Wednesday, 27 May 2020

Segera Nikmati

 

Udah lama banget aku gak bahas tentang bisnis kan ya? Maafkan yang teman-teman. Kali ini aku mau ngebahas tentang bisnis deh. Tentang bagaimana cara agar owner merasa bahagia dalam menjalankan bisnisnya.

Nah, menurut kalian apa sih yang membuat seseorang merasa bahagia dalam bisnis?

            “Bisnisnya lancar”

            “Profitnya gede”

            “Customernya banyak”

Dan masih banyak hal lainnya yang bisa kita jadikan indikator dari seorang owner yang bahagia.

Namun, hal receh yang paling membuat seorang owner itu bahagia adalah menikmati hasil dari bisnisnya. Wah, kalau aku pasti bahagiaaaa deh, pake banget malahan.

Apakah penting menikmati hasil bisnis? Kan profitku masih kecil banget. Kan bisnisku belum maju kayak yang lain. Mending uang profit kuputar jadi modal lagi deh biar bisnisku makin berkembang. Bla bla bla, ada banyak alasan owner bisnis online yang menolak untuk menikmati hasil bisnisnya.

Nah, bagaimanapun profit bisnis kita entah itu udah besar atau kecil banget. Atau juga yang masih ngerasa incomenya masih standard bahkan jauh di bawah rata-rata. Stop berkecil hati berendah diri dan merasa gak becus. Namanya juga pemula, yaw ajar dong jika incomenya masih dikit. Pelan-pelan income itu akan beranak pinak dengan sendirinya dong.

Walaupun income masih sedikit, para owner kudu dan harus menyegerakan menikmati hasilnya. Harus ada lho alokasi dari income itu untuk owner. Nah lho.

            “Lho, kok gitu?”

            “Kan income nya masih sedikit?”

            “Mending buat tambah modal aja”

Dan masih banyak celetukan lainnya. Sini coba aku jelasin versi aku.

Kerja keras kita dalam membangun bisnis tentu bukan hal yang mudah. Kadang kita lelah, capek dan ingin menyerah saja. Terlebih lagi melihat income yang masih jauh dari pengharapan. Duh, bisa baper tingkat dewa tuh. Imbang-imbang ditanyain kapan nikah lah, padahal calon belum ada, hadoooh. Kebaperan ini bisa membuat malas atau malah menyerah kan. Kemudian muncul deh pikiran nakal

          “Sepertinya bisnis ini tidak cocok dengan saya”

Jangaaaaaan. Jangan lakukan itu.

Makanya, seorang owner harus segera menikmati hasil kerja kerasnya. Gunakan profit bisnis untuk beli tas baru, jam tangan baru atau tambahan biaya catering pernikahan, eh gimana sih, hehe. Gak usah harus yang mahal-mahal juga, pokoknya nikmati segera deh profit bisnis itu. Jika owner sudah merasakan hasil bisnisnya maka percaya deh, ia akan memiliki semangat yang membara. Ia jadi tahu nikmatnya berbisnis, malahan mungkin ketagihan dan semangat buat kembangin bisnisnya.

Hay para owner di luar sana.

Ada diskon belanja nih. Kapan-kapan belanja bareng ya?

Eh, habis pandemi saja ya. Hehehe



Medan, 27 Mei 2020, 22: 02

 

 

Thursday, 16 April 2020

Doakan Saja




Kalimat “doakan saja” adalah sebuah kalimat pamungkas dalam berbagai percakapan. Ya, terutama percakapan yang mengandung pertanyaan basa basi untuk mencairkan suasana. Sebagai orang timur kita tentu terbiasa memberikan pertanyaan basa basi, entah memang ingin tahu atau sekadar agar ada bahan obrolan.

Ada berbagai pertanyaan basa-basi yang sering kita dapatkan. Sebut saja pertanyaan kapan ini kapan itu, kapan begini kapan begitu, kapan kesana kapan kesini. Duuh, duuh. Selanjutnya pertanyaan ini akan memnuculkan jawaban basa-basi. Ya, jawaban yang sekadar basa basi doang agar kondisi percakapan masih berada di koridor yang aman dan grafiknya stabil. Eh. Jawaban basa-basi misalnya “hehehe”, “masa sih?”, “memangnya iya?”, “Ahh ada-ada saja”. Sampai ada satu jawaban basa-basi pamungkas yaitu “doakan saja”.

