah tua kali ya), sesekali baca novel buat bahan imajinasi, karena buku non fiksi itu gak bisa menghadirkan sebuah imajinasi”. Finally, aku membeli novel ini.

Kadang butuh beberapa bacaan ringan di sela bacaan “berat” dan syarat makna. Akhirnya novel ini pun aku garap. Awalnya aku pikir ini bacaan ringan, sekedar melepaskan kejenuhan dari rutinitas pekerjaan, ternyata Oooh tidaaak !! aku terjebak. Novel ini benar-benar syarat akan ilmu, novel ini syarat akan emosi. Biasanya beberapa novel akan membuat pembacanya memiliki ekspresi seperti terpingkal, atau tersenyum kecil, pipi merona, bahkan ada yang berurai air mata. Tapi tidak untuk novel ini. Novel ini benar-benar membuat keningku berkerut, otakku bekerja, menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Benar-benar petualangan terbaik untuk para neuron di otakku.

Petualangan? Ya. Novel ini tentang sebuah petualangan. Petualangan seorang gadis di masa depan. Masa depan? Ya. Novel ini bercerita tentang masa depan. Tentang bagaimana kehidupan masyarakat masa depan yang semuanya bergantung dengan komputer. Bahkan manusia “nakal” di masa depan akan diprogram otaknya melalui komputer, sehingga ia akan hadir sebagai pribadi yang lebih baik, lebih tepatnya pribadi yang nantinya akan dimanfaatkan oleh para orang yang akan menggunakannya.

Lucy, Riley, Kyla, Gadis yang menjadi subjek utama dari novel ini, entah sudah berapa kali ia berganti nama, berganti warna rambut, berganti riasan wajah, hanya untuk mengelabui orang-orang yang memiliki niat jahat terhadapnya. Hanya satu hal yang tak pernah berubah darinya yaitu warna bola matanya yang hijau, ia tak mau mengubahnya. Sudah pernah “dihapus” (baca : sudah dicuci otak) oleh pemerintah karena disangka teroris yang akan melaksanakan bom bunuh diri terhadap perdana menteri mereka. Pernah dipalsukan kematiannya sehingga ia terus berganti nama, berganti wajah. Terakhir kali ia tercatat sebagai Riley.

Petualangan Riley di novel ini adalah menemukan siapa dirinya sebenarnya. Ia berpetualang sendirian, meninggalkan zona amannya untuk menemukan ibu kandungnya, ayahnya, kenapa ia bisa “dihapus”, kenapa kematiannya dipalsukan oleh negara. Ya...dan gadis belia ini berhasil menemukannya. Ia memang bertemu dengan ibunya, yang ternyata setelah diselidiki bukanlah ibu kandungnya. Lalu siapa ibu kandungnya? Teka-teki yang membuat Riley berpikir lebih keras. Terus menemukan beberapa fakta tentang siapa dirinya.

Keingintahuannya yang besar itu mengantarkannya kepada sebuah panti asuhan yang mengakomodasi pencucian otak untuk anak-anal (ILEGAL). Mengantarkannya kepada sekelompok pemberontak negara yang berhasil melumpuhkan asrama mahasiswa Oxford. Mengantarkannya untuk bertemu dengan kekasih masa lalunya yang sangat ia cintai dan ternyata bagian dari pemberontak tersebut, bahkan ingin membunuhnya.

Ahh...penuh petualangan sekali. Perjuangan Riley, Mac, Aiden yang terus berusaha membuktikan kepada pemerintah tentang keberadaan pemberontak ini. Sampai akhirnya kebenaran itu terungkap perlahan. Terungkap oleh seorang Bapak tua yang gagah berani, dan tidaaaak, ternyata bola matanya berwarna sama dengan Riley. Perdana Menteri.

Ternyata. Riley adalah cucu dari perdana menteri. Dimana ibunya, anak perdana menteri disekap oleh para pemberontak selama bertahun-tahun sampai akhirnya meninggal. Sedikit perasaan lega bagi Riley akhirnya ia menemukan siapa dirinya sebenarnya, untuk apa ia dikirim sebagai pembunuh yang memegang  bom bunuh diri, kenapa chip di otaknya tidak ada yang bisa memecahkan kodenya. Ternyata dirinya memang sudah diprogram sedari kecil untuk membunuh keluarganya sendiri, apakah seunik itu? Sehingga hidupnya telah dibayang-bayangi masa depan padahal masih anak kecil yang ingin bermain.

