Thursday, 17 February 2022

PEREMPUAN DAN IMPIANNYA

"Perempuan gak usah kuliah tinggi-tinggi, kan nantinya cuma di rumah saja"

"Perempuan itu yang penting pandai ngurus rumah, anak dan suami"

"Perempuan yang berkarier itu menyalahi kodratnya"

Itulah, beberapa stereotipe yang sering aku dengar. Menurutku, itu terkesan menyebalkan dan terlalu menjustifikasi kaum perempuan. Membuat otakku berpikir, apakah memang seharusnya perempuan tidak boleh menjadi hebat, cerdas, berkualitas, dan luar biasa? Apakah perempuan itu benar-benar harus di rumah saja? Apakah perempuan itu tidak boleh bekerja di luar rumah untuk membantu menyelamatkan perekonomian keluarganya? Apakah perempuan itu tidak boleh mengaktualisasikan diri dan kemampuan yang dimilikinya?

Oke, baiklah. Mari kuajak sedikit bercerita tentang sebuah kisah menarik. Tentang Ibunda Khadijah.
Kalian tahu kan? Ya, istri pertama Rasulullah ini menurutku adalah sosok perempuan yang wajib diidolakan oleh para wanita. Coba kita baca shiroh tentan Ibunda Khadijah. Bukankah Ibunda Khadijah seorang pebisnis yang sukses? Beliau punya usaha yang maju, karyawan yang banyak, omset yang tinggi. Bener kan ya?

Itu artinya beliau bekerja dong? Beliau wanita karier dong? Beliau pinter doong. Mana mungkin seorang pebisnis, seorang wanita karier mendapatkan ilmu tanpa belajar dan berkumpul dengan orang hebat? Gak mungkin kan ibunda khadijah hanya berdiam diri tanpa berusaha belajar dan terus meng upgrade dirinya. Menurutku, Ibunda Khadijah adalah sosok wanita karier yang sholihah.

Lalu, mari kita lanjutkan dengan Ibunda Aisyah. Siapa yang tidak tahu betapa hebat, kritis dan cerdasnya ibunda Aisyah. Menurut kamu, apakah kepintaran itu ia dapatkan secara cuma-cuma? Sudah jelas Ibunda Aisyah belajar banyak agar memiliki kepintaran seperti itu.

Dari dua kisah ibunda hebat tersebut. Sudah jelas kan, betapa keduanya tidak hanya berdiam diri saja. Mana mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh kedua Ibunda luar biasa itu didapatkan hanya dari dapur, sumur dan kasur. Sudah pasti kedua Ibunda itu belajar dan diskusi. Jika di zaman mereka ada sekolah atau universitas, ku rasa mereka telah menyelesaikan kuliah doktoral.

Setidaknya ini adalah alasan mengapa aku berani untuk melanjutkan pendidikan. Aku berani untuk terus belajar. Bukan berniat untuk menandingi Ibunda Khadijah dan Aisyah, aah mana pantas diri ini disandingkan dengan Ibunda luar biasa itu. Bukan juga untuk menunjukkan ke aku an ku. Menunjukkan kalau aku hebat, keren. Bukan. Astaghfirullah.

 Aku hanya belajar banyak dari Ibunda Khadijah dan Aisyah bahwa perempuan itu harus cerdas dan hebat. Perempuan itu harus mengambil peran di dalam kehidupannya, harus memberi manfaat bagi bangsa, agama dan sekitarnya. Tidak harus menjadi hebat sekali, terkenal atau memberi dampak besar. Ya, terutama untuk keluarga kecil mereka, lalu dilanjukan keluarga besar dan tetangga nya. Tidak mutlak harus memberikan manfaat yang besar, bahkan hal remeh temeh sekalipun asalkan bermanfaat itu sudah lebih dari cukup

Begini deh, bayangkan saja jika tidak ada perempuan yang kuliah dokter, bagaimana nasib perempuan yang ingin melahirkan, padahal itu jelas-jelas memperlihatkan auratnya? Jika tidak ada perempuan yang belajar hadits, bagaimana nasib perempuan yang kebingungan bagaimana cara membersihkan darah haidh? Aku rasa dua analogi ini sudah sangat menjelaskan mengapa perempuan itu harus pintar, hebat dan berkualitas. Dan bukankah ibu itu adalah madrasah pertama bagi anaknya?  Aah, bayangkan saja jika si ibu tidak punya kemampuan mumpuni, bagaimana nasib si anak coba.