Dan ini juga menjadi jawaban favoritku ketika ada yang memunculkan pertanyaan aneh-aneh. Jawaban ini biasakan aku gunakan untuk sesuatu yang aku tidak tahu kapan pastinya. Ya, daripada aku menyebutkan waktu, terus tahu-tahunya nggak tepat waktu, eeh kan jadi malu. Selain itu pertanyaan netizen yang aneh-aneh itu terkadang memang aku tidak tahu kapan waktu pastinya. Maka mending aku jawab saja dengan jawaban pamungkas “doakan saja ya”.

Seiring berjalan waktu, ternyata “doakan saja” bukan hanya menjadi “jawaban basa-basi. Ia berubah menjadi sebuah sugesti bagiku. Begini, jika ada yang bertanya “kapan” terus aku menjawab dengan “doakan saja”, lalu ternyata seseorang itu benar-benar mendoakan. Nah lho. Hingga Allah mendengar setiap orang yang diam-diam mendoakan kita. Dan ternyata Allah benar-benar kabulkan. Kan Allah Maha mengabulkan doa.

Makanya, sekarang jika masih ada netizen yang suka nanya kapan ini, kapan itu, kapan anu, kapan blablabla. Aku akan sering menjawab dengan jawaban “doakan saja”. Lalu dalam hati kecilku berharap mereka diam-diam mendoakan dan ternyata Allah lebih mengijabah doa mereka.

Jadi kalau ada nanya hal serupa dengan kalian. Coba deh lakukan cara yang sama. Dijamin berhasil  dan lebih menenangkan.

Kapan nikah? Doakan saja

Kapan lanjut S3? Doakan saja

Kapan bukunya terbit? Doakan saja

Kapan waras? Doakan saja (eeh..eh.)




Medan, 16 April 2020, 21 : 12
Hari ini telah berhasil dilalui dengan waras dan bahagia. Yeaaay !!!

Tuesday, 14 April 2020

Pintar Tak Terlihat

Dewi Kwan Inn, Siantar, Sumatera Utara



Ada seseorang ketika di kelas hanya tidur, bermain atau sekadar bermalas-malasan. Akan tetapi, saat ujian atau presentasi ia mampu memberikan hasil yang maksimal. Seolah ilmu yang dipelajari selama ini tersimpan rapi di dalam batok kepalanya. Sehingga ketika ujian, semua jawaban soal mengalir dengan lancarnya.

Lalu, kita dengan naifnya mengambil kesimpulan bahwa ia memang pintar karena memang dasarnya pintar. Kita menyimpulkan bahwa seseorang itu memang pintar secara genetis. Melihat anak professor yang dapat prediket cum laude di kampus, lalu kita beranggapan :
            “Wajar dia pintar, keturunan sih. Bapaknya saja professor”
Melihat teman nyatri yang hafalannya sudah berjuz juz, otak kita pun berpikir :
            “ya iya lah, dia anak Hafizh quran”

Perasaan ini terus menjadi-jadi, hingga dengan tanpa rasa bersalah, kita mendeklarasikan diri bahwa kita tidak akan mampu seperti dia. Kita merasa bahwa dia menjadi hebat, pintar adalah karena anugerah Illahi. Kita tak akan mampu menjadi seperti dia karena Tuhan tidak memberikan anugerah itu kepada kita.

Hingga akhirnya kita tetap bertahan menjadi kita. Tidak ada upaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Merasa bahwa diri ini memang sudah seperti ini takdirnya. Kita enggan untuk bercermin kepada kesuksesan orang lain. Kita terus men-judge bahwa kesuksesan orang lain semata hanya karena faktor keberuntungan. Astaghfirullah

Hal ini seperti ini sudah jelas harus segera diluruskan. Bisa saja bukan keberuntungan orang lain yang menjadi persoalannya, melainkan cara berpikir kita saja yang kurang jeli. Orang-orang yang kelihatan santai dan cuek, namun memiliki nilai ujian yang cemerlang, bisa saja bukan mereka yang pintar dari lahir. Sangat besar kemungkinan bahwa ia tidak pintar dari lahir, melainkan ia berusaha pintar tapi tidak merasa terlihat.

