Thursday, 14 January 2021

Daripada Zina

 


 

Jika aku bertanya “Apa tujuan kalian menikah?”. Kalian akan menjawab apa? Ya, terlepas lah apakah kalian belum atau sudah menikah. Kira-kira mengapa sih kalian menikah?

Beberapa orang menikah dengan alasan yang (sedikit) absurd menurutku. Setidaknya begini redaksi jawaban mereka ketika kutanya mengapa mereka memilih untuk menikah;

Daripada aku berzina, mending nikah aja. Jauh lebih halal kan? Gak dosa

Well, sebenarnya tidak ada yang salah dengan alasan itu. Karena salah satu hikmah dari pernikahan adalah menghindarkan anak manusia dari perbuatan zina. Tetapi gimana ya? Agak sulit rasanya membenarkan anjuran menikah hanya dengan alasan daripada zina. Entahlah, aku merasa alasan ini terkesan seperti pemb-biar-an dan lepas tangan.

Jika banyak orang yang menjadikan hal ini sebagai alasan mereka untuk menikah, sungguh sangat memilukan. Aku merasa kok lucu gitu ya, motivasi mereka menikah adalah supaya gak zina. Menurutku, terlalu remeh banget alasan tersebut untuk membangun sebuah pernikahan. Dan bagaimana mungkin memulai sesuai dengan pondasi yang sangat rapuh seperti itu? Aku tegaskan sekali lagi bahwa menikah bukan sekadar mencari teman tidur yang halal.

Alasan “daripada” zina sungguh terkesan emosional di telingaku. Lalu coba bayangkan dua orang yang memulai sesuatu dengan emosional? Lalu bagaimana masalah setelah menikah nanti bisa diatasi oleh dua orang yang belum matang secara emosi? Apakah pernikahan  semacam ini juga akan melahirkan emosional yang baru?

Lalu, apakah tidak boleh menikah karena  memang ingin menghindari zina?

Boleh saja sih menikah untuk menghindari zina, tapi hmm, apakah memang kondisinya sudah segitu tidak tertahankan lagi? Sehingga zina menjadi tameng pernikahanmu?

Itu masih satu alasan remeh kebanyakan orang ketika ditanya mengapa ia menikah. Belum lagi alasan-alasan laiinya misalnya sangat mencintai pasangan, takut dibilang gak laku, memang sudah masanya untuk menikah atau bawaan takdir. Sungguh, alasan yang sangat emosional sekali bukan?

Bukan berarti tidak boleh menjadikan alasan emosional sebagai pondasi pernikahan. Hanya saja, alangkah lebih baik dan alangkah bijaksananya jika kita memulai proses pernikahan itu dengan alasan yang menguatkan, alasan yang baik, bukan lagi sesederhana “daripada zina”.

Buat yang belum menikah, yuk luruskan lagi niatnya, kenapa harus menikah? Bangunlah pernikahan kalian di atas pondasi yang kokoh. Ingat, bahwa pernikahan itu ibadah terlama sepanjang hidup, jadi please jangan main-main. Persiapkan dengan matang pernikahan kalian, bukan pestanya, undangan atau honeymoonnya. Melainkan konsep menikah di mata kalian dan pasangan.

Dan buat yang sudah menikah, yuk kembali perbaiki pondasi pernikahan. Belum terlambat jika memang ada niat untuk menguatkan pondasi pernikahan. Bukankah kita menginginkan pernikahan yang sakinah mawaddah warohmah? Ketiga kriteria ini hanya akan tercapai jka memang pondasi pernikahan dan rumah tangga kita kuat dan sesuai syariat.



Medan, 14 Januari 2021, 22 : 27

Monday, 11 January 2021

Saat Diberi Lebih

 



Apakah pernah merasakan  bahwa diri ini memiliki banyak kelebihan? Bukan sombong, ujub atau narsis. Melainkan sebuah perasaan bahwa “saya diberi lebih oleh Allah”. Entah itu dari segi harta, fisik, kepintaran, keturunan atau berbagai hal duniawi lainnya. Sadar bahwa ternyata diri ini memang diberi kelebihan oleh Allah adalah sebuah keharusan, namun menjadi sombong dengan kelebihan yang dimiliki sungguh perbuatan tercela. Menganggap orang lain lemah karena tak memiliki apa yang dipunya adalah sesuatu yang tak terpuji.