Untuk perempuan di luar sana, menjadi hebat lah ! Teruskan mimpimu, gapai cita dan cintamu. Menjadi perempuan hebat itu tidak salah kok. Apresiasi dirimu dengan menjadi sosok yang hebat dan luar biasa. Teruslah belajar. Bodoh itu tidak salah, tapi membiarkan diri untuk terus dalam kebodohan itu merupakan kesalahan besar




Medan, 16 Februari 2022, 21:46 WIB


Monday, 7 February 2022

TERLIHAT BAIK

Percakapan sederhana dari gambar :

"Kamu posisi fotonya di depan aku ya, biar aku gak kelihatan gendut kali"

"Ehh..aku paling belakang aja deh, jerawat lagi banyak banget nih"

"Aku duduk aja ya, biar gak nampak kalau aku gak  tinggi-tinggi banget"

Skenario pembicaraan ketika hendak melakukan photoshoot rame-rame. Pembicaraan seperti ini gak berlangsung 1 atau 2 menit saja lho. Tapi bisa berlangsung lama, bikin pegel, greget, makan hati, terus gak jadi foto. Hehehe. Namun, jika sudah betul-betul terjadi photoshoot nya, percaya deh, akan muncullah foto-foto yang bagus dan semuanya terlihat sempurna. 

Aku ulangi lagi. SEMPURNA. Apakah benar kita semua sempurna dalam gambar yang abadi itu? Atau kita hanya terlihat sempurna? Terlihat baik-baik saja? Terlihat hebat? Terlihat keren? Sehingga kita bisa memanipulasi pikiran orang bahwa kita memang benar sosok yang sempurna, kita adalah sosok yang hebat, keren dan awesome banget deh pokoknya.

Apakah kita yakin diri kita memang se awesome itu? Apakah kita percaya diri jika semesta menganggap kita adalah yang terbaik? Apakah kita tidak malu ketika lingkungan begitu meng-agung-agungkan atas kehebatan yang sering kita per tonton kan?

Tapi ya, menurutku itu sebuah hal yang wajar dan manusiawi kok. Aku tidak membenarkan sikap seperti itu ya. Hanya saja berusaha memandangnya dari perspektif yang berbeda. Manusia wajar untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik, menampilkan hal terbaik yang dimilikinya. Menunjukkan kepada lingkungan tentang ke-aku-an dirinya. Lalu berusaha keras menutupi segala aib-aib dalam dirinya agar tak dicap jelek oleh sekitarnya. Kamu merasakannya juga kan? Ya, gak masalah. Itu manusiawi banget.

Gak usah jauh-jauh deh. Betapa banyak orang yang jatuh bangun dalam memenangkan sebuah kompetisi. Ikut lomba sana sini untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia memang terbaik. Begitu rajin belajar dan menimba ilmu agar sekitarnya tahu bahwa ia memang cerdas dan berkelas. Ingin menjadi mahasiswa terbaik di kampus, mendapat predikat cumlaude, penghargaan ini itu. Ingin menjadi guru yang diidolakan para siswanya. Bahkan utk urusan remeh, ya sebut saa berfoto sekalipun, manusia tetap ingin menjadi yang terbaik. Aneh kan? Tapi ini sangat wajar !

Eits, aku tidak bilang jika kompetisi itu gak baik lho ya. Aku mendukung adanya kompetisi, itu menunjukkan eksistensi diri seseorang. Seperti yang aku bilang, semua itu sangat wajar dan manusiawi. 

Namun...

