Wednesday, 18 July 2018

Untuk Apa Matematika?

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan



6 Mei 2017

Aku melintasi kawasan Universitas Negeri Medan. Ya, waktu itu pagi-pagi sekali. Aku menuju ke sebuah gedung bertuliskan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Terlihat beberapa orang berkerumun menuju ke sebuah ruangan di lantai tiga. Ahh, sepertinya tujuan kami sama, batinku. Aku pun mengikuti langkah mereka. Sesampainya di lantai tiga, beberapa orang dengan id card menggantung di lehernya mengarahkanku untuk mengisi beberapa data dan menyelesaikan administrasi. Aku menurut. Hingga aku diinstruksikan untuk memasuki ruangan besar, ya kurang lebih seperti aula.

Di dalamnya aku melihat ratusan kursi telah disusun menghadap ke sebuah panggung. Ada banyak orang yang telah duduk di kursi. Saling bercengkrama dengan teman sebelahnya. Ada juga yang menikmati kue pemberian panita, bahkan ada juga yang sibuk dengan smartphone nya. Aku terpaksa duduk di kursi belakang. Huffht, batinku. Padahal aku rasanya udah (lumayan) cepat menghadiri acara ini, tetapi ada mereka yang jauh lebih cepat datang dariku. Alhasil aku terpaksa duduk di kursi barisan belakang. Aku meletakkan ransel dan menyisir pandangan ke seluruh ruangan. Penglihatanku terhenti di sebuah spanduk bertuliskan “Seminar Nasional Matematika

Ya, aku sedang mengikuti salah satu ritual (izinkan aku menyebutnya begitu) seorang dosen. Menjadi dosen bukan hanya mengajar di kelas, membimbing mahasiswa, mencoret-coret skripsi mahasiswa apalagi sekadar memberi tugas lalu kabur dari kampus, astaghfirullah. Ada beberapa kewajiban yang harus diikuti oleh dosen lho. Salah satunya adalah menjadi pembicara di seminar nasional atau internasional dengan targetnya adalah menghasilkan prosiding. Jadi, jika kalian sering beranggapan bahwa dosen itu pekerjannya enak, duduk-duduk saja, eitss, coba cek kembali ya.

Tidak ada yang menarik dari acara seminar nasional ini. Well, mungkin karena aku sudah sangat sering mengikuti yang beginian, jadinya ya gitu. There is nothing special lah. Semuanya berjalan layaknya seminar seperti biasa. Sampai akhirnya salah seorang pembicara dari ITB mulai mengambil alih acara seminar itu. Ia akan menyampaikan beberapa penjelasannya tentang matematika dan pengalamannya selama ber-matematika.

Ialah ia, bapak Dr. Saladin Uttungadewa. Salah seorang pengajar dan praktisi matematika dari Institut Teknologi Bandung. Suasana seketika mencair ketika beliau menyampaikan orasi ilmiahnya. Tentu saja aku tidak akan menceritakan perihal matematika yang akan memusingkan kepala kalian. Aku akan sharing sebuah cerita menarik yang beliau ceritakan sebagai opening story kami.

Cerita ini khusus untuk kalian, orang-orang yang berkutat dengan matematika. Para praktisi matematika, dosen matematika serta mahasiswa matematika, dan terlebih lagi untukku juga. Ahh, cerita ini juga sering aku alami ketika pertama kali memutuskan untuk menjadikan matematika sebagai salah satu bagian dari hidupku.
Banyak yang bertanya, apa yang bisa dikerjakan oleh para mahasiswa matematika ketika ia sudah menyelesaikan kuliah matematika? Apa sih yang bisa dilakukan dengan matematika? Menjadi guru tentu adalah pilihan yang cukup bagus. Sayangnya, tidak semua orang berminat dan berbakat untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Sehingga menjadi guru bukan pekerjaan yang didambakan. Hingga akhirnya pertanyaan itu muncul lagi, apa yang bisa dilakukan oleh matematika? Pekerjaan seperti apa yang membutuhkan kemampuan matematika secara general?

Doktor ITB ini juga bingung untuk menjelaskan perihal ini kepada orang lain. Jangankan kepada orang lain, ia sendiri juga bingung tentang kegunaan matematika yang dipelajarinya. Ia mencoba menemukan jawaban itu selama kuliah. Apakah ia menemukannya? Tidak. Bahkan sampai tamat kuliah, pak Saladin tidak menemukan jawaban apa kegunaan matematika.

