Monday, 23 July 2018

Fokuskan Arahmu




Salah satu hal yang menjadi perhatian seseorang ketika hendak melaksanakan sholat adalah menetapkan arah sajadahnya. Atau sama artinya menetapkan arah sholat kemana hendak dilakukan. Sudah seharusnya sholat dilakukan menghadap ke arah tertentu yaitu kiblat. Menghadap kiblat sendiri merupakan salah satu dari enam syarat sah sholat. Itu artinya jika seseorang tidak melakukan sholat menghadap ke arah kiblat, sholatnya tidak akan sah.

“Jika engkau hendak sholat, maka berwudhu lah dengan sempurna. Kemudian menghadaplah ke kiblat” (HR. Bukhori dan Muslim).

Beberapa aplikasi pun dirancang untuk menemukan arah sholat paling sempurna. Di beberapa langit-langit kamar hotelpun sering dipasang tanda seperti panah yang menyatakan arah sajadah ketika seorang muslim ingin sholat. Sebegitu pentingnya arah sholat ini. Bahkan keabsahan sholat seseorang juga akan diragukan ketika ia menetapkan sajadahnya ke arah yang kurang tepat.

Arah di dalam sholat menunjukkan tujuan kemana sholat itu. Bukan bermaksud menyembah ka’bah, melainkan menyembah penciptanya ka’bah. Ketika sholat dilakukan menghadap kiblat, itu sejatinya mengingatkan kita bahwa ada Dzat yang menguasai ka’bah. Ada Dzat yang sangat berhak kita agungkan dan kita sembah. Ka’bah hanya menjadi simbol yang mengingatkan kita terhadap tujuan dari ibadah sholat yang dikerjakan, yaitu ibadah kepada Allah swt.

Berbicara perihal tujuan dan sebuah kefokusan, juga berarti tentang perjalanan. Sebuah kapal yang berlayar di tengah lautan, bus yang melaju kencang di jalanan atau pesawat yang sedang mengudara juga memiliki tujuan masing-masing. Semua perjalanan itu memang berkelana entah kemana, menikmati setiap kota yang dikunjungi, melewati badainya perjalanan. Tetapi semua perjalanan itu mengarah pada satu titik yaitu tujuan. Kapal, bus dan pesawat itu memiliki tujuan masing-masing. Tujuan itu yang mengarahkan arah perjalanan mereka. Apapun bahaya, kendala yang dihadapi akan ditangani segera. Demi mencapai tujuan yang mereka inginkan. Semua perjalanan akan sangat fokus terhadap tujuan perjalanannya.

Hidup juga seperti sholat, juga seperti sebuah perjalanan. Kita perlu mengarahkannya kepada sesuatu titik atau tujuan yang jelas. Apa yang ingin dicapai dalam hidup? kehidupan seperti apa yang diinginkan? Akhir kehidupan seperti apa yang akan dituju? Semua itu harus jelas, fokus dan terarah. Bahkan sejatinya kita perlu merumuskan dengan tepat apa tujuan dari kehidupan ini. Bukan sekadar ingin have fun, enjoy atau sekadar menikmati hidup saja. Seseorang yang cerdas harus benar-benar merumuskan tujuan dan fokus hidupnya dengan tepat, ingat ya! dengan tepat.

Karena tujuan yang tepatlah yang akan mengantarkan kehidupan menjadi lebih baik. Fokus dan arah yang benarlah yang kemudian membuat seseorang merasa puas dan sempurna dengan segala kehidupannya. Tujuan yang tepat dan terarah akan membuat seseorang akan terus bergerak pada langkah-langkah yang tepat dan terarah juga. Sebaliknya, sebuah tujuan hidup yang salah akan membuat hidup berada pada koridor yang salah lagi keliru. Apalagi kehidupan yang tidak memiliki arah yang tepat, aah ibaratkan kapal yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa tahu harus kemana mengarahkan kemudi kapalnya. Nauudzubillah.

Sekarang begini. Coba deh bayangkan ketika arah kehidupanmu kacau, berantakan dan tidak menentu. Lalu warna kehidupan itu berubah-ubah sesuai dengan keinginan dan mood yang punya kehidupan. Beberapa badai, masalah dan cobaan menghantam kapal kehidupan tersebut. Akibatnya kapal kehidupan itu berhenti di tengah deburan ombak samudera yang ganas. Tidak tahu lagi ingin membelokkan arah kemana lagi. Sang nakhoda mulai kebingungan menemukan arah yang tepat. Kapal kehidupan seperti inikah yang didam-idamkan banyak orang? Ahh, tentu saja tidak. Atau mungkin lebih tepatnya, pantaskah kehidupan seperti ini masih bisa dikategorikan sebagai kehidupan? Astaghfirullah.