“Hope”, itulah nama yang diberikan ibumu. Begitulah sipir penjara itu mengatakannya. Ia memang dilahirkan di penjara bawah tanah milik pemberontak. Ahh..nama yang  bagus.

Lembar per lembarnya adalah petualangan kecil, sehingga semakin dibalik akan meningkatkan adrenalinmu, menambah rasa penasaran. Jadi kau mungkin akan berusaha untuk menamatkannya lebih dari usaha yang aku lakukan (heheh). Pilihan katanya bagus, memang benar-benar menggambarkan suasana yang aku bayangkan. Mungkin sangat dianjurkan membaca buku pertama dan keduanya, karena memang saling berhubungan. Dan kesalahanku, aku tidak membacanya. Ya.. wamalupun begitu aku cukup memahami beberapa istilah yang dimunculkan seperti TAP, DOH, Levo, atau lainnya. Akan tetapi lebih seru jika kita lebih paham dengan beberapa istilah penting di atas.

Beneran deeeh, ini tuh refreshing yang oke banget. Oke banget buat kamu yang lagi menghela nafas dari rutinitas pekerjaan sekolah, pekerjaan kampus, ataupun pekerjaan kantor. Memang ceritanya seperti unlogic , tapi lihat perjuangannya, lihat petualangannya, lihat melankolisnya.

Silakan ditemukan bukunya, dan selamat membaca !!

Medan, 13 Juli 2017, 14.10
Standby di kos aja, waktu produktif banget buat nulis.

Thursday, 15 June 2017

Ambil Secukupnya Saja!


Pict : Nasi Goreng Oriental

Tentunya kita pernah mendapati meja makan yang penuh dengan seabrek makanan dan minuman. Terlalu banyak pilihan, dan Masha Allah semuanya kelihatan nikmat. Ya....awalnya ada keinginan terbesar kita untuk menghabiskan sederetan makanan enak tersebut. Lalu ? apakah yang selanjutnya terjadi?. Dari ratusan piring di atas meja itu, kita mungkin hanya mampu menghabiskan beberapa piring saja. Lalu, pernahkan kau melihat, bahkan mengalami sendiri, manusia yang memiliki puluhan, eh ratusan, eh ribuan pakaian?. Apakah mereka memakai semuanya dalam satu waktu? Tentunya tidak. Dari ribuan pakaian mereka yang tertata rapi di lemari, mereka hanya bisa memakainya satu saja untuk satu waktu. Ahhh..

Mungkin dua analogi di atas cukup menjelaskan. Lihatlah, ternyata manusia itu tidak membutuhkan sesuatu yang berlebihan, manusia tidak membutuhkan harus memiliki semuanya, manusia tidak membutuhkan semua hal terbaik harus ada pada dirinya. Ya...pada dasarnya manusia itu membutuhkan kecukupan. Lihat saja, ketika merasa cukup dengan satu pasang pakaian untuk dipakai, maka ribuan pakaian di lemari seolah tak ada gunanya. Ketika merasa cukup dengan semangkok sop daging, maka segunung pizza pun tak akan menggoda. Ketika merasa cukup dengan menghabiskan waktu bersama keluarga, maka mengapa harus menghamburkan uang untuk jalan-jalan ke luar negeri. Ketika merasa cukup memiliki pasangan hidup yang begini begitu, maka mengapa harus mencari orang lain untuk menjadi sandaran hidup. Sekali lagi, hanya ketika kita merasa cukup.

So, jodohpun juga masalah kecukupan.

Sayangnya, manusia tak pernah merasa cukup. Selalu mencari yang terbaik di antara yang terbaik. Bahkan selalu membandingkan satu dengan yang lainnya. Ada yang baik, maka ia terus mencari yang lebih baik lagi, ketika ada yang lebih baik, maka ia akan mencari yang sangat baik. Suatu hari ada lelaki sholeh datang kepadanya, ditepis dengan alasan kurang mampu secara finansial. Ada laki-laki yang secara finansial mumpuni, juga ditepis karena wajahnya tak seperti artis korea (haha), ada laki-laki keturunan pejabat menghampiri juga langsung ditepis karena belum hafal juz amma. Ahh...kamu mau cari yang seperti apa sih?
Dan pastilah diri akan semakin bingung dengan kondisi itu. Berharap agar ada yang lebih baik lagi datang, berharap seseorang yang benar-benar sempurna akan menghampiri. Jelaslah bahwa diri akan semakin dilema, karena ketika terus mencari, terus membandingkan maka sejatinya kita sedang melawan fitrah manusia itu sendiri. Bukankah manusia itu fitrahnya “cukup”, bukan harus mendapatkan yang terbaik ?