Tanpa kita ketahui, bisa saja ia telah minum kopi agar bisa terus terjaga sepanjang malam untuk belajar. Bisa saja mulutnya telah berbusa melafalkan semua rumus-rumus yang akan keluar ketika ujian. Ia begitu berusaha maksimal untuk mendapatkan hasil yang bagus dalam ujiannya. Hanya saja ia tak melakukan itu di depan kita. Karena ia memang ingin pintar tapi tidak terlihat oleh orang lain.

Atau juga bisa saja ia mati-matian membaca buku tentang materi yang akan diajarkan oleh bu Guru. Sehingga ketika belajar ia tetap mampu menjawab pertanyaan bu Guru walau ia sedang membaca komik. Apakah ia pintar dari lahir? Belum tentu.

Terkadang ada yang kerjaannya tidur di kelas atau sibuk bermalas-malasan selama pembelajaran. Kita lupa kenapa ia bisa tidur di kelas atau bermalas-malasan? Aah, barangkali ia telah paham dengan apa yang guru atau dosen ajarkan. Namun kita tidak begitu, selalu mengambil kesimpulan dari sudut yang salah.

Begitulah, kita tidak akan pernah benar-benar tahu bagaimana seeorang itu bekerja keras untuk meningkatkan kualitas dirinya. Yang sering kita lakukan adalah mengambil kesimpulan dari sekelumit kisah hidup mereka yang terlihat. Itu sungguh aneh bukan?

Hingga akhirnya kita sendiri yang memilih untuk kalah sejak awal. Kita takut memulai peperangan karena salah dalam melihat lawan. Teman yang kritis kita anggap skeptis. Teman yang hebat, kita beranggapan itu sebuah bakat.

Kita terbiasa mencari-cari alasan untuk memaklumi kemalasan diri sendiri. Menganggap diri ini tak mampu, tak berdaya. Kesuksesan orang lain adalah hasil genetis yang ia peroleh atau anugerah Illahi yang tengah berpihak padanya.

Nah, kalau sudah begitu bagaimana bisa kita meningkatkan kualitas diri?





Medan, 12 April 2020, 21 : 53
Ditulis untuk mencambuk keras jiwa yang tengah dilanda kemalasan.


Sunday, 12 April 2020

Ice Breaking : Face Your Face




Kenapa di setiap tulisan ada spasi? Kenapa di setiap cerita ada paragraf? Agar si pembaca bisa mengambil jeda. Agar si pembaca mampu menganalisis setiap kalimat yang tengah ia baca. Nah, dalam belajar pun perlu ‘mengambil jeda’. Terlebih lagi pada mata pelajaran yang membosankan, rumit,  susah, atau bikin sakit kepala. Matematika misalnya.
                                                                 
Sudah seharusnya pengajar matematika mengambil jeda dalam mengajarkan matematika kepada siswa. Hal ini bertujuan agar para siswa bisa menarik nafas atau bisa memahami materi dengan lebih baik lagi. Sudah menjadi rahasia umum kan ya betapa susahnya pelajaran matematika. Lalu bayangkan seorang pengajar matematika mengajar tanpa mengambil jeda. Duuh, gak kebayang deh mumetnya isi kepala siswa.

Bagaimana bentuk mengambil jeda?

Guru boleh berkreasi dengan bebas apapun bentuk ‘mengambil jeda’ yang ia lakukan. Tentu saja hal ini menyesuaikan dengan sarana prasarana sekolah, kualitas siswa atau kepadatan materi yang diajarkan. Jangan bayangkan bahwa mengambil jeda ini adalah membiarkan siswa tidak belajar. Oh, tentu tydaccck Fergusso.