Sayangnya, kenapa keinginan untuk jadi yang terbaik itu hanya untuk urusan dunia saja? Kenapa kita sibuk mengurusi dunia kita agar kita selalu terlihat baik, selalu terlihat sempurna. Kadang kita terlalu bekerja keras membuktikan kepada orang lain hal terbaik apa yang kita miliki. Kita mati-matian memperbaiki imej dan harga diri kita di hadapan bos, mertua, karyawan. Kita mengagung-agungkan kesempurnaan semata hanya untuk kepentingan dunia saja. Bahkan kita merasa hancur sejadi-jadinya ketika imej sempurna yang kita bangun itu berantakan. Aah, serasa mau mati saja. Begitu kan?

Padahal kita tahu teorinya, tahu ilmunya, tahu hakikatnya. Bahwa tak secuil pun hal di dunia ini yang benar-benar kita miliki. Semuanya hanya titipan. Anak, keluarga, harta, bahkan diri sendiri saja bukan milik kita. Apatah lagi imej dan harga diri yang begitu kita banggakan itu. Cukup sekejap mata saja jika Allah berkehendak, Dia ambil itu semua, Dia hancurkan apa yang telah kita bangun. Tidak salah kok, wong itu punya Dia, kita cuma dititipin doang.

Permasalahannya adalah, kenapa kita juga tidak menampilkan yang terbaik di depan Robb kita? Kenapa kita tidak menjadi hamba Nya yang memenangkan kompetisi Nya ?
Kenapa kita tidak berusaha untuk setiap saatnya memang terlihat baik, terlihat cantik dan terlihat sempurna di mata Robb kita?
Padahal Tuhan itu 24 jam bersama kita, kita selalu berada dalam pantauan Nya. Bagaimana mungkin kita bisa bersikap lalai jika kita selalu dilihat Nya?
Renungkan!!

Jika brand yang kita bangun adalah menjadi hamba sempurna bagi Tuhan, sungguh itu hal yang paling tepat. Dan memang sudah seharusnya seperti itu kan. Kita itu harusnya menyempurnakan diri di hadapan Tuhan, bukan dihadapan makhluk Nya. Buat apa coba? Kalau di hadapan Tuhan, kita dapat ganjaran pahala, dapat surga lagi. Terus kalau di hadapan manusia dapat apa? Ya, pujian sih. Tapi berapa lama? Setelah itu dilupakan kan? Dighibahkan kan?

Sadarlah wahai diri !!
Teruslah menjadi hamba Nya yang terbaik. Menjadi hamba Nya yang berusaha mencari kesempurnaan di depan mata Tuhannya. Menjadi hamba Nya yang kelak akan memenangkan kompetisi ini. Kompetisi yang akan diumumkan di yaumul akhir nantinya. Menjadi hamba Nya yang dibanggakan oleh seluruh makhluk langit. Kurang romantis apa Tuhan itu coba, jika ada hamba Nya yang Ia cintai, Ia akan menyuruh semua malaikat juga untuk mencintai hamba tersebut. Duh, duh, duh, Masha Allah kan ?


"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dgn hati yg ridho dan diridhoi Nya"
(Al Fajr :27-28)
.
.
Ps :
Karena kami hampir 15 menit menyusun formasi begini
Hahahha..
.
.
Loc : Air Terjun Linggahara, Lobusona, Rantau Selatan, Kab.Labuhan Batu, Sumatera Utara
.
.
#gambarjadiide
#catatankecilsuci

Wednesday, 2 February 2022

PANIK (?)

PANIK (?)
Pernah menghadapai yang namanya tes? Kompetisi? Ujian? Atau apapunlah sejenisnya.
Tentunya pernah. Sering malahan. Karena memang dunia adalah tempat ujian. Baik itu ujian yang tersistem, terkondisikan maupun ujian yang tidak tersistem, insidental. Bahkan ujian yang tidak tersistem inilah yang paling sering kita jalani ya kan? Ujian kehidupan. Setiap hari hidup selalu menguji kita dengan berbagai caranya. Masha Allah