 

Misalnya ketika diri diberi ilmu yang lebih. Bukan berarti mereka yang ilmunya masih kurang adalah orang yang tidak berilmu. Mungkin saja kita tidak memahami bagaimana susah payahnya mereka mempelajari ilmu tersebut. Ya, bisa saja mereka berjuang dengan rutinitas lain yang membuat mereka kesusahan mempelajari ilmu, sedangkan kita begitu diberi kemudahan oleh Allah dalam mengerjakannya. Sungguh tidak adil kan jikalau kita membandingkan diri ini dengan mereka?

 

Saat kita diberi finansial yang berlebih oleh Allah. Bukan berarti mereka yang sedang berusaha keras mencari uang adalah budak dunia. Mungkin saja kita tidak memahami bagaimana kondisi keungan keluarga mereka. Entah mereka sedang terlilit hutang, biaya hidup yang terus meningkat tajam dari pemasukan atau kondisi lainnya. Sementara kita Allah berikan kemudahan dengan lancarnya finansial, tidak ada hutang dan biaya hidup yang selalu terjamin.

 

Saat kita diberi kemudahan dalam mendidik anak. Bukan berarti mereka yang belum maksimal mendidik anaknya adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab. Kemudian dengan pongahnya kita melabeli mereka dengan orang tua yang minim ilmu parenting. Mungkin saja kita tidak memahami bagaimana susah payahnya dia memberikan ikhtiar semaksimal mungkin dalam segala keterbatasannya.

 

Saat kita diberi begitu banyak hal-hal lebih oleh Allah. Apapun itu bentuknya, entah mudahnya mendapatkan momongan tanpa perlu menanti lama atau mudahnya melahirkan tanpa ada banyak luka atau mudahnya meng-ASI-hi anak. Atau berbagai kemudahan lainnya, yang mungkin orang lain tidak dapatkan. Jangan jadikan itu sebagai bentuk penghakiman terhadap orang lain. Jangan menganggap orang lain harusnya juga mendapatkan kelebihan yang kita dapatkan. Hingga akhirnya kita berlagak sombong di depan mereka. Astaghfirullah.

 

Cukup jadikan saja segala bentuk kelebihan itu sebagai bahan untuk banyak-banyak bersyukur kepada Allah. Bukankah itu artinya Allah Maha Baik sekali kepada kita? Atau jangan-jangan segala macam bentuk kelebihan itu adalah bentuk ujian Allah terhadap kita. Dan bagaiman jika sikap sombong yang kita tunjukkan membuat Allah murka dan kemudian mencabut segala bentuk kelebihan tersebut? Innalillah. Makanya, cukup jadikan ia sebagai bentuk syukur kepada Sang Maha Pemberi

 

 

Medan, 4 Desember 2020 ; 22 : 14 WIB

Thursday, 3 September 2020

Sang Mentor






Bagaimana sih langkah awal memulai bisnis online?
Berdasarkan pengalamanku, sebagai seseorang yang beneran buta tentang bisnis online, tentu bukan hal yang mudah ketika pertama kali berniat memulainya. Gimana sih prosedurnya? Cara packing barangnya? Cara bikin buku kas nya? Cara menghitung keuntungan maksimal dan masih banyak tetek bengek lainnya.

Makanya, ketika benar-benar nol besar tentang dunia per bisnis an online, seharusnya kita mencari seseorang untuk mengajari tentang bisnis online tersebut. Itulah alasanyya hal pertama yang aku lakukan ketika memulai bisnis online adalah mencari sang mentor. Kalian tentu tahu mentor kan? Ya, bahasa lain dari guru lah.

Menemukan mentor itu adalah langkah yang sangat tepat. Kenapa? Karena dari mentor kita dapat belajar bisnis secara langsung. Silakan serap ilmu sebanyak-banyaknya dari mentor tersebut. Jika ada yang mau ditanyakan silakan bertanya sebanyak mungkin. Memang sih sekarang ada internet yang menyediakan berbagai informasi. Namun, bagiku belajar secara langsung memang lebih `nyentrum`. Sehingga hasil belajar langsung itu pun lebih bermakna.