Hingga akhirnya  beliau memutuskan untuk melanjutkan S2. Tentunya dengan asumsi bahwa ia akan bisa menjawab pertanyaan itu dengan baik dan benar. Sayangnya TIDAK. Beliau masih kebingungan dengan segala pertanyaan yang terus menghantuinya selama ini.

Masih bosan menghadapi kebingungan itu, akhirnya S3 di Belanda pun menjadi pilihan beliau. Berburu ke negeri kincir angin benar-benar membuka cakrawala pikirannya mengenai matematika seutuhnya. Beliau akhirnya menemukan bahwa matematika bukan sekadar ilmu hitung yang melibatkan perhitungan yang rumit. Beliau tahu betapa pentingnya ilmu matematika di dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak orang-orang yang tidak menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi di dalam hidup adalah sebuah masalah matematika. Dan tentu saja harus diselesaikan secara matematika.

Incredible opening story sir. Jujur, aku kagum dengan mereka yang benar-benar concern menemukan hakikat ilmu yang dipelajari. Betapa hebatnya perjuangan sang doktor satu ini untuk  memenuhi rasa ingin tahunya yang begitu besar. Sebuah pesan tersirat yang disampaikan oleh DR. Saladin. Jika kamu masih bingung tentang sesuatu hal, maka teruslah belajar. Puaskan rasa ingin tahumu dengan belajar. Jika ternyata proses belajar itu masih membingungkan dirimu juga, maka ada baiknya kamu kuliah (lagi). Dan apakah ini saatnya bagiku untuk kuliah lagi? Karena sepertinya belajar tidak berpengaruh besar memenuhi rasa ingin tahuku. Yuk ahh, cari beasiswa!!




Medan, 18 Juli 2018, 09:38
Tulisan ini diselesaikan ketika mengawas Ujian Akhir Semester mata kuliah Kalkulus 2 kelas TIF Pagi D, Universitas Potensi Utama.

Monday, 9 July 2018

Resensi : Harga Sebuah Percaya



Judul            : Harga Sebuah Percaya
Penulis          : Tere Liye
Penerbit         : Mahaka Publishing
Halaman         : 298

Aku mematung begitu lama di depan rak buku yang menyajikan semua buku karangan Tere Liye. Menyisir semua buku yang terpajang satu per satu. Mengamati judul buku dan membaca sinopsis yang terdapat di sampul belakang buku. Perasaan bingung mulai menghantuiku. Aku begitu bingung harus memasukkan buku yang mana ke dalam keranjang belanjaanku. Well, sebenarnya ingin memasukkan semua buku Tere Liye ke dalam keranjang belanjaan, tetapi apa daya, budget dan keinginan sedang tidak linear, sedang tidak sinkron. Hehehe. Alhasil aku benar-benar harus memutuskan memilih buku yang mana. Beneran, ini tuh susah banget. Aah, memang pada dasarnya aku adalah orang yang susah menentukan pilihan, eeh.

Akhirnya tangan kecilku ini (ini bukan sok imut ya, tapi beneran tanganku ini kecil, hehe) menggenggam buku ini. Entah kenapa dari semua buku Tere Liye aku begitu prefer sama yang ini. Mungkin karena warna cover buku ini. Ahh, karena memang dasarnya aku tuh visual banget, jadi hal pertama yang aku lihat dari sesuatu itu adalah penampilan. Walau banyak pepatah yang mengatakan dont judge the books by its cover, tapi aku tuh tetap gak bisa. Hehehe. Entah kenapa cover buku ini yang terdiri dari perpaduan warna pastel ini begitu membuatku jatuh cinta, kok kayaknya lembut dan menenangkan ya. Dan yang paling membuat gemes itu adalah judulnya. Aku begitu tertarik dengan judul yang tercantum di halaman cover. Aku rasa mungkin karena akhir-akhir ini aku kekurangan rasa percaya kali ya, hihihi. Makanya aku begitu tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan rasa percaya, hehe.