Perlu trik yang handal bagi para guru untuk mengambil jeda namun tidak mengganggu aktivitas pembelajaran. Namanya juga mengambil jeda, ya itu artinya sebentar saja dong. Bukan berarti 2 jam pelajaran habis untuk relaksasi atau 3 sks habis untuk ngobrol ngalor ngidul di depan mahasiswa.

Ada beberapa alternative yang bisa dilakukan guru dalam melakukan aktivitas mengambil jeda. Misalnya menonton, bermain games, ice breaking, atau aktivitas fisik lainnya. Sesuaikan saja dengan kondisi siswa, lebih cocok menggunakan yang mana.

Bermain games sebenarnya adalah aktivitas mengambil jeda yang paling seru. Ia hanya membutuhkan waktu sebentar dan sangat ampuh mengembalikan konsentrasi siswa dan mood belajar siswa tentunya. Para guru bisa mencari berbagai permainan yang bisa dilakukan dalam waktu singat, gampang aplikasinya dan menyenangkan prosesnya.

Salah satu bentuk games yang oke adalah permainan ini. Aku menamakannya Face Your Face. Aku akan menyuruh siswa menyediakan kertas kosong satu lembar dan sebuah pulpen. Setelah itu, siswa disuruh untuk menempelkan kertas tersebut di wajah mereka masing-masing. Satu tangan memegang kertas, sementara satu lagi memegang pulpen.

Setelah itu, guru akan memberikan instruksi untuk menggambar wajah masing-masing. Lakukanlah dengan acak. Misalnya pertama “gambar mata kiri”, dilanjutkan dengan “Gambar bibir atas” dan begitu seterusnya. Lakukan instruksi ini sampai semua bagian yang ada di wajah tergambar di atas kertas itu. Jangan biarkan siswa melihat atau membalik kertas tersebut. Selama permainan kertas itu wajib menempel di wajah siswa.

Setelah menyelesaikan semua instruksi, guru boleh menyuruh siswa untuk membalik kertas itu dan melihat hasil gambar mereka. Lalu guru bisa mengatakan “Itulah bentuk asli wajah kalian”. Dipastikan siswa akan spontan tertawa meriah menggelegar melihat wajah yang mereka gambar sendiri. Bahkan di antara mereka tak malu menunjukkan hasil lukian wajah kepada temannya dan akhirnya mereka tertawa bersama.
Guru juga bisa menyampaikan pesan moral dari permainan ini. Misalnya ternyata wajah kita tak secantik yang dibayangkan. Makanya jangan sombong kalau memang cantik, karena sejatinya tidak ada yang benar-benar cantik secara fisik. Yang ada itu cantik secara hati. Duuuh, mendengar quote ini para abegeh abegeh akan meleleh langsung. Seolah mendapat suntukan semangat.

Tak perlu waktu lama melakukan permainan ini. Paling lama 15 menit deh. Dan kelas akan riuh, meriah. Tentu saja konsentrasi dan mood siswa telah kembali. Gampang kan? Jadi para guru bisa melakukannya di ujung pembelajaran menjelang tugas atau di tengah pembelajaran ketika suasana kelas sudah tidak bersahabat lagi. Hehehe.


Selamat mencoba!



Medan, 25 Maret 2020, 22 : 16


Monday, 10 June 2019

Partner Kerja

Bukber with TIF Pagi B at Marelan, North Sumatera


Siapa mereka?
Teman satu SMA? Teman kuliah? Atau teman kerja?
Bukan. Sama sekali bukan. Mereka adalah mahasiswaku. Ahh, jika kalian hendak mengatakan bahwa wajah kami yang hampir seumuran, oh please jangan lakukan ya ! Aku sudah terlalu sering mendapat pujian seperti itu, hehehe.

Ya, mereka adalah mahasiswaku. Mereka adalah orang-orang yang dengan sukarela dan terpaksa memasang kedua telinga mendengarkan penjelasan materiku di depan kelas. Mereka juga yang berbesar hati mengerjakan tugas yang aku berikan dalam jumlah yang tiada tara. Mereka juga yang berlapang dada ketika aku tiba-tiba memberitahukan keberhalanganku hadir secara mendadak (maafkeun ya guys). Dan mereka juga lah yang duduk diam mendengar semua ungkapan kekesalan ketika aku lagi bête tingkat dewa. Hahaha.