Tentunya kita tidak menginginkan kehidupan yang berakhir naas layaknya kapal yang terombang-ambing di tengah lautan. Makanya kita perlu merumuskan tujuan kehidupan. Kita perlu membuat arah tujuan hidup itu lebih fokus dan terarah. Arah yang memang dari awal telah benar-benar kita tetapkan. Dan apapun yang terjadi selama kehidupan berlangsung, bagaimanapun peliknya masalah atau cobaan yang dihadapi, jangan biarkan arah itu berubah walau hanya satu derajat. Pertahankan arah itu. Kenapa? Karena ketika arah itu berubah, maka tujuan pun akan berubah.

Terus bertahan dengan arah dan tujuan yang telah ditetapkan. Still focus!!. Percaya deh, ketika kita menjadikan sesuatu itu sebagai fokus dalam hidup, maka kita akan mendapatkannya. Dan bukankah sebuah kaca pembesar mampu membakar kertas di bawah sinar matahari hanya karena ia fokus? Mungkin butuh waktu yang lama sebuah lup itu membakar kertas, tapi percayalah ketika ia benar-benar fokus dan sedikit kesabaran, maka kertas itu akan terbakar kok.

Begitu juga dengan hidup. Yang amat kita perlukan adalah fokus. Mau nikah? Ya fokus dan serius dong belajar ilmu-ilmu munakahat. Mau lanjut kuliah di luar negeri? Fokus dong belajar bahasa, cari informasi dan beasiswa. Mau masuk syurga? Fokus dong maksimalkan ibadah wajib dan sunnah kemudian berakhlak mulia. See? Fokus adalah inti dari semua permasalahannya. Tenang saja, bentuk ke-fokus-an itu akan dinilai sama Allah. Perihal waktu saja kapan Allah akan memberikannya kepada kita. Ya, terkadang Allah juga memberikan dalam bentuk yang berbeda. Tunggu saja, insya allah akan diberi oleh Allah kok.




Medan, 23 Juli 2018, 15 : 37
Tulisan ini adalah gubahan tulisan ketika pertama kali mengikuti training jadi penulis dengan mentor andalan, kak Afifah.
_pendosa yang ingin bermanfaat_

Thursday, 19 July 2018

Menjadi Cantik

Medan, Sumatera Utara

12 Mei 2015

Akhirnya hari ini menjadi saksi bahwa ternyata aku cantik, eeh lebih tepatnya merasa cantik. Ini bukan lebay ala-ala kids jaman now, tapi beneran deh, penampilan aku hari ini benar-benar sangat berbeda dari aku yang biasanya. Ini semua karena hari ini adalah salah satu dari sekian hari istimewa dalam hidupku. Aah, seharusnya aku merasa setiap hari itu selalu istimewa.

Hari ini aku mengikuti sebuah perayaan wisuda magister ku. Tentunya kalian bisa membayangkan betapa istimewanya hari ini. Aku yang gak ngerti perihal eye shadow, blass on, dan lain sebagainya, tiba-tiba hari ini menjadi paham bagaimana bentuk bahkan cara menggunakannya. Wajahku yang biasanya terlihat bak orang ndeso, kampungan, tiba-tiba berubah bak seorang putri kerjaan yang cantik (menurutku) tanpa jerawat dan komedo menghiasi wajahku. Kurang cantik apa coba aku hari ini, hehehe.

Bukan hanya perihal cantik yang ku pelajari hari ini. Ada hal lain yang aku rasakan. Ternyata untuk menjadi cantik itu memang sakit. Untuk menjadi cantik itu penuh pengorbanan dan rasa penyiksaan yang luar biasa, hahah. Lebay sih memang, tapi memang begitu yang aku rasakan. Gimana gak menyiksa coba, demi menjadi cantik di hari spesial ini aku rela bangun-bangun pagi banget. Bayangin deh jam 3 aku udah bangun, mandi lalu bersiap-siap. Ya, biasanya aku juga bangun jam segitu sih, tapi tentu tidak untuk hal yang seremeh ini, hehehe.