Apa yang kita rasakan ketika hendak menghadapinya?
Deg degan? Takut? Grogi? Tenang, rileks?
Aah..tentunya setiap orang punya cara berbeda. Mereka punya cara tersendiri melakukan treatment terhadap diri sendiri agar bisa melewati ujian dengan baik. Bahkan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar hasil dari ujian yang tengah dijalani merupakan hal terbaik bagi kelanjutan masa depannya

Hal yang lumrah ketika kepanikan akan mulai menyusup ke dalam diri kita. ketika menit demi menit mendekati ujian. Lalu otak akan menggambarkan hal-hal yang menakutkan.
Takut gagal, takut gak bisa menyelesaikan. Takut hasilnya tak sesuai dengan harapan. Takut beginilah, takut begitulah. Ahhh..
Bukankah ujian itu sudah menakutkan? Lalu mengapa kita masih menambahnya dengan ketakutan-ketakutan yang tak beralasan seperti itu?
Nyeseek kan? Bangettt
Ada untungnya ? kagak !!
Tapi kenapa masih sering dilakukan?
Eeh..

Mungkin perlu diubah tradisi sebelum ujian. Jangan pikirkan hasilnya bagaimana, apakah aku bisa, bagaimana jika aku gagal. Berhentilah memikirkan hal itu. Alangkah lebih baik jika kita mengubah "warming up" sebelum tes itu dgn hal yang lebih berkualitas. Nah, nah, seperti apa?

Sesederhana menyemangati diri agar tak takut kalah atau gagal. Diri kita butuh disemangati dari dalam. Ya, tentu saja setelah ikhtiar maksimal yang kita lakukan agar melewati ujian dengan baik. Semangat dan percaya diri yang tinggi menjadi poin penting dalam keberhasilan mengikuti ujian. 

Mengatur nafas agar bisa lebih rileks, ngobrol ringan dengan sahabat, berdoa kepada Robb, atau bahkan satu kali jepret  dengan teman, mungkin akan sedikit membantu mengurangi kepanikan itu. Eh. Ya, tentu ada banyak cara yang bisa kita gunakan mengatasi kepanikan berlebihan tersebut. Sekali lagi, panik itu boleh, tapi panik secara berlebihan itu tidak baik. Karena akan membuat ujian kita berantakan dan gagal total.

Wajar kok jika panik, namanya juga mengikuti tes dan pasti ingin mendapatkan hasil terbaik.
Sayangnya, kita tidak bisa menjamin diri ini  mendapati hasil yang luar biasa dan sesuai keinginan kita. Karena ada Dzat Maha Kuasa yang telah menggariskannya. Yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar dengan usaha terbaik, usaha luar biasa. Lalu bungkus ikhtiar itu dengan tawakkal. Insha Allah, apapun hasilnya kau tak akan pernah merasa kecewa karena percaya itu adalah hal terbaik dari Robbmu

Berhentilah panik menjelang Ujian yaa..
Ini hanya ujian kok !! Eeh..




Ps:
Ini dia wajah2 sok rileks, sok gak panik padahal sebentar lagi mau mengikuti tes IRR 3. Dan kau tahu badai kepanikan melanda kami pasca IRR 1 dan IRR 2.😫
.
Pelatihan Asesor Egra, USAID Nasional
Loc : Sari Pan Pasific Hotel, Menteng, Jakarta Pusat
.
.
#gambarjadiide 
#catatankecilsuci

Monday, 20 December 2021

DIAM-DIAM SUKA (FINAL PART)


"Hufft" aku menghela nafas panjang. Entah kenapa malam ini tak seindah biasanya. Padahal ribuan bintang itu bersinar dengan indahnya, bahkan tak satupun sinar dari ribuan bintang itu yang menyilaukan lamunanku. Aku merasa langit malam yang cerah ini hitam legam, tak ada setitik cahaya di atas sana. Ahh, layaknya duka yang tengah melandaku. Duka yang memporak-porandakan kehidupanku. Aarrrrggggghhhh..

Aku terus memandangi layar smartphoneku. Memperhatikan timeline instagramku.
Lama....
Lamaaa sekali
Aku memperhatian sebuah gambar yang terpampang jelas. Aku membaca caption yang ditulis kata demi kata nya. Dan akhirnya buliran air mata jatuh secara perlahan. Aku menangis.