Tidak hanya menyerap ilmu dari sang mentor. Terkadang belajar langsung dari sang mentor membuat kita lebih terinspirasi bergerak dan berjuang mengembangkan bisnis online. Biasanya kan mentor itu kan sudah memiliki bisnis yang keren, nah itu akan membuat kita bersemangat agar bisa menyerupainya. Istilahnya itu ya, melihat dia saja bisa menyulut api semangat di dalam dada (KHAAK !!)

Lalu bagaimana menemukan mentor?
Ahh, sebenarnya pertanyaan itu gak harus dimunculkan lagi. Semua orang bisa dengan mudah menemukan mentornya  masing-masing. Bisa melalui searching di internet, ngobrol bermanfaat antar teman atau bergabung dengan beberapa komunitas pebisnis online. Namun, ada beberapa tips yang dapat aku bagi dalam menemukan mentor yang cocok dengan bisnis online, ini dia :

Pertama, temukan mentor yang satu passion bisnisnya
Misalnya nih, kamu berbisnis fashion, ya cari mentor yang juga berbisnis fashion. Bukan bermaksud menyaingi sih, tapi biar lebih nyambung aja. Coba deh bayangin aja kita mau jual baju, tapi berguru pada teman yang jual kebab. Ya kan susah nanti, kita bahasnya bahan babyteri, ee si kawan bahas mayonnaise. Piye toh.

Kedua, pastikan mentor telah memiliki bisnis yang ‘oke’
Maksud oke disini bukan berarti yang omsetnya berpuluh puluh juta ya. Namun setidaknya dia sudah memiliki bisnis yang baik. Bisnis yang baik ini menunjukkan keberhasilan dari pengalaman dan ilmu yang digunakan selama ia mengembangkan bisnisnya. Jadinya kan kita lebih percaya untuk belajar dengan si dia, karena toh sudah terbukti omsetnya lumayan bagus


Ketiga, pastikan mentornya bersedia
Ini yang enggak kalah penting nih. Mentor harus bersedia direpotin. Karena kita sebagai pembelajar akan sibuk bertanya, ngeyel masalah ini itu, bingung gimana ini gimana gitu. Makanya mentor harus yang benar-benar bersedia untuk menjadi mentor.

Sudah siap menemukan sang mentor? Semoga segera bertemu sang mentor kalian ya. Dan jika sudah menemukannya, teruslah belajar darinya. Ambil ilmu sebanyak-banyaknya darinya. Oh ya, jangan lupa untuk senantiasa mendoakan beliau, semoga bisnis dia dan bisnis kita semakin berkembang. Aamiin.

Kalau ada yang bertanya siapa mentor bisnis aku. Nih aku kenalin orangnya. Taraaaaa dia adalah gadis yang memakai jilbab garis cokelat ini. Percaya deh, gadis ini benar-benar memotivasi aku banget untuk segera terjun ke dunia bisnis online. Bahkan tak ayal semua printilan kecil bisnis onlineku dia yang uruskan. Mengajarkanku secara perlaham dan kemudian melepasknaku ketika aku sudah benar-benar paham.
Ahh, semoga Allah terus memberkatimu ya Ty


Medan, 1 September 2020, 22 : 54


Monday, 31 August 2020

Kenalilah Mereka

 


Menjadi seorang tenaga pendidik, baik itu guru, dosen, tentor atau ustadzah pasti memiliki masalah dengan mengingat siswa mereka satu per satu dengan detail. Sangat wajar sebenarnya. Lihat saja, guru memiliki ratusan bahkan hampir ribuan siswa untuk diingat. Ahh, bagi sebagian guru hal ini sungguh pe er yang sangat besar.

Tentu bukan hal yang mudah untuk mensinkronkan nama mereka dengan wajah masing-masing. Terlebih lagi siswa perempuan. Semuanya seolah kelihatan sama dan serupa dalam balutan jilbab dengan warna senada. Hal ini yang terkadang membuat seorang guru  dengan tidak sengaja sering menukar nama mereka. Mungkin wajah para siswa itu lebih sulit daripada rumus integral untuk mencari luas daerah di antara dua kurva.

Namun, walau begitu mengenali siswa itu adalah hal yang penting. Ingat ya, mengenali bukan hanya sekadar nama, nomor induk, ranking berapa atau ciri fisik saja. Guru seharusnya juga mengetahui cara belajar siswanya, hobi, bahkan termasuk hal kecil seperti makanan kesukaan atau masalah yang tengah dihadapinya.