Bukan hanya bangun dan mandi se dini hari itu, aku juga harus melintasi jalanan ibukota yang jelas-jelas berwarna hitam pekat itu. Tiada kendaraan yang menyaingi perjalananku hari itu. Hanya lampu jalan yang kadang berkedap-kedip ditambah lagi dinginnya angin malam yang menusuk ke tulangku. Ada perasaan gak enak aja sendirian melintasi jalanan ibukota. Serem-serem gimana gituu.

Aku juga harus rela duduk berjam-jam di depan seseorang yang bersiap mengubah wajahku. Aku harus merelakan wajahku dipoles di sana-sini. Eh, jangan kalian bayangkan sentuhannya lembut dan menyenangkan. Terkadang seseorang itu memberiku sedikit efek sakit, ngeri, perih dan banyak hal deh. Gini nih, kalau jarang dandan, sesekalinya dandan langsung wajahnya sakit semua, hihi. Belum lagi kalau seseorang itu menyuruh gak boleh gini, gak boleh gitu, gak boleh gerak, gak boleh kedip, aah, pokoknya semuanya gak boleh deh. Aku harus menahan rasa kesemutan karena harus duduk cantik gak boleh gerak-gerak bak seorang sinden. Aah, betapa ini sangat tidak menyenangkan bagiku.

Begitulah. Aku baru didandan sehari ini aja benar-benar merasakan bahwa menjadi cantik memang sakit, menyiksa dan perlu pengorbanan.

Tetapi apakah aku benar-benar telah menjadi cantik? Aah, secara fisik mungkin iya, *ya ampun, ini geer banget*. Tetapi menjadi cantik secara fisik itu tidak abadi. Lain halnya ketika kita menjadi cantik karena inner shalihah yang dimiliki. Izinkan aku mengganti inner beauty dengan inner shalihah ya. Heheh. Menjadi cantik karena jiwa dan karakter yang positif itu jauh lebih cantik ketimbang mereka yang hanya cantik karena faktor fisik belaka. Dan yang lebih parahnya, menjadi cantik jiwa itu perlu perjuangan yang lebih ekstra ketimbang menjadi cantik fisik. Perlu pengorbanan yang gak sembarangan.

Sebut saja berkorban karena kepanasan mengenakan hijab panjang sesuai syariat di antara mereka yang masih menghiasi rambut panjangnya dengan pita. Berkorban karena tidak ada lagi kongkow-kongkow gak jelas dengan mereka yang bukan mahrom. Berkorban untuk selalu terjaga setiap malam agar bisa terus bermunajat kepada Sang Illahi. Berkorban menahan godaan makan dan minum karena sedang puasa sunnah. Berkorban menahan keinginan nonton bioskop karena jadwalnya yang bentrok dengan kajian wajib. Termasuklah berkorban untuk tidak pacaran demi menanti pasangan halal yang diridhoi Allah.

Nah, kalian lihat? Itu butuh pengorbanan yang luar biasa. Butuh perjuangan yang ekstra. Tentunya sedikit lebih menyiksa ketimbang menahan kesemutan karena di dandani atau perihnya mata karena memakai eye liner. Memang menyiksa, karena inilah hakikat cantik sesungguhnya. Inilah cantik yang harusnya menjadi tujuan akhir seorang perempuan. Sebuah cantik yang takkan luntur karena air. Cantik yang takkan berkurang karena bertambahnya usia.

Makanya, menjadi cantik yang sesungguhnya bukan tentang wajahmu yang terlihat menawan di depan orang lain. Bukan tentang riasan yang dikenakan atau baju yang dipakai. Karena kecantikan seperti itu akan luntur oleh air, pupus oleh waktu dan habis termakan usia. Yang diperlukan cantik itu adalah jiwa, bukan fisik aja. Memang berat dan penuh perjuangan. Tetapi bukannya tidak bisa kan?

Teruslah melatih diri untuk memiliki kecantikan fisik yang hakiki. Tempah terus jiwa dan karaktermu agar menjadi pribadi yang lebih baik. Percayalah, jika kamu telah berusaha dan konsisten untuk terus melakukannya, kecantikanmu akan mengalahkan bidadari. Dan pada akhirnya bidadari pun akan cemburu padamu.

Yuk, menjadi cantik!! Tentunya cantik jiwa dong.