Maka jangan teruskan lagi proses melawan fitrahmu. Engkau akan teus menyakiti dirimu, engkau akan terus mengkerdilkan jiwamu. Berhentilah !

Berhentilah untuk mencari yang terbaik !
Berhentilah untuk mencari yang yang sempurna !
Karena sebenarnya tidak ada yang benar-benar baik. Yang ada itu adalah yang bergerak ke arah kebaikan, bersedia untuk terus memperbaiki dan diperbaiki.
Ambillah secukupnya !!
Percayalah, yang cukup itulah yang justru bisa memberikan kenyamanan.
Percayalah, yang cukup itulah yang akan memberikan ruang gerak untuk terus tumbuh, untuk terus menjadi yang lebih baik lagi.

Ambillah dia, yang secukupnya bisa menjadi tumpuan hidup dunia akhirat
Ambiilah dia, yang secukupnya bisa menjadi sandaran dikala dunia mulai tak stabil
Ambillah dia, yang secukupnya bisa mendidik anak-anak menjadi qurrota ‘ayun
Ambillah dia, yang secukupnya dengan fasih membisikkan kalimat tayyibah di telinga kita saat kita menghadapi sakratul maut.

Karena pada akhirnya memang kita hanya memerlukan yang cukup !!

Thursday, 8 June 2017

Ya Allah, Request Dong !


Pict : me, location : gundaling hills, North Sumatera

Siapa yang tidak mau ?
Siapa yang menolak ?
Siapa yang menolak harus terlahir dari keluarga kaya yang segala kebutuhannya, bahkan keiginannya terpenuhi. Siapa yang tidak mau memiliki orang tua yang berpendidikan, cerdas, bijak serta mengikuti zaman. Tak akan ada yang bermasalah jika terlahir dengan kondisi fisik yang bagus, bahkan memiliki paras rupawan, kulit putih, tinggi semampai. Siapa yang tidak menginginkan lahir dari rahim seorang ibu yang paham agama, kemudian dididik oleh ayah yang sangat paham batas larangan halal dan haram. Dan merupakan impian bahwa kita terlahir dari keluarga bangsawan, terlahir menjadi salah satu keturunan Raja Salman, atau Ratu Inggris, wahh, speechless deh.
Adakah yang bermasalah dengan itu semua? tentunya  TIDAK. Bahkan banyak di antara kita, eeh...hampir semua manusia begitu menginginkan semua hal itu. Menginginkan ia akan terlahir dari keluarga kaya, harmonis, memiliki orang tua yang sukses dunia dan paham akan akhirat serta memiliki paras yang rupawan. Bahkan sangat berangan-angan bisa menjadi salah satu bagian keluarga Raja Salman (ehh...). Manusia memang begitu, jika ia bisa memiliki 2 hal kenapa harus cukup dengan 1 hal, jika ia bisa memiliki semesta, kenapa harus berbangga dengan dunia yang dimilikinu. Ahh... 
 
Hanya saja, siapa yang menjamin kita bisa memiliki semua hal di atas?. Siapa yang menjamin bahwa kita akan terlahir dari keluarga kaya?, siapa yang bisa memastikan bahwa kita akan memiliki orang tua yang pintar, sukses serta paham agama?, dan tentunya tidak ada yang benar-benar menjamin bahwa kita akan memiliki wajah yang rupawan kelak. Lihatlah dirimu?, apakah engkau memiliki semuanya ?. Alhamdulillah jika engkau memiliki semua hal yang hampir diimpikan oleh seluruh manusia. Tapi jika tidak, engkau hanya memiliki 2 hal saja, tidak, hanya 1 hal saja, dan tidaaaak, bahkan kesemua itu tidak dimiliki. Lalu engkau berteriak-teriak ke langit mengatakan dengan lantangnya bahwa ALLAH itu tidak adil. Engkau mulai membanding-bandingkan dirimu dengan mereka, yang menurutmu mendapatkan keadilan ALLAH.   
     