Tapi buatku mereka bukan hanya sekadar mahasiswa belaka. Bukan hanya orang-orang yang aku ajari ilmu matematika setiap seminggu sekali. Mereka juga bukan hanya orang-orang yang nasibnya berada pada ujung pena nilai yang akan aku berikan. Mereka juga buka hanya orang-orang yang dengan sesuka hatiku bisa aku lakukan segala hal, entah memarahi, entah menyuruh ini itu.

Bagiku, mereka adalah pelukis senyumku saat sederetan dedline kampus berseliweran di kepala. Percaya lah, tingkah konyol mereka, candaan remeh mereka adalah hiburan terbaik yang pernah ada. Kadang aku begitu kesal karena suatu masalah, tetapi ketika memasuki kelas mereka, mulai mendistribusikan ilmu kepada mereka, kok ya rasa kesal, marah dan sedih itu berkurang ya? Seolah bersama mereka adalah anastesi terbaik ketika sakit ini mulai terasa. Saking luar biasanya mereka, bahkan mereka mampu mengganti lukaku dengan bahagia, atau menghadirkan senyum di tengah badai yang melanda.

Mereka juga adalah wayang terbaik dalam opera yang dimainkan. Mereka siap bertingkah konyol, melemparkan guyonan terbaik, candaan berkelas ketika suasana di kelas mulai gerah dan panas. Mereka bahkan tahu kalau suasana hatiku sedang tidak bersahabat. Lalu mereka akan berupaya menghancurkan gunung kegelisahan itu dengan berbagai cara. Sehingga tanpa aku sadari gunung itu telah meleleh, Masha Allah.

Itulah mengapa, bagiku mereka bukan hanya sekadar mahasiswa. Bagiku mereka adalah partner kerja. Ya. Mereka yang membersamai hari-hariku di kampus. Mereka yang aku jumpai di lorong-lorong kampus. Bukankah itu definsi lain dari partner kerja kan?

Dan foto ini juga berhasil menjadikan aku sebagai partner kerja terbaiknya. Lihat saja, mereka berhasil menculikku hari ini. Membuat sebuah janji buka bersama yang telah direncanakan dengan baik. Dan entah kenapa aku dengan sigap mengiyakan undangan buka bersama dari mereka. Tanpa aku peduli dimana tempat buka bersama itu diadakan, entah bagaimana caranya agar aku sampai di tempat itu atau siapa yang akan mengantarku pulang di tengah malam setelah acara itu? Aku sama sekali tidak memusingkan hal itu.

Dan benar sajalah. Ternyata partner kerja terbaik ini telah mempersiapkan itu semua. Dengan mengutus salah seorang dari mereka yang siap mengantar dan menjemputku. Oh Liza, thank you so much. Kalau gak ada Liza, gak tahu nih nasib perjalanan pulang pergi ku ke tempat itu.

Perjalanan dengan Liza benar-benar luar biasa. Kami tuh mendadak banget berangkat ke tempat bukbernya. Karena Liza yang juga harus mempersiapkan buka puasa di rumahnya, belum lagi dia yang tersesat menemuka kos kosan kecilku. Hehehe. Alhasil kami baru berangkat sekitar 20 menit menjelang waktu berbuka tiba. Oh my god. Padahal perjalanan ke tempat bukber itu hampir 45 menit lho. Belum lagi macet karena sore begini adalah jam pulang kantor semua orang.

Tapi tenaaang, kami tidak harus berkecil hati atau patah semangat. Setelah berhasil mendaki gunung dan melewati lembah, saling berebutan jalan dengan kendaraan lain, dan terpaksa berbesar hati dengan berbuka di pinggir jalan, kami sampai ke tempat buka bersama ini. Jujur ya, aku baru ngeh kalau Marelan itu jauuuuuhh banget. Karena pegal banget pinggangku melewati perjalanan panjang ala Ninja Hatori.