Medan, 19 Juli 2018, 11:36
Foto ini adalah momen betapa aku merasakan sakitnya menjadi cantik (secara fisik). Terima kasih telah membuatku merasa cantik ketika itu ya Salon Valo Mode. But, im not beautifull anyomore lah.
_pendosa yang ingin bermanfaat_

Wednesday, 18 July 2018

Untuk Apa Matematika?

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan



6 Mei 2017

Aku melintasi kawasan Universitas Negeri Medan. Ya, waktu itu pagi-pagi sekali. Aku menuju ke sebuah gedung bertuliskan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Terlihat beberapa orang berkerumun menuju ke sebuah ruangan di lantai tiga. Ahh, sepertinya tujuan kami sama, batinku. Aku pun mengikuti langkah mereka. Sesampainya di lantai tiga, beberapa orang dengan id card menggantung di lehernya mengarahkanku untuk mengisi beberapa data dan menyelesaikan administrasi. Aku menurut. Hingga aku diinstruksikan untuk memasuki ruangan besar, ya kurang lebih seperti aula.

Di dalamnya aku melihat ratusan kursi telah disusun menghadap ke sebuah panggung. Ada banyak orang yang telah duduk di kursi. Saling bercengkrama dengan teman sebelahnya. Ada juga yang menikmati kue pemberian panita, bahkan ada juga yang sibuk dengan smartphone nya. Aku terpaksa duduk di kursi belakang. Huffht, batinku. Padahal aku rasanya udah (lumayan) cepat menghadiri acara ini, tetapi ada mereka yang jauh lebih cepat datang dariku. Alhasil aku terpaksa duduk di kursi barisan belakang. Aku meletakkan ransel dan menyisir pandangan ke seluruh ruangan. Penglihatanku terhenti di sebuah spanduk bertuliskan “Seminar Nasional Matematika

Ya, aku sedang mengikuti salah satu ritual (izinkan aku menyebutnya begitu) seorang dosen. Menjadi dosen bukan hanya mengajar di kelas, membimbing mahasiswa, mencoret-coret skripsi mahasiswa apalagi sekadar memberi tugas lalu kabur dari kampus, astaghfirullah. Ada beberapa kewajiban yang harus diikuti oleh dosen lho. Salah satunya adalah menjadi pembicara di seminar nasional atau internasional dengan targetnya adalah menghasilkan prosiding. Jadi, jika kalian sering beranggapan bahwa dosen itu pekerjannya enak, duduk-duduk saja, eitss, coba cek kembali ya.

Tidak ada yang menarik dari acara seminar nasional ini. Well, mungkin karena aku sudah sangat sering mengikuti yang beginian, jadinya ya gitu. There is nothing special lah. Semuanya berjalan layaknya seminar seperti biasa. Sampai akhirnya salah seorang pembicara dari ITB mulai mengambil alih acara seminar itu. Ia akan menyampaikan beberapa penjelasannya tentang matematika dan pengalamannya selama ber-matematika.

Ialah ia, bapak Dr. Saladin Uttungadewa. Salah seorang pengajar dan praktisi matematika dari Institut Teknologi Bandung. Suasana seketika mencair ketika beliau menyampaikan orasi ilmiahnya. Tentu saja aku tidak akan menceritakan perihal matematika yang akan memusingkan kepala kalian. Aku akan sharing sebuah cerita menarik yang beliau ceritakan sebagai opening story kami.

Cerita ini khusus untuk kalian, orang-orang yang berkutat dengan matematika. Para praktisi matematika, dosen matematika serta mahasiswa matematika, dan terlebih lagi untukku juga. Ahh, cerita ini juga sering aku alami ketika pertama kali memutuskan untuk menjadikan matematika sebagai salah satu bagian dari hidupku.
Banyak yang bertanya, apa yang bisa dikerjakan oleh para mahasiswa matematika ketika ia sudah menyelesaikan kuliah matematika? Apa sih yang bisa dilakukan dengan matematika? Menjadi guru tentu adalah pilihan yang cukup bagus. Sayangnya, tidak semua orang berminat dan berbakat untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Sehingga menjadi guru bukan pekerjaan yang didambakan. Hingga akhirnya pertanyaan itu muncul lagi, apa yang bisa dilakukan oleh matematika? Pekerjaan seperti apa yang membutuhkan kemampuan matematika secara general?