Ketidak terimaan itu akhirnya menjadi penolakan tajam terhadap takdir Allah. Banyak manusia yang tidak mau mengakui keluarganya karena malu dengan status keluarga. Tidak sedikit pula orang yang merombak total wajahnya agar “terlihat” cantik, dan mungkin melakukan hal (gila) lainnya untuk mendapatkan beberapa predikat yang hanya dinilai di mata manusia. Picik sekali kita bukan?. Kita bahkan sangat mempermasalahkan hal itu, berjuang keras mewujudkannya sehingga melupakan hal utama yang jauh lebih penting dari hal tersebut. 

Ingat, ALLAH sama sekali tidak akan meminta pertanggungjawaban atas hal yang merupakan takdir Nya yang tak kuasa kita ubah. ALLAH tak akan meminta  tanggung jawab atas bentuk rupa yang kau miliki, ALLAH juga tidak akan menghinakan engkau ketika hanya terlahir dari rahim seorang perempuan yang dipandang hina di dunia. Lalu ? kenapa kebanyakan kita malah begitu disibukkan dengan hal ini?(berpikirlah !). Sudah cukup rasanya menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan hal yang di akhirat kelak juga tidak akan ditanya oleh Allah. Bukan lagi waktunya untuk menceritakan permasalahan yang akan selesai seiiring bergeraknya tubuh kita ke liang kubur.

Hanya karena memiliki keluarga yang tidak paham agama, menjadikanmu juga menomorduakan urusan agama. Hanya karena berparas tak rupawan, engkau benar-benar tak memperdulikan kesehatan. Hanya karena tak terlahir dari orang tua berpendidikan engkau menjadi malas belajar dan bekerja. BUKAN !!. Bukan itu yang ALLAH mau. ALLAH memang tak akan mempermasalahkan keluargamu, bentuk fisikmu, kepintaran orang tuamu, tapi yang ALLAH minta adalah bagaimana agar lingkunganmu bisa menjadikamu menjadi sebaik-baik hamba Nya. Bagaiamana agar manusia bisa menyikapi lingkungan agar terus berproses menjadi pengikut Rasul Nya. 

ALLAH akan melihat usahamu untuk terus istiqomah dalam agamamu, meskipun memiliki orang tua yang bahkan tak pandai membaca Al Quran. ALLAH akan memujimu yang giat belajar agar memperoleh beasiswa sementara orang tua tidak tamat SD. Dan ALLAH akan menyebut-nyebut dirimu yang begitu apik menutup aurat, menjaga pandangan walaupun hanya memiliki wajah yang menurut mereka alakadarnya. 

Lihat, sudah tahu apa yang ALLAH inginkan? Masih mau minta yang aneh-aneh sama ALLAH? Masih mau berkhayal yang macam-macam jika aku menjadi ...., jika aku menjadi....?. tak ada yang salah kok dengan lingkungan kita, hanya saja cara kita menyikapinya saja yang agak keliru. Jika di sekitar kita adalah lingkungan yang bagus, bersyukurlah, jadikan itu sebagai jembatan untuk terus berproses menjadi baik. Jika di sekitar adalah lingkungan yang kurang baik, bersabarlah, teruslah bersinar di antara ketidakbaikan itu. Jangan-jangan engkau adalah orang yang ALLAH kirim untuk memperbaiknya kan?.  

Jangan request  yang aneh-aneh lagi yaah..
Cukup minta ALLAH karuniakan kebaikan dan keberkahan dalam hidup.
Cukup minta ALLAH karuniakan keimanan yang terus naik ke arah Nya
Cukup minta ALLAH berikan rasa cinta Nya kepada kita.
Dan...
Cukup minta sama ALLAH saja !!

Note :
Engkau pernah merasa lingkunganmu begitu menyesakkan? Pernah merasa bahwa di sekitar mu sedang terjadi sesuatu?. Ya...itu yang sedang aku rasakan
--------------------------

Sunday, 5 February 2017

Turun Naik Angkot


 
Pict : Jalan Raya di Kota Medan


Karena saya adalah seorang angkoters sejati, hehe, maka topik angkot akan menjadi sesuatu yang sangat enak untuk dibicarakan. Kita pernah membahas tentang waktu yang dibutuhkan untuk menunggu angkot itu datang. Tentang bagaimana kita menyikapi angkot yang datang, baik sebentar, ataupun membutuhkan waktu yang lama.