Happy Engagement day !!
*Ruu and Swa*

Kurang lebih begitulah kalimat singkat yang tertera di caption itu. Sedangkan gambarnya menampilkan sosok Ruu dan Swa memamerkan cincin yang sama mengikat di jari manis masing-masing. Di kolom komentar pun tersematkan ribuan doa untuk pasangan idaman ini. 

Aku? Jangankan memberikan like atau ikut mendoakan. Menatap gambarnya saja aku sudah tak kuat, rapuh, gamang, goyang. Ahh, Apa yang sebenarnya aku rasakan? Inikah yang mereka sebut dengan patah hati? Inikah yang mereka namakan cinta tak harus memiliki?

Aku menghidupkan laptopku. Melakukan scrolling ke atas dan ke bawah lalu berhenti fokus memperhatikan layar laptop. Yaah..tampak seorang pria bersweater hitam itu sedang ter-canded memegang kameranya. Aku mengamatinya. Lama. Lama sekali. Dan sekali lagi, aku kembali menangis, menumpahkan segala kecewa yang aku rasakan. Meluapkan kesedihan yang ternyata tak dapat dibendung lagi

Aku menghela nafas panjang. Perlahan mengelap air mataku. Lalu sambil  memejamkan mata aku menekan tombol delete, dan foto pria itu lenyap dari laptopku. Dengan senyum yang dipaksakan aku mengazzamkan
"No more Ruu"
Lalu aku mematikan laptopku.
Ya. Itu adalah foto terakhir Ruu yang aku hapus dari laptopku setelah aku berhasil menghapus semua foto yang ada Ruu.

Aku kecewa. Aku terluka? 
Kenapa?
Apakah karena Ruu?
Tentu saja tidak. Aku kecewa karena diriku sendiri. Aku yang membangun khayalanku, aku terus menimbunnya hingga angan-anganku terbang tinggi. Hingga aku lupa membedakan mana yang nyata, dan mana yang fana. Sampai akhirnya ketika Tuhan membangunkanku dari khayalan ini semua, aku tersentak, kaget, jatuh. Aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku mengalami luka yang teramat pedih, mengalami nestapa yang teramat dalam. 

30 menit berlalu. 

Aku tersenyum. Ya, senyuman yang terpaksa aku hadirkan dalam basahnya air mata. Tersenyum menyadari akan kebodohan yang selama ini aku nikmati. Aku yang terlalu mengharapkan Ruu, aku yang diam-diam menyukainya, aku yang membangun imajinasi luar biasa tentang Ruu. Aku yang terlalu menikmati semua perhatian kecil yang Ruu berikan, perhatian yang ternyata bukan hanya untukku. Tapi untuk semua orang di sekitarnya.
Aku..
Aku yang begitu bodoh.
Dalam diamku aku menyukainya. Teramat menyukai. Tanpa aku tahu tahu ternyata dalam diamnya, dia sedang membangun bingkai pernikahan dengan pujaan hatinya.

Aku yang salah menyukai Ruu diam-diam. Aku yang salah karena tak memintanya langsung kepada Robbku. Aku yang salah karena telah mengkhianati cinta Robbku secara diam-diam.

Mulai sekarang, no more Ruu. Begitu pun, tak akan ada Ruu yang lainnya. Sudah cukup. Aku tak akan berkhayal lagi. Aku tak kan berimajinasi lagi. Aku akan menjaga hati agar kelak tak patah lagi seperti ini. Sungguh, ini menyakitkan

Jika nanti akan ada orang lain datang kembali, minta saja kepada Robbku. Aku tak perlu berimajinasi, tak perlu berkhayal lagi. Sudah cukuup. Aku harus menghentikan kebodohan ini. Aku harus kuat. Aku harus melanjutkan kembali kehidupanku.


Medan, 20 Desember 2021, 06.21 WIB
Entah kenapa di bagian ini menulisnya dengan sedikit air mata. 