Ialah Jim, seorang pemuda desa di sebuah benua utara. Seorang pemain biola, sebatang kara, hidup dalam belas kasihan orang lain dan tidak berpendidikan. Bahkan ia tidak mengerti dengan tulis baca. Ia hanya memiliki kemampuan bermusik yang bagus dan hati yang tulus serta jauh dari prasangka. Sehari-harinya ia bermain musik di pernikahan orang-orang di desanya. Menghibur orang dengan musiknya yang memukau. Itu sudah lebih cukup bagi seorang Jim.

Hingga sebuah pernikahan mempertemukannya dengan seorang gadis yang menarik hatinya, Nayla. Mereka bahkan saling jatuh cinta dan berjanji untuk menikah. Bahkan Nayla, yang notaebene nya adalah anak bangsawan negeri seberang tidak memperdulikan status sosial mereka yang sangat berbeda jauh. Mereka berdua benar-benar larut dalam romansa cinta.

Sayangnya, kekuatan cinta mereka diuji ketika Nayla harus menikah dengan lelaki pilihan keluarganya. Konflik mulai datang. Nayla meminta ketegasan Jim untuk membawanya kabur dari perjodohan itu. Bagi Jim tentu itu bukan hal yang mudah. Ia bahkan tidak punya nyali untuk membawa pergi gadis yang dicintainya itu. Hingga akhirnya Jim tetap termenung dalam kepengecutannya.
Dan begitulah, sampai akhirnya Nayla memutuskan untuk meminum racun dan meninggal. Menyisakan Jim yang masih menyesali kepengecutannya. Merasa tiada berguna lagi, Jim juga ingin mengakhiri hidupnya. Ia mempersiapkan sebotol racun dan menggantung tali. Tetapi Jim adalah seorang lelaki pengecut yang bahkan sangat tidak berani menghadapi maut. Dalam penyesalan itu, Jim didatangi oleh seorang lelaki tua yang mengaku dirinya ‘Sang Penandai”.

Sang Penandai ialah orang yang membuat dongeng dan menjaga dongeng agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Mengapa ia mendatangi Jim? Karena Jim terpilih untuk menciptakan sebuah dongeng yang akan dikenang oleh generasi berikutnya. Antara percaya dan tidak percaya Jim mendengarkan penjelasan lelaki tua itu. Apalagi untuk pemuda yang tidak berpendidikan, memahami hal yang rumit seperti itu sangat menyusahkannya.

Kira-kira apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadap Jim? Dongeng seperti apa yang akan Jim ciptakan? Bagaimana perjalanan Jim dengan armada empat puluh dalam menemukan tanah harapan? Apakah Nayla benar-benar bunuh diri ketika itu? Apakah Jim akan bertemu kembali dengan Nayla?

Menurutku ini bukan sekadar novel romantis belaka, tetapi ia sarat dengan nilai kehidupan. Tentang bagaimana kekuatan sebuah percaya. Lihat Jim yang percaya bahwa ia harus ikut armada empat puluh, Jim percaya bahwa ia bisa melewati semua perjuangan untuk menemukan akhir dari dongengnya. Jim benar-benar mengajarkan tentang harga sebuah kepercayaan. Tidak hanya itu novel ini juga mengajarkan bahwa kita harus bersabar atas semua usaha yang telah dilakukan dan harusnya tegar menghadapi berbagai cobaan.

Walau fokus novel ini adalah bagaimana Jim menyembuhkan luka atas kehilangan Nayla. Aku bahkan bisa mendapatkan banyak pesan dari setiap paragrafnya. Tere Liye bukan sekadar menceritakan seorang pemuda yang galau. Tetapi lebih kepada pemuda yang move on dari masa lalunya, menjadi pemuda yang tidak lagi pengecut dan lebih berpendidikan. Tentang bagaimana agar seharusnya kita harus percaya dengan setiap takdir yang sedang Tuhan berikan kepada kita. Karena takdir yang Tuhan berikan adalah dongeng yang harus kita selesaikan dan itu adalah dongeng terindah. Maka, apapun dongeng kalian sekarang, selesaikanlah!. Tere Liye, seperti biasanya benar-benar memukau dan luar biasa. *angkat topi*




Medan, 07 Juli 2018, 15.21
Kalau udah baca novelnya Tere Liye jadi semangat juga nulis novel seperti beliau.
Huaaa, can i ?