Wah, berarti banyak banget dong tugas guru? Satu siswa aja udah banyak, bagaimana dengan ratusan atau ribuan siswa ya?

YAA. Tugas guru itu memang banyak. Itulah mengapa pekerjaan menjadi guru bukan panggilan dunia, melainkan panggilan jiwa. Hanya orang yang  tergerak hatinya memilih guru sebagai profesi dalam hidup mereka. Menjadi guru itu bukan semata pekerjaan dunia, melainkan panggilan hati. Menjadi guru juga bukan sekadar ajang pengumpul rupiah, melainkan sebagai sarana menambah saldo pahala.

Jikalau ada seorang guru yang masih kewalahan mengenali siswanya dengan baik, percayalah ia sedang belajar untuk mengenali siwa. Ada banyak cara yang bisa dilakukan guru agar bisa mengenali siswa mereka dengan baik. Salah satunya adalah dengan mengecek daftar hadir mereka.

Para guru bisa melakukan kebiasaan ini sebelum mengajar selalu mengecek daftar hadir siswa. Hal ini bertujuan untuk memastikan siswa datang tepat waktu di kelas. Nah, selain itu guru juga bisa menjadikan hal ini sebagai sarana untuk menghapal nama dan wajah mereka. Coba bayangkan jika seorang guru melakukan hal ini secara konsisten selama satu bulan, dapat dipastikan guru akan mampu mensinkronkan nama dan wajah siswa.

Nah, selain itu guru juga berlatih memanggila mereka dengan menyebut nama. Sebisa mungkin guru meminimalisir penggunaan kata “kamu”, “anda” atau “saudara”. Guru bisa menggantinya dengan langsung menyebut nama siswa yang dimaksud. Pelan-pelan guru akan bisa menghafal nama siswa di kelas tersebut.

Selain itu, memanggil nama secara langsung akan membuat para siswa merasa diperhatikan dan disayangi oleh guru. Perasaan ini adalah impuls paling mujarab untuk mendapatkan aktivitas belajar yang berkualitas. Jadi para guru jangan sungkan untuk memberikan perhatian lebih kepada siswa ya.

“Iqbal rambut baru ya?”

“Cantik banget pakai baju itu Liza”

Lebay sih, tapi ini beneran membantu untuk meningkatkan chemistry antara siswa dan guru


Tidak ada salahnya untuk mencoba kan wahai para pencerdas anak bangsa?

Kuy silakan dicoba dan selamat membangun chemistry dengan siswa.

 

 

 

Medan, 28 Agustus 2020; 23 : 14

Tuesday, 18 August 2020

Memilih Pasangan

 


Perihal memilih pasangan adalah salah satu hal yang benar-benar dipikirkan secara matang. Bagaimana tidak, kita akan memilih seseorang tempat berbagi suka dan duka. Kita akan menentukan seseorang yang akan menemani hari-hari kita sampai tiada nantinya. Kita akan memilih seseorang yang tahu akan segala kekurangan yang kita miliki. Bukankah itu hal yang tidak mudah?

Memilih pasangan tidaklah segampang memilih baju di toko. Ahh, jika segampang itu semua orang akan menikah dengan mudahnya. Tahu kan cara memilih baju di toko? Lihat, pegang, coba-coba dulu, jika cocok langsung beli. Nah, jika ternyata gak pas atau ada cacatnya, kita masih bisa mengembalikan atau menukarnya di toko. Wah, gampang banget kan? Sayangnya memilih pasangan itu memang tak semudah memilih baju di toko.

Memilih pasangan itu harus dengan penuh keyakinan. Kamu yakin gak dengan calon pasanganmu itu? Ada sreg nya gak? Atau masih banyak keraguan? Masih banyak hal yang memberatkan?