Wednesday, 8 December 2021

DIAM-DIAM SUKA (PART 3)

DIAM-DIAM SUKA
Part 3~~


Akhirnya proyek kami selesai dengan hasil yang sangat memuaskan. Sebenarnya hal ini sudah biasa. Proyek kami akan selalu berhasil karena perencanaan yang matang dan kinerja yang profesional.

Semua orang bahagia. Mereka saling merayakan keberhasil proyek ini dengan sukacita. Mereka merayakan kehebatan diri masing-masing yang memiliki andil dalam proyek ini sehingga menjadikkanya berhasil. Sombongkah? Ahh, tentu saja bukan. Ini hanya bentuk apresiasi terhadap diri sendiri karena telah mampu bekerja keras sejauh ini.

Semua orang bahagia, kecuali aku. Ya, aku biasanya memiliki kesedihan tersendiri dalam hal ini. Kau tahu kenapa? Dengan berakhirnya proyek ini berarti selesai pula kebersamaanku dengan Ruu.

Ruu lagi?
Iya. Karena dia akan selalu menjadi alasanku untuk menikmati setiap proyek yang diberikan kantor. Karena dia aku bersemangat menjalani hari-hariku di kantor. Karena dia juga aku mengalami peningkatan dedikasi terhadap pekerjaanku. Ahh, Ruu..

Selesainya proyek ini juga berarti bahwa aku akan kembali ke deadline kantor. Aku akan disibukkan dengan aktivitas di balik meja. Yang sesungguhnya cukup membosankan. Dan tentu saja, aku tidak akan bertemu dengan Ruu lagi. Lalu, kemana perginya Ruu??
Ruu kembali menggeluti dunia fotografinya. Ruu akan terbang jauh mencapai mimpi dan harapannya. Tentu saja dengan meninggalkan aku yang sampai saat ini masih penuh harap dengannya.

Dua minggu berlalu pasca proyek.

Aku memasuki sekretariat komunitas kami perlahan. Hari ini aku iseng main ke sini untuk mengalahkan rasa jenuh yang ada di kepalaku. Bagaimana mungkin aku tidak jenuh karena sepanjanh hari aku terus berkutat dengan ketikan di depan layar laptop. 

Perlahan aku mengamati sudut ruangan. Menelusur setiap ruangan satu per satu. Mataku sedang berusaha menangkap bayangan seseorang. Berharap akan menemui sosok itu di tempat ini. Bolak-balik aku mengelilingi ruangan ini. Berpura saling menyapa, melepas rindu, padahal mataku tak henti mencari sosok itu. Namun ternyata, NIHIL

Aku tak menemukan sosok yang berkharisma lagi menawan itu.  Aku bahkan tak mendengar suaranya. Ahh, sungguh rasanya sia-sia perjuanganku ke tempat ini. Rinduku yang begitu memuncak ternyata benar-benar tak terbayarkan. Harus ditabung lagi sepertinya.

Dengan gontai aku menjatuhkan tubuhku ke salah satu sofa dan memulai obrolan ringan dengan yang lainnya. Ya, hampir semua anggota komunitas ini aku kenal. Karena memang aku aktif dalam setiap kegiatan komunitas ini. Jadi kedekatan kami muncul seiiring berjalan waktu.

"Kie, udah tahu belum gebetan Ruu?" tiba-tiba salah seorang dari mereka nyeletuk

Derrrr. Sebuah pertanyaan yang cukup menggelegar bagiku. Mendengar namanya saja aku sudah dagdigdug. Apalagi ini nama itu dikaitkan dengan gebetan. Apa maksudnya itu? Apakah Ruu memang sedang mencari tambatan hatinya? Apakah Ruu berusaha menemukan bidadari hidupnya?

"Oh ya? Siapa" tanyaku was-was. Aku berpura-pura tidak begitu antusias. Aku menutupi rasa suka yang sebenarnya menggebu-gebu di dalam dada. 

"Lho, kan kamu sering banget 1 proyek sama dia, kok bisa gak tahu ya?" timpal mereka yang membuat aku semakin penasaran.