Banyak yang tidak sabar ketika menunggu kedatangan angkot. Akibatnya, ia memilih jalan lain yang menurutnya lebih cepat mengantarnya ke tujuan. Kami para angkoters menyebutnya “nyambung angkot”, hehehe. Maksudnya adalah menaiki angkot lain ke arah tertentu dan kemudian melanjutkan dengan angkot lainnya, begitulah seterusnya sampai ia sampai di tujuannya. Waah...kebayang dong turun naik angkot itu rasanya gimana kan, dan terkadang nyambung angkot itu gak cukup dua kali, bahkan ada yang lebih. Masya Allah !!

Apakah kita sampai ke tujuan kita ? Yaa. Lalu apa bedanya jika kita masih setia menunggu angkot yang “satu tujuan” dengan kita ?, rasanya daripada membuang waktu, mending cara “nyambung angkot” ini kita lakukan. Ahh...ternyata memang tidak sama, tidak sama dari energi yang akan kita keluarkan setiap proses turun naik angkot, tidak sama ketika harus beradaptasi dengan kondisi angkot yang baru dinaiki, dan yang jelas akan memakan biaya yang lebih mahal. Waah...lebih banyak hal negatifnya ya ?
Begitu juga “nyambung angkot” dalam masa penantian si “dia”. Mereka menyebutnya dengan istilah Pacaran. Bertemu dengan pasangan yang sepertinya idaman, menjalin hubungan, dan kemudian mengakhiri hubungannya tanpa status yang jelas. Ahh... pembenaran yang terjadi dalam pikiran mereka adalah pacaran adalah salah satu cara untuk menyeleksi calon yang benar-benar pantas mendampingi sisa hidup. Karena pacaran adalah ajang memilih calon suami atau calon istri yang terbaik, alasan klise mereka.

“aku belajar mengenali sosok lawan jenis ketika pacaran jadi gak gamang lagi ketika sudah menikah”
Bagaimana kalau dengan pacar yang sekarang gak berjodoh ?”
“Ya...kadang kita harus bertemu dengan orang yang tidak tepat sebelum bertemu dengan orang yang tepat”

Jawaban yang rasional banget menurut mereka. Ya..mungkin mereka sedang turun naik angkot menuju ke tempat tujuannya. Lebih capek bukan ? dan tentunya membutuhkan biaya cukup banyak. Dan yang lebih naasnya, kadang tanpa kita sadari angkot itu telah melaju kencang ke arah yang berlawanan dengan tujuan kita. Nah lo...apa yang bisa kita lakukan jika kita sudah berada jauh dari tujuan kita ? Ayooo...buat kamu yang lagi turun naik angkot sekarang, yuuk perbaiki jalan hidupmu.

Karena pacaran tak akan membuat jodohmu lebih dekat, dan jomblo juga tak akan membuat jodohmu menjadi lebih jauh. Tugas kita sekarang adalah menjadi sebaik-baik hamba Nya dan sebaik-baik umat Rasul Nya. Tak mungkin Allah tidak akan memberikan yang terbaik kepada kita. Sedangkan mereka saja yang tak pernah menyembah Nya, tak pernah menyebut asma Nya, Allah masih memberikan kelonggaran oksigen, kondisi fisik, dan lainnya. Dan tentunya Allah akan berikan kenikmatan yang lebih untuk kita, hamba Nya yang terus belajar taat kepada Nya.

Jangan hanya sekadar agar bisa menikah, agar bisa punya gandengan, agar bisa jawab pertanyaan orang, atau hanya ikut-ikutan zaman. Menikah itu niatnya murni untuk  ibadah kepada Rabb mu. Karena menikah itu sendiri adalah ibadah, maka jaga keseluruhan prosesnya. Jangan sampai satu pun proses menuju pernikahan kita nodai dengan kesalahan. Jika semua kesucian proses ibadahnya terjaga, maka insya Allah, berkah Allah tak akan pernah henti-henti mengalir untuk pernikahan tersebut, sebelumnya, setelahnya, bahkan selama-lamanya, Amin.
Karena tugas kita bukan mencari tahu siapa jodoh kita, bukan mencari tahu kapan kita akan bertemu, dan kapan kita akan mengucapkan janji suci. Percayalah, Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban karena jodoh kita lama, karena sampai detik ini belum menikah. Tapi Allah akan melihat pertanggungjawaban dari perbuatan yang kita lakukan sampai kita dipertemukan dengan jodoh.
Yuk menjadi sebaik-baik hamba  Nya !!
===========================================================================
Sabarlah menunggu, janji Allah kan pasti
Sabarlah menanti, usahlah ragu, kekasih kan datang sesuai dengan iman di hati
(Maidany—Menunggu di Sayup Rindu)

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...