Tuesday, 3 July 2018

Perpisahan

Kompleks MMTC, Medan


Mereka bukanlah teman yang membersamaiku begitu lama. Mereka juga bahkan tidak mengenal aku seutuhnya. Mereka juga bukan tempat dimana aku berbagi keluh kesah. Ya, mereka hanya sebatas rekan kerja. Rekan kerja yang hanya aku temui di beberapa hari saja setiap minggu. Rekan kerja yang hanya say hello, lalu masing-masing akan berkutat dengan pekerjaanya. Mereka adalah rekan kerja yang kemudian menjadi sesuatu istimewa di kemudian hari.

Sebuah bimbel terkemuka di kota Medan yang menjadi saksi pertemuan kami. Ya, kami adalah tenaga pengajar di bimbel tersebut. Entah kenapa persahabatan dadakan ini bisa muncul, aku lupa asal muasal nya, hihi. Ya, awalnya kami memang hanya sebatas rekan kerja, saling bertegur sapa di kantor, saling membantu urusan pekerjaan, ya sebatas itu saja lah. Tetapi beberapa bulan setelah saling mengenal, akhirnya rekan kerja menjadi sahabat.

Aku membersamai mereka hanya berbilang bulan saja. Well, mungkin hanya sekitar sembilan bulan saja. Dan ikatan persahabatan dadakan ini malahan muncul di bulan-bulan akhir kebersamaan kami. Ahh, betapa memilukannya bukan? Harusnya kami nongkrong, belanja bareng atau nonton bareng itu sejak awal ketemu, bukan di akhir-akhir seperti ini. Kan, jadinya gak menikmati waktu bersama mereka. Hiks.

Foto yang aku posting itu adalah sebuah dokumentasi perpisahan kami. Ya, ketika aku kembali membuat sebuah keputusan besar dalam hidupku. Aku memutuskan untuk meninggalkan kota Medan dan kembali ke kampung halaman. Setelah menamatkan studi pasca sarjanaku, aku memutuskan untuk mengabdikan seluruh ilmu itu di kampung halaman, hitung-hitung ini caraku membangun kampung halamanku. Pencitraan banget kan ya, hihihi.

Dan selalu begitu. Aku pasti akan mengorbankan sesuatu atau seseorang ketika mengambil sebuah keputusan besar. Dan kali ini, aku terpaksa mengorbankan ikatan persahabatan dengan mereka. Sebenarnya berat hati, bahkan sangat berat hati ketika harus mengorbankan persahabatan nan mulia. Aah, entah sudah berapa kali ikatan persahabatan aku rusakkan hanya karena kepergianku dalam melakukan sebuah keputusan yang besar. Hey para sahabat yang aku cintai, semoga kalian semua memaafkan keegoisanku ya.

Keputusan besarku ini mengantarkan kami untuk saling bertemu dan bercerita di hari itu. Ya, foto di atas adalah sebuah dokumentasi perpisahan antara aku dan mereka. Baiklah, aku menyebut ini dengan istilah perpisahan. Berpisah karena kami memang benar-benar berpisah. Aku memutuskan untuk meninggalkan kota ini, bukankah itu artinya kami akan berpisah? Aku memutuskan untuk kembali merusak ikatan persahabatan yang nyata-nyata nya masih seumur jagung, melepaskan semua kebersamaan yang telah susah payah dibangun. Bukankah itu artinya sebuah perpisahan?

 
Kenapa sih harus meninggalkan kota ini?
Setidaknya begitu pertanyaan mereka ketika aku memberitahukan keputusan besar ini. Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, bingung harus menjelaskan apa. Entah apa yang menguatkan hatiku untuk benar-benar harus meninggalkan kota ini dan segera berpindah ke kotaku. Ahh, maafkan aku sahabat yang tidak memberikan jawaban memuaskan perihal pertanyaan itu. Aku hanya berharap menjadi pribadi yang lebih baik lagi di kotaku, bukan di kota ini.