Semua itu terbayarkan kok. Dengan sikap mereka yang sigap menyediakan tempat duduk istimewa, menyediakan bukaan special untukku. Luarrr biassa. Dan di akhir kebersamaan kami, akhirnya foto-foto ini adalah penutupnya. Hadir di tengah mereka benar-benar membuat aku merasa muda. Benaraaan deh. Hahahahaha.

Terima kasih untuk undangan buka puasa yang berkesan ini ya guys. Aku tahu, akan susah untuk menghadiri acara buka puasa bersama kalian lagi. Tetapi yakinlah, acara ini akan selalu tersimpan dan terkenang dalam setiap memori otakku.





Medan, 10 Juni 2019, 09 : 57 WIB
Pas buka galeri laptop, terus terpampang foto bersama mereka. Kok ya jadi pengen nulis sesuatu tentang mereka ya.

Saturday, 25 May 2019

Pertolongan Allah

Universitas Sumatera Utara


Apakah kamu pernah merasakan peliknya hidup?
Atau pernah bertemu dengan masalah yang serasa tak ada jalan keluar? Semuanya seakan rumit dan tak terselesaikan. Apa yang kamu lakukan? Tentu saja kamu akan begitu sibuk mendayagunakan segala upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kamu akan wara-wiri meminta bantuan kepada manusia. Kamu berharap mereka akan dapat membantumu menyelesaikan persoalan yang teramat rumit ini.

Apakah cara itu berhasil? Ya. Terkadang cara ini begitu ampuh menyelesaikan kesusahan hidup. Namun jika tidak berhasil, gimana dong? Seolah dunia ini berantakan, seolah diri ini tengah bertransformasi menjadi manusia paling bodoh sedunia. Lalu kemudian hidup pun dirasa semakin tak berguna. Seolah semuanya benar-benar buntu, tiada penyelamat, tiada pertolongan.

Ahh, benarkah seperti itu? Sepertinya  kamu lupa. Ada satu pertolongan luar biasa ketika sedang merasakan peliknya kehidupan yang tengah dijalani. Pertolongan itu bukan sekadar pertolongan. Ia hadir layaknya sebuah keajaiban, datang dengan sebuah skenario yang tidak di duga-duga. Lalu dari siapakah pertolongan luar biasa itu? Apakah dari orang tua ? pasangan hidup? Keluarga besar? Sahabat terdekat? BUKAN. Pertolongan itu sama sekali tidak berasal dari mereka.

“Jika Allah sudha menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal”
(Ali Imrah : 160)

Nah, sudah jelas kan sekarang? Siapa dzat yang memiliki pertolongan luar biasa itu? Siapa dzat yang mampu menghadirkan sebuah keajaiban di tengah riuhnya cobaan yang datang? Siapa dzat yang dengan begitu sempurna menyusun sebuah skenario penyelamatan untuk kita? ALLAH.

Pertolongan dari Allah adalah segalanya. Bukankah firman Allah di atas sudah sangat jelas? Jika Allah sudah menurunkan pertolongannya kepada kita, maka tiada sesiapapun yang mampu menghalanginya. Dan hebatnya lagi ketika Allah benar-benar memutuskan untuk menolong hamba Nya, maka ia akan dengan begitu sempurna menyelesaikan setiap persoalan yang sedang mendera hamba Nya itu. Artinya, jika kita memiliki ribuan bahkan jutaan masalah dan Allah benar-benar telah membantu kita, maka ribuan dan jutaan masalah itu akan hangus dan terbang seketika.

Hebat bukan?
Oh tentu saja. Bukan kita yang hebat, tapi pertolongan Allah yang luar biasa hebat. Mungkin kita telah menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, materi bahkan segala yang kita punya untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi bagi Allah, cukup berkata “Kun Fa Yakun”, maka seketika masalah yang terasa berat itu hilang dan musnah. Allahu Akbar !! sekali lagi, ini semua karena pertolongan yang Allah berikan.