Keyakinan itu dalam segala hal. Bukan hanya dari segi fisik semata. Kamu harus yakin dengan agama pasanganmu, dia sholat gak? Tilawah gak? Ikut ngaji gak? Dan berbagai pertimbangan lainnya. Temukan keyakinanmu dengan kualitas agama calon pasanganmu. Kamu harus yakin dengan baik buruknya? Dia suka mukul? Suka berkata kasar? Suka nongkrong? Dan berbagai hal lainnya. Termasuk juga yakin dengan pekerjaannya. Dia beneran kerja gak sih? Seperti apa pekerjaannya? Dimana kantornya? Pokoknya kamu harus benar-benar yakin dengan semua apapun tentang seseorang yang akan dijadikan pasangan.

Lalu keyakinan itu bersumber darimana? Ia bersumber dari istikharah dan doa-doa yang dimunajatkan kepada Nya. Selain itu tentu saja kamu butuh ikhtiar duniawi, misalnya mencari tahu tentang calon pasanganmu. Zaman sekarang ada banyak lini yang bisa kamu gunakan untuk “kepo” dengan orang lain. Media sosial, relasi, teman sungguh berperan penting dalam hal ini. Setelah itu pasrahkan hati kepada Nya. Jika memang hati diniatkan menikah karena Allah, maka Allah sendiri yang akan memberikan rasa yakin itu. Percaya deh, kamu akan merasa “kok dia pas banget ya buat aku”. Nah, itu tandanya Allah sudah ridho. Oh ya, jangan lupa untuk mengantongi ridho orang tua. Percaya deh, ridho orang tua beneran ampuh banget untuk membuat hati semakin yakin dengan calon pasangan.

Bagaimanapun kondisimu nanti, jangan pernah memilih pasangan karena iba atau kasian. Hingga dengan alasan iba ini kamu menurunkan standar kualitas agamanya. “Gak apa-apalah sholatnya berantakan, yang penting masih sholat. Ntar kalau nikah sama aku, pelan-pelan  aku ajak untuk rajin sholat”. Jangan. Ini tuh ibaratkan kita sedang menolong seseorang yang jatuh ke jurang. Pilihannya hanya ada dua, dia yang selamat atau kita yang ikut masuk ke jurang bersamanya. Nah, kamu sudah siang menghadapi hal ini?

Begitupun dengan alasan yang ingin “mewarnai” pasangan dengan warna kebaikan. “Gak apa-apa deh aku menikahi perempuan yang seksi, nanti setelah menikah aku bakal ajak dia untuk berhijab”. Gini deh, jika seseorang yang kamu pilih itu warnanya hitam, apakah kamu siap mewarnainya hingga menjadi terang? Lalu bagaimana jika nantinya kamu yang terwarnai menjadi hitam? Bukankah lebih baik jika keduanya berasal dari warna yang terang, itu akan lebih mencerahkan.

Itulah mengapa memilih pasangan itu harus dilakukan secara selektif. Kita sedang mempercayakan syurga kepada dia yang kita pilih. Kita akan melakukan kebaikan secara bersama. Jika ternyata kita memilih orang yang kurang tepat, masih adakah jaminan syurga? Masih adakah kebaikan bersama yang kita lakukan?

Ini pesan buat seseorang yang tengah memilih pasangan hidupnya. Jika ada netizen yang men-cap dirimu terlalu pemilih, aah sudah, abaikan saja mereka. Biarkan saja mereka sibuk dengan pikiran dan halusinasi mereka. Aku doakan semoga kamu semua tidak benar-benar salah menetapkan pilihan, begitupun dengan diriku juga.

 

 

 

Medan, 11 Agustus 2020, 22 : 39

Friday, 7 August 2020

Pemimpin Muda


Salah satu fenomena yang aku alami selama berorganisasi adalah dipimpin oleh seseorang yang berusia lebih muda. Ini aku alami ketika tahun kedua aku mulai terjun ke dunia organisasi kampus. Kala itu aku harus merelakan diri untuk “diperintah” oleh seseorang yang usianya setahun lebih muda dariku.

 

Berat?

Oh ya tentu saja.


Jujur, ada sedikit rasa berat menerima kondisi ketika “anak kemarin sore” itu dengan tegas memberikan perintah kepada kami, yang berusia lebih tua darinya. Berusaha untuk melapangkan hati menerima dirinya sebagai pemimpin kami. Bersabar dengan sedalam-dalamnya sabar mendengar celotehan di sana sini. Sungguh tak bisa terbayangkan berdamai dengan kondisi seperti ini. Kami, yang lebih dulu merasakan asam garam dunia organisasi kampus, kami yang telah membina relasi dengan para pejabat organisasi. Akhirnya kami dipaksa takluk dihadapan seorang anak yang kemarin kami latih dan kami bina untuk ikut organisasi.