Hingga pelukan hangat dengan sedikit deraian air mata mengantarkanku meninggalkan kota ini. Melihat mereka dari kejauhan sambil melambaikan tangan seolah menahan langkahku untuk bertahan saja di kota ini. Apakah aku harus di sini saja? Well, mereka berhasil membuatku ragu dengan keputusanku. Tetapi aku harus tetap mantap melangkah. Aku harus benar-benar pergi meninggalkan kota ini, bukan karena kota ini tidak baik, kejam, jahat atau apalah. Hanya saja aku harus meninggalkan kota ini, sepertinya ia bukan tempat yang cocok untukku mewujudkan semua impian. Sepanjang perjalanan antara kota ini ke kotaku, aku mulai menyusun rencana-rencana terbaik perihal masa depan yang akan aku bangun di sana.

Dan begitulah. Manusia hanya bisa berencana dengan sematang-matang perencanaan. Manusia hanya hampu berusaha dengan semaksimal ikhtiar yang dia bisa. Akan tetapi ia tak kuasa menentukan takdir dalam hidupnya. Ada Dzat yang jauh lebih berkuasa daripada perencanaan dan persiapan yang matang itu. Ada Dzat yang memiliki takdir terbaik yang telah Ia tetapkan untuk kita, hamba-Nya.

Sang Maha Kuasa itu berkata lain dengan takdirku. Ia kembali menggerakkan raga ini untuk kembali ke kota ini. Tepat tiga bulan setelah aku menginjakkan kaki ke kampung halaman, takdir membawaku kembali ke kota ini. Ahh, rasanya belum kering air mata perpisahan itu dari mata ini. Belum terhapuskan bagaimana wajah mereka yang sedih melepaskan kepergianku. Dan aku? Akhirnya kembali menancapkan kaki ku di kota ini.

Banyak yang bertanya kenapa? Ada apa? aah, jangankan kalian, aku juga sering bertanya akan hal ini kok. Kenapa takdir membawaku kembali ke sini? Ada apa dengan kota ini? Apakah ia benar-benar bisa mewujudkan semua impianku? Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di dalam benakku. Hanya saja tak sempat aku pertanyakan. Kepada siapa aku harus memberikan pertanyaan ini? Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini? Mungkin hanya Pemilik Takdir saja yang berhak untuk ditanya dan memberikan jawaban. Bahkan sampai detik ini aku masih belum bisa menemukan kenapa aku masih di sini? Mungkinkah ada urusanku di sini yang belum selesai? Tetapi apa ya Robb?





Medan, 03 Juli 2018, 18:37
Tulisan ini muncul karena aku sudah mulai lelah berada di sini. Adakah seseorang yang bisa mengeluarkanku dari kota ini?
_pendosa yang ingin bermanfaat_

Monday, 2 July 2018

Celengan Rindu

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Riau


Ini adalah sebuah dokumentasi yang kita abadikan sekitar tahun 2015. Ya, bukankah ini sudah sangat lama? Aku sangat suka mengamati lamat-lamat wajah kalian yang ada di foto ini. Tiga tahun berselang dari pertemuan ini, semoga kalian tetap cantik seperti di foto ini. Semoga kalian tetap tersenyum seperti di foto ini. Dan semoga hari-hari kalian juga seindah sore yang kita lewati di kala itu.

Allah mempertemukanku dengan tiga orang luar biasa ini sekitar tahun 2012. Ketika aku berhasil menamatkan kuliah S1, Allah menakdirkan aku untuk mengabdi di sebuah pondok pesantren di kota Pekanbaru. Nah, pondok itulah yang kemudian berhasil mempertemukan kita berempat.  Membersamai kalian bukanlah berbilang tahun. Aku bersama kalian hanya sekitar sembilan bulan saja. Karena Allah kembali memberikan takdir yang berbeda, yaitu aku harus melanjutkan sekolah Pasca Sarjana ku di kota Medan. Kita akhirnya berpisah di pertengahan 2013. Hingga kembali takdir Allah mempertemukan kita pada pertengahan tahun 2015.

Boleh aku perkenalkan kalian? Tiga orang sahabat terbaik yang menemani hari-hariku selama mengajar di pesantren. Yang pakai baju biru itu namanya Ustadzah Rita, beliau adalah guru bahasa Indonesia tingkat SMP. Yang pakai jilbab abu-abu berkacamata itu adalah kak Yosi, beliau adalah musrifah (guru asrama). Yang pakai jilbab hitam adalah Salwa, beliau juga musrifah seperti kak Yosi.  Entah apa yang menguatkan hubungan yang bermula dari rekan kerja ini, aku bahkan lupa kapan pertama kali kita mulai dekat dan saling curhat. Begitulah, Allah menggerakkan hati kita kemudian mempertautkannya satu sama lain, aah, peluuuk.