Doktor ITB ini juga bingung untuk menjelaskan perihal ini kepada orang lain. Jangankan kepada orang lain, ia sendiri juga bingung tentang kegunaan matematika yang dipelajarinya. Ia mencoba menemukan jawaban itu selama kuliah. Apakah ia menemukannya? Tidak. Bahkan sampai tamat kuliah, pak Saladin tidak menemukan jawaban apa kegunaan matematika.

Hingga akhirnya  beliau memutuskan untuk melanjutkan S2. Tentunya dengan asumsi bahwa ia akan bisa menjawab pertanyaan itu dengan baik dan benar. Sayangnya TIDAK. Beliau masih kebingungan dengan segala pertanyaan yang terus menghantuinya selama ini.

Masih bosan menghadapi kebingungan itu, akhirnya S3 di Belanda pun menjadi pilihan beliau. Berburu ke negeri kincir angin benar-benar membuka cakrawala pikirannya mengenai matematika seutuhnya. Beliau akhirnya menemukan bahwa matematika bukan sekadar ilmu hitung yang melibatkan perhitungan yang rumit. Beliau tahu betapa pentingnya ilmu matematika di dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak orang-orang yang tidak menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi di dalam hidup adalah sebuah masalah matematika. Dan tentu saja harus diselesaikan secara matematika.

Incredible opening story sir. Jujur, aku kagum dengan mereka yang benar-benar concern menemukan hakikat ilmu yang dipelajari. Betapa hebatnya perjuangan sang doktor satu ini untuk  memenuhi rasa ingin tahunya yang begitu besar. Sebuah pesan tersirat yang disampaikan oleh DR. Saladin. Jika kamu masih bingung tentang sesuatu hal, maka teruslah belajar. Puaskan rasa ingin tahumu dengan belajar. Jika ternyata proses belajar itu masih membingungkan dirimu juga, maka ada baiknya kamu kuliah (lagi). Dan apakah ini saatnya bagiku untuk kuliah lagi? Karena sepertinya belajar tidak berpengaruh besar memenuhi rasa ingin tahuku. Yuk ahh, cari beasiswa!!




Medan, 18 Juli 2018, 09:38
Tulisan ini diselesaikan ketika mengawas Ujian Akhir Semester mata kuliah Kalkulus 2 kelas TIF Pagi D, Universitas Potensi Utama.

Monday, 9 July 2018

Resensi : Harga Sebuah Percaya



Judul            : Harga Sebuah Percaya
Penulis          : Tere Liye
Penerbit         : Mahaka Publishing
Halaman         : 298

Aku mematung begitu lama di depan rak buku yang menyajikan semua buku karangan Tere Liye. Menyisir semua buku yang terpajang satu per satu. Mengamati judul buku dan membaca sinopsis yang terdapat di sampul belakang buku. Perasaan bingung mulai menghantuiku. Aku begitu bingung harus memasukkan buku yang mana ke dalam keranjang belanjaanku. Well, sebenarnya ingin memasukkan semua buku Tere Liye ke dalam keranjang belanjaan, tetapi apa daya, budget dan keinginan sedang tidak linear, sedang tidak sinkron. Hehehe. Alhasil aku benar-benar harus memutuskan memilih buku yang mana. Beneran, ini tuh susah banget. Aah, memang pada dasarnya aku adalah orang yang susah menentukan pilihan, eeh.

Akhirnya tangan kecilku ini (ini bukan sok imut ya, tapi beneran tanganku ini kecil, hehe) menggenggam buku ini. Entah kenapa dari semua buku Tere Liye aku begitu prefer sama yang ini. Mungkin karena warna cover buku ini. Ahh, karena memang dasarnya aku tuh visual banget, jadi hal pertama yang aku lihat dari sesuatu itu adalah penampilan. Walau banyak pepatah yang mengatakan dont judge the books by its cover, tapi aku tuh tetap gak bisa. Hehehe. Entah kenapa cover buku ini yang terdiri dari perpaduan warna pastel ini begitu membuatku jatuh cinta, kok kayaknya lembut dan menenangkan ya. Dan yang paling membuat gemes itu adalah judulnya. Aku begitu tertarik dengan judul yang tercantum di halaman cover. Aku rasa mungkin karena akhir-akhir ini aku kekurangan rasa percaya kali ya, hihihi. Makanya aku begitu tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan rasa percaya, hehe.