 

Namun, ternyata kami bisa melewati semuanya. Allah kuatkan kami sehingga kami bisa menjalani fase ini. Selama setahun kami berhasil mengarahkan “kapal” kami ke arah yang lebih baik. Ya, walau ada cek cok, berantem, merajook, diam-diaman. Namun kami berhasil menuntaskan semuanya, dengan baik dan sempurna. Alhamdulillah.

 

Hal ini menyadarkanku bahwa usia bukanlah penentu kadar kepemimpinan seseorang. Usia bukan juga indikator kedewasaan seseorang. Tahu kan kalimat mujarab itu? Semua orang akan pasti tua, tapi hanya sedikit orang yang menjadi dewasa. Dan sedikit orang yang bisa menjadi seorang pemimpin.

 

Teringat dengan kisah seorang sahabat di zaman Rasulullah. Rasulullah mengangkat Attab bin Usaid sebagai gubernur Makkah kala itu. Luar biasanya, Attab adalah seorang pemuda yang belia. Waktu menjadi gubernur Makkah ia masih berusia belasan tahun. Bahkan Rasulullah tetap kekeuh untuk mempertahankan Attab. Rasulullah tetap tegar menghadapi celotehan  para elite politik kota Makkah yang begitu mengkritik keputusan Rasulullah tersebut.

 

Hingga sebuah pernyataan dari Rasulullah membuat semuanya lebih jelas

“Tak seorang pun dari kalian yang berhak menolak pemuda Attab bin Usiad, karena kehebaran dan keunggulan tidak bergantung kepada tuanya usia. Apa yang menjadi kriteria kehebatan dan keunggulan manusia adalah spritualitasnya”

 

Pernyataan Rasulullah sungguh sangat menjelaskan semua. Tidak ada yang salah dengan usia muda atau belia. Jika memang ia mampu memimpin ya silakan saja. Lagipula setelah memimpin nanti kan yang dilihat adalah kecakapannya bukan usianya. Jadi tak ada yang salah dengan pemimpin berusia muda.




Medan, 7 Agustus 2020, 22 :16

Foto ini adalah dokumentasi pelantikan pengurus Himapentika FKIP Unri.

Sunday, 19 July 2020

Kawan Semasa S1




Kali ini aku ingin menceritakan beberapa sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Ya, tepatnya ketika aku sedang menyelesaikan kuliah S1 di Pekanbaru. Bagi seorang anak kampung seperti aku, menemukan sahabat, tempat cerita adalah solusi terbaik ketika pertama kali sampai di kota besar ini. Makanya aku selalu berdoa agar Allah memberikanku sahabat terbaik ketika aku menyelesaikan study  S1.

Dan jeng…jeng…jeng..
Inilah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Eh, sebenarnya ada banyak sahabat terbaikku. Namun, kali ini aku akan menceritakan orang-orang yang ada dalam foto ini. Ntar kapan-kapan aku bakal share kebersamaanku dengan teman-teman lainnya.

Aku akan menceritakan gadis shalihah ini sesuai urutan ya, yaitu dari kanan ke kiri. Tolong jangan dibalik, ntar salah orang jadinya salah persepsi deh. Hehehe

Pertama itu mba Lan. Namanya sih Lani, jawa banget deh pokoknya. Makanya satu kelas memanggilnya mba Lan. Ngomongnya itu lembut dan sopan. Orangnya kalem, gak banyak cingkunek (istilah apaan sih ini, hehehe). Namun ngomong sama mba Lan itu menenangkan banget lah. Pokoknya kalau rada emosian, rada bĂȘte ketemu aja sama mba Lan, insya allah lebih tenang dan bahagia. Hehehe

Kedua, mba Susi. Kenapa dipanggil mba? Ya karena jawaaa banget. Karakter mba Susi hampir menyerupai mba Lan. Hanya saja kadang mba Susi ngomongnya agak nyelekit. Hehehe. Saking miripnya mereka ini juga satu kamar kos kosan lho. Nah, mba Susi ini paling rajin nasihati kami. Harus sholat di musholla, jilbabnya harus begini, pake manset, ketawa jangan ngakak, jangan sering nongkrong sama lawan jenis. Pokoknya panjaaaaaa lah. Apalagi kalau kami lagi banyak tingkah. Wah bisa tambah panjang tuh nasehatnya mba Susi. Hehehe