Kebersamaan itu akhirnya harus aku akhiri karena sebuah keputusan besar yang aku ambil yaitu melanjutkan sekolah Pasca Sarjana di kota Medan. Beraat sekali meninggalkan kalian kala itu, tetapi bismillah, aku harus tetap berangkat demi masa depanku. Aku kira persahabatan ini hanya sebatas pertemuan yang intens belaka, tetapi tidak. Allah masih tautkan hati kita walau hampir terpisah enam ratus kilometer. Kita tetap saling berkomunikasi lewat media sosial, telepon atau sms. Alhasil kita tetap saling curhat, berbagi cerita, dan mengetahui kabar masing-masing.

Sayangnya, media sosial, telepon atau SMS tidak bisa menggantikan kehadiran kalian. Aku terus memupuk rindu selama hampir dua tahun di kota Medan. Menahan rasa untuk bertemu mereka, bercengkrama dan saling berbagi cerita. Setiap hari aku tabungkan rindu itu di dalam celengan rindu yang aku bentuk sendiri. Dengan harapan, aku bisa membeli sebuah pertemuan beermodalkan hasil celengan rindu ku.

Hingga akhirnya saatnya tiba. Ketika celengan rindu itu telah sangat penuh dan sesak sekali. Aku rasa ini saat yang tepat aku menukar celengan ini dengan sebuah pertemuan. Bismillah, aku berangkat menuju ke bumi Lancang Kuning untuk menebus celengan rindu ini. Meluapkan semua rindu yang terus tertahan hampir dua tahun lamanya. Menceritakan berbagai episode yang aku lewati di kota metropolitan. Merasakan kembali pelukan hangat yang menenangkan dari kalian.

Dan beginilah kita kalau udah ketemu. Tak peduli hari itu panas atau macet, kita tetap bersemangat mengitari kota Pekanbaru yang sederhana itu. Kita berpetualang dari satu tempat ke tempat lainnya hingga perut ini terasa lapar. Lalu kembali menuai senyuman dan cerita sambil menikmati makanan yang enak dan tentu saja enak banget. Sebuah tempat makan yang menjadi saksi betapa kita sering menghabiskan waktu di sini, bercerita, mengurai luka dan berbagi bahagia.

Sayangnya kita akan selalu begini, tetap sama. Kita akan terus bercerita tentang dua tahun yang kita lewati secara terpisah. Ada banyak hal yang tidak aku ketahui dari perjalanan hidup kalian. Ada banyak hal yang kalian ingin dengar dari kisahku selama dua tahun di kota Medan. Kita juga akan terus mengabadikan setiap kegiatan dalam sebuah dokumentasi sederhana. Aah, mungkin lebih tepatnya sebuah dokumentasi yang sangat banyak, karena ada banyak foto kalau udah ngumpul.

Apakah foto-foto itu mengabadikan kisah kita? Aku rasa tidak. Lihat saja, satu orang diantara kita telah menemukan sandaran hidupnya dan menemukan kota baru yang lebih nyaman. Satu orang telah pulang ke kampung halaman ingin mengabdikan diri di sana. Satu orang masih bertahan di kota Bertuah sambil terus mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Lalu aku? Memilih kota metropolitan ini sebagai dermaga sementaraku, ya, setidaknya sebelum Sang Kapten menjemputku untuk berlayar lagi, hehe.

Walau memang semunya terkesan tidak abadi, tetapi kita percaya bahwa persahabatan ini akan abadi. Kita percaya bahwa keabadian  itu bukan dari kontak fisik, bukan dari seberapa sering kita bertemu. Karena jika kita masih saling mendoakan satu sama lain, itu artinya kita sedang menciptakan keabadian dari benteng persahabatan kita. Inilah yang membuatku selalu menyebut nama kalian di dalam doa-doaku. Lets robithoh!






Medan, 01 Juli 2018, 18:31
Ketika menuliskan ini, aku kembali merasakan sesuatu. Ya, sepertinya celengan rinduku sudah mulai penuh. Kapan aku bisa menukarnya dengan sebuah pertemuan?
_pendosa yang ingin bermanfaat_

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...