Ialah Jim, seorang pemuda desa di sebuah benua utara. Seorang pemain biola, sebatang kara, hidup dalam belas kasihan orang lain dan tidak berpendidikan. Bahkan ia tidak mengerti dengan tulis baca. Ia hanya memiliki kemampuan bermusik yang bagus dan hati yang tulus serta jauh dari prasangka. Sehari-harinya ia bermain musik di pernikahan orang-orang di desanya. Menghibur orang dengan musiknya yang memukau. Itu sudah lebih cukup bagi seorang Jim.

Hingga sebuah pernikahan mempertemukannya dengan seorang gadis yang menarik hatinya, Nayla. Mereka bahkan saling jatuh cinta dan berjanji untuk menikah. Bahkan Nayla, yang notaebene nya adalah anak bangsawan negeri seberang tidak memperdulikan status sosial mereka yang sangat berbeda jauh. Mereka berdua benar-benar larut dalam romansa cinta.

Sayangnya, kekuatan cinta mereka diuji ketika Nayla harus menikah dengan lelaki pilihan keluarganya. Konflik mulai datang. Nayla meminta ketegasan Jim untuk membawanya kabur dari perjodohan itu. Bagi Jim tentu itu bukan hal yang mudah. Ia bahkan tidak punya nyali untuk membawa pergi gadis yang dicintainya itu. Hingga akhirnya Jim tetap termenung dalam kepengecutannya.
Dan begitulah, sampai akhirnya Nayla memutuskan untuk meminum racun dan meninggal. Menyisakan Jim yang masih menyesali kepengecutannya. Merasa tiada berguna lagi, Jim juga ingin mengakhiri hidupnya. Ia mempersiapkan sebotol racun dan menggantung tali. Tetapi Jim adalah seorang lelaki pengecut yang bahkan sangat tidak berani menghadapi maut. Dalam penyesalan itu, Jim didatangi oleh seorang lelaki tua yang mengaku dirinya ‘Sang Penandai”.

Sang Penandai ialah orang yang membuat dongeng dan menjaga dongeng agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Mengapa ia mendatangi Jim? Karena Jim terpilih untuk menciptakan sebuah dongeng yang akan dikenang oleh generasi berikutnya. Antara percaya dan tidak percaya Jim mendengarkan penjelasan lelaki tua itu. Apalagi untuk pemuda yang tidak berpendidikan, memahami hal yang rumit seperti itu sangat menyusahkannya.

Kira-kira apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadap Jim? Dongeng seperti apa yang akan Jim ciptakan? Bagaimana perjalanan Jim dengan armada empat puluh dalam menemukan tanah harapan? Apakah Nayla benar-benar bunuh diri ketika itu? Apakah Jim akan bertemu kembali dengan Nayla?

Menurutku ini bukan sekadar novel romantis belaka, tetapi ia sarat dengan nilai kehidupan. Tentang bagaimana kekuatan sebuah percaya. Lihat Jim yang percaya bahwa ia harus ikut armada empat puluh, Jim percaya bahwa ia bisa melewati semua perjuangan untuk menemukan akhir dari dongengnya. Jim benar-benar mengajarkan tentang harga sebuah kepercayaan. Tidak hanya itu novel ini juga mengajarkan bahwa kita harus bersabar atas semua usaha yang telah dilakukan dan harusnya tegar menghadapi berbagai cobaan.

Walau fokus novel ini adalah bagaimana Jim menyembuhkan luka atas kehilangan Nayla. Aku bahkan bisa mendapatkan banyak pesan dari setiap paragrafnya. Tere Liye bukan sekadar menceritakan seorang pemuda yang galau. Tetapi lebih kepada pemuda yang move on dari masa lalunya, menjadi pemuda yang tidak lagi pengecut dan lebih berpendidikan. Tentang bagaimana agar seharusnya kita harus percaya dengan setiap takdir yang sedang Tuhan berikan kepada kita. Karena takdir yang Tuhan berikan adalah dongeng yang harus kita selesaikan dan itu adalah dongeng terindah. Maka, apapun dongeng kalian sekarang, selesaikanlah!. Tere Liye, seperti biasanya benar-benar memukau dan luar biasa. *angkat topi*




Medan, 07 Juli 2018, 15.21
Kalau udah baca novelnya Tere Liye jadi semangat juga nulis novel seperti beliau.
Huaaa, can i ?

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...