Lalu masalahnya dimana? Kenapa kita masih sering berjibaku, stress, kecewa dengan hadirnya berbagai masalah dalam hidup kita?. Apakah kita sudah benar-benar meminta Allah agar memberikan pertolongan Nya kepada kita? Jangan-jangan selama ini kita lupa meminta pertolongan Allah, atau bahkan cenderung tidak percaya dengan pertolongan Allah. Sehingga dengan angkuhnya kita terus berharap kepada pertolongan manusia. Ahh.

Jika memang kita percaya dengan pertolongan Allah, apakah kita sudah benar-benar menjadi hamba yang layak ditolong oleh Allah? Jangan-jangan selama ini kita masih menjadi hamba Nya yang penuh dosa dan maksiat, lalu kenapa ketika ada masalah tanpa rasa bersalah kita mengemis-ngemis pertolongan Allah. Gak malu kah sama Allah? Ahh, mungkin ini salah satu alasannya kenapa Allah tidak juga menurunkan pertolongannya untuk kita.

Lalu, tunggu apalagi!
Bersegeralah mencari dan mendapatkan pertolongan Allah. Sudahlah, tidakkah capek bersandar kepada pertolongan manusia yang jelas-jelas makhluk lemah? Bangun keyakinan dalam diri bahwa Allah mampu menolong hamba Nya, bahwa pertolongan Allah adalah jalan keluar dari sepelik apapun masalah. Lalu jadikan diri ini sebagai hamba yang layak mendapatkan pertolongan Allah tersebut. Dekatkan diri kepada Allah, ikuti semua perintah Nya dan jauhi segala larangan Nya. Insya allah pertolongan Allah itu akan semakin dekat. Percaya aja deh!!






Medan, 26 Mei 2019, 08 : 45
Ungkapan dari hati yang tengah rapuh dalam menunggu pertolongan Allah. Bersabarlah wahai hati, pertolongan Allah itu semakin dekat, semakin dekat. Tidakkah kau merasakannya?

Wednesday, 30 January 2019

Lemah Yang Menguatkan




Banyak orang yang mengeluhkan berbagai hal dalam hidupnya. Dari hal yang wajar dan pantas untuk dikeluhkan, sampai dengan hal yang remeh banget. Seolah hidup itu harusnya berjalan sesuai dengan yang ia mau, jika ada kendala sedikit saja maka ribuan keluhan akan keluar dari mulutnya. Aiih.

Mungkin orang-orang seperti ini lupa bahwa ada orang lain yang hidupnya jauh lebih tidak sempurna dari kehidupan yang ia miliki. Ada orang yang bahkan hidup dalam kekurangan, kepayahan dan kezholiman lingkungannya. Ada orang yang akhirnya mencoba berdamai dengan takdir yang Tuhan gariskan. Akan tetapi orang-orang ini berbeda. Mereka tidak sibuk mengeluh, tidak sibuk mengutuki ini itu, tidak sibuk menyalahkan dia dan dia. Mereka malah disibukkan untuk terus menjalani kehidupannya, yang menurut sebagian orang sangat tidak sempurna.

Sungguh sebuah kesenjangan bukan? Orang yang hidup penuh kekurangan, kelemahan, hal yang memayahkan malah menjadi pribadi yang bahagia, penuh syukur, kuat dan hebat. Lalu, mereka yang hidupnya bergelimang kesuksesan, finansial, malah menjadi pribadi yang suka mengeluh manakala ia mendapat cobaan kecil saja. Memang aneh. Tapi begitulah hidup, ada banyak hal-hal aneh yang akan terus kita jumpai.

Otak kita seringkali berpikir bahwa setiap cobaan yang Tuhan berikan adalah bentuk kezholiman Nya? Atau setiap kelemahan yang Ia takdirkan adalah nasib na’as yang harus kita terima? Tentu saja tidak. Bukankah Tuhan itu Maha Penyangang? Tentu saja Ia tidak akan tega memperlakukan makhluk terbaik Nya dengan cara-cara yang tidak pantas. Lalu apa cerita Tuhan memberikan hal-hal yang menurut kita buruk?