Ketiga, Ira. Nah ini tuh stand up comedian  kami. Asli ini anak lucuuuuu banget. Ada ada aja deh tu yang bikin lawak dan gemesh. Pokoknya kalau udah Ira ngomong pasti kami langsung ketawa terpingkal-pingkal. Jadi pas kami sedih, galau, putus asa, langsung ketemu Ira. Suruh ngelawak, auto hilang deh tuh sedihnya.

Keempat Hesty. Kalau yang ini mentor kami dalam belajar. Percaya deh, ini anak pinter banget. Buktinya sekarang jadi ASN sebagai dosen dong di kampus kami. Kurang keren apa coba. Pokoknya kalau kebingungan memahami materi, Hesty akan jadi guru les tambahan. Bingung ngerjain tugas, Hesty juga bakal direpotin, mau UAS atau UTS, Hesty harus siap ditanya-tanya pas kami belajar. Untung ini anak sabar banget ngajarin kami. Udah cantik, pintar, sabar juga. Duuh, masha Allah lah pokoknya

Terus aku deh. Aku tuh katanya paling cerewet, bawel. Dikit-dikit cerita, dikit-dikit heboh. Orangnya baperan tingkat dewa. Disentil dikit langsung nangis. Rapuh banget jiwanya. Eh, Hehe. Tapi gini-gini tetap periang habis, energik dan selalu semangat. By the way, ini omongan mereka ya, bukan dari aku. Aku Cuma nambahin dikit-dikit doang kok. Aihh.

Di sebelah aku ada Ana. Gadis satu ini pendiaaam banget. Ana gak bakal ngomong kalau gak perlu. Beneran deh. Jadinya sekali Ana ngomong itu kami dengerin dan rasanya seneeeeng. Akhirnya ana ngomong juga. Hehehe. Walau pendiam, Ana ini jago banget soal IT lho ya. Pokoknya kalau laptop bermasalah, kami cuss langsung nanya ke Ana. Bikin email, Ana lagi. Ahh, pokoknya urusan dunia digital, serahkan kepada Ana.

Nah, ada satu gadis yang tak terlihat karena lagi motion kami. Hehe. Namanya Danny. Gadis ini tomboy banget. Usil tingkat dewa. Nah Danny inilah yang suka bikin banyak tingkah. Ntah apa-apa aja yang dilakukannya sehingga mba Susi selalu kasih nasihat panjangnya.

Jujurly, kami semua tidak pernah berjanji untuk masuk ke jurusan yang sama di kampus ini. Bahkan kami tidak mengenal satu sama lain. Orang tua kami pun berbeda. Bahasa, budaya, kebiasaan, tanah kelahiran, semuanya jelas tak sama.

Namun kami dipersatukan disini. Kami dipersatukan oleh Sang Maha Baik. Tanpa perlu dikomandoi kami saling meng-gravitasi satu sama lain. Kami berusaha membentuk epsilon sekecil mungkin agar tak ada lagi jarak yang membatasi.

Hingga akhirnya sang waktu membuat kami bermetamorfosa menjadi saudara satu darah. Ya, kami seolah memiliki darah yang sama.
Dan ternyata tentu saja.
Bukankah kita memang saudara?
Saudara se iman
Saudara se Allah
Saudara se Rasulullah

Allah benar-benar Baik ya.
Bukan aku yang meminta orang-orang ini untuk menjadi sahabatku selama berjuang menamatkan S1. Namun Allah pertemukan kita semua. Aku hanya meminta sahabat-sahabat terbaik dan lihat, Allah memberikan kalian semua untukku.

Dan pantaslah mengapa orang-orang ini adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Ternyata mereka semua adalah jawaban dari doa-doaku kepada Sang Khalik




Medan, 20 Juli 2020, 00 : 00
Sedang mengenang masa 10 tahun yang lalu. Ya, waktu itu aku masih berjibaku dengan urusan Analisis Real, organisasi, rapat, ngajar les, ngumpul bareng kawan-kawan.

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...