Tujuan Tuhan adalah untuk menguatkan. Pernah gak sih menyadari bahwa setiap kelemahan yang Tuhan gariskan itu sebenarnya sedang menguatkan kita? Pernah gak tahu bahwa setiap cobaan itu membuat kita tahan banting dengan setiap cobaan lainnya? Ternyata begitu. Tuhan itu tidak akan pernah sia-sia memberikan apapun kepada hamba Nya, termasuklah itu cobaan atau kesenangan. Selalu ada hikmah dari semua hal yang Tuhan berikan.

Sebuah kondisi di foto ini pernah aku temukan di dunia nyata. Dari mereka aku menemukan bahwa ternyata untuk menjadi kuat tidak harus memiliki hal-hal yang luar biasa atau fantastis. Bahkan kelemahan, kepayahan, kesusahan sesungguhnya bisa menjadi sesuatu hal yang bisa menguatkan. Mereka saja contohnya. Para generasi muda ini sama sekali tidak memerlukan AC atau pendingin ruangan ketika belajar. Padahal di tempat lain sana ada siswa yang mengeluh ketika mati lampu di kelas sehingga AC mereka menjadi tidak berfungsi.

Mereka juga tidak memerlukan ruangan belajar yang bagus dan instagramable. Cukup meja belajar dan papan tulis, mereka menyerap berbagai ilmu dari sang guru. Sayangnya, ada siswa di luar sana yang menjadikan fasilitas, kualitas gedung dan ruangan belajar sebagai salah satu bagian paling penting ketika memilih sebuah sekolah.
Generasi muda nan bersahaja ini juga tidak memerlukan pakaian seragam warna warni ala film Korea. Bagi mereka cukuplah pakaian yang sopan, menutup aurat dan nyaman dikenakan. Toh apapun seragamnya, ilmu itu akan diperoleh kok. Karena ilmu itu tidak dipengaruhi oleh warna seragam, begitu seloroh mereka. Sangat berbeda dengan sebagian generasi muda lainnya yang malah saling melombakan seragam sekolahnya. Mereka bikin baju seragam event ini itu dengan biaya yang cukup fantastis.

Dan satu lagi, generasi muda ini tidak peduli dengan sesulit apapun pelajaran matematika, mereka akan tetap belajar. Ahhh, paling suka deh dengan testimony mereka yang ini. Aku percaya, bahwa kalimat ini bukan hanya tertuju kepada matematika saja (yang katanya terkenal sulit), akan tetapi juga untuk mata pelajaran yang lain. Mereka yang hidup dalam kekurangan ini sama sekali tidak mengeluhkan sulitnya mata pelajaran atau panasnya ruangan belajar. Mereka terus belajar dan menikmati kondisi yang tengah mereka jalani.

Luar biasa, batinku. Ternyata bukan fasilitas lengkap yang membuat kita hebat. Bukan kemudahan-kemudahan yang menjadikan kita sosok luar biasa dan bermental pemberani. Dari mereka aku belajar bahwa kekurangan, hambatan, ancaman dan tantangan ternyata menyimpan sesuatu yang istimewa. Mereka mampu membuat jiwa yang rapuh menjadi lebih kuat, mampu menyulap jiwa yang kerdil menjadi lebih bijaksana. Dan aku teringat dengan sebuah quotes; bahwa angin dan gelombang itu hanya berada di dekat navigator yang handal.

Jadi, jika sekarang kamu tengah berada di sebuah angin badai, nikmati saja prosesnya. Semua kekurangan yang melekat, hambatan yang terus bermain-main di depan mata atau ancaman yang tiada kunjung berakhir, nikmati saja. Toh juga mengeluh tidak akan membuat semuanya menjadi baik-baikk saja. Jangan-jangan kamu adalah navigator atau pelaut yang handal, makanya Allah berikan gelombang dan angin badai di kapal yang tengah kamu kemudikan.

Coba deh tarik napas pelan-pelan, lalu katakan kepada dirimu sendiri;
“Aku baik-baik saja kok”






Medan, 6 November 2018 14 : 50 WIB
Ditulis ketika sedang merasa di dalam sebuah badai dan gelombang yang dahsyat. Sabarlah wahai diri, Tuhan hanya sedang mengetes kemampuan navigasimu.





KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...