Wah, apa-apaan ini, batinku. Naluri kepo ku bermunculan. Apakah gadis yang disebut gebetan Ruu itu adalah yang sering melakukan proyek dengan Ruu? Bukankah itu aku ya? Eh, tapi..

"Beneran aku gak tahu" aku berkilah. Berpura-pura bodoh dan tidak peduli

"Nih aku kasih tahu ya, nama gadis itu Swa. Dia cantik, manis, imut lagi. Dia itu akuntan di sebuah perusahaan asing. Kayaknya Ruu bakal serius deh sama dia" mereka bercerita penuh semangat

Jleb.
Swa?
Siapa gadis ini? Aku tidak mengenalnya? Kenapa dia tiba-tiba hadir menghancurkan semua khayalanku?

"Dia anggota komunitas juga? Kok kalian bisa kenal?"

"Iya, dia baru join juga. Dan langsung deket sam Ruu. Dan sekarang dia lagi sama Ruu ngurusin izin proyek terbaru kita"

Gerrrr..
Aku diam. Ini mimpi bukan? 
Ahh, ini pasti mimpi. Aku mencubit tanganku. Ternyata sakit. Oh My God. Ini ternyata bukan mimpi. Siapa Swa? Mengapa harus gadis itu? Mengapa dia datang tiba-tiba dan mengambil Ruu dari hidupku? Dia berhasil mencuri Ruu dari hidupku. 
Aah..

"Kie, kok diem sih? Kita tuh pada patah hati semua. Karena harus kehilangan sosok Ruu" timpal mereka manja

"Lho, Ruu mau pergi dari sini?" Aku kembali bertanya. Memastikan apakah Ruu benar-benar akan pergi meninggalkanku dengan gadis itu?

"Ya ampuuun Kie, kalau Ruu udah nikah sama Swa, kan gak bisa kita goda lagi. Gimana sih kamu?"

"Apa? Nikah ?" aku tersekat mengucapkan hal itu

"Iya Kie, mereka akan segera menikah"

Aku memalingkan wajah dari mereka, lalu bergerak menuju kamar mandi. Memandang wajah polosku di cermin, lalu membatin "Benarkan Ruu akan menikah? Tapi tidak denganku? Kenapa ini terasa sakit sekali? Aku benar-benar tidak membayangkan hal ini akan terjadi. 

Perlahan-lahan air mata mengalir membasahi pipiku. Ya Tuhan, ini benar sakit sekali. Sungguh. Kuatkah aku menghadapi hari esok? Sedangkan hari ini saja aku sudah tak berdaya. Huffht !!




Gak habis-habis ceritain Ruu dan Kie. hehehehe..
insyaallah edisi berikutnya final part kok...
Penasaran?? Samaaa aku juga 😍

Tuesday, 23 November 2021

DIAM-DIAM SUKA (PART 2)

DIAM-DIAM SUKA
Part 2~~


"Baiklah, semuanya paham mengenai apa yang harus kita lakukan kepada masyarakat besok? Pastikan masyarakat daerah sini mendapatkan pelayanan terbaik dari kita. Semangat tim Juara !!" suara itu diiringi dengan tepuk tangan menggelegar dari ruangan 4m x 4m ini.

Suara yang juga menyadarkanku dari lamunan panjang terhadap seseorang yang sedang berada di depan itu. Seseorang yang selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat. 
Ya Ruu..siapa lagi !!

Selain parasnya yang menawan, aku akui kinerja Ruu memang sangat bagus. Dia sangat cocok untuk menjadi ketua tim, menejer atau bos gitu.
Dia berjiwa pemimpin,bisa menghandle beberapa proyek dan hampir semua proyeknya menjadi terbaik. 

Tidak hanya itu Ruu pun sangat mengayomi anggotanya dengan baik, sehingga siapapun yang terlibat proyek dengannya pasti merasa bahwa tim mereka adalah tim terkompak. Ruu memiliki kedekatan emosional yang baik dengan setiap rekan kerjanya. Hampir semua orang menyukai Ruu. Apalagi aku. Sangat tergila-gila dengan pria yang satu ini.

Bukan hanya itu, Ruu adalah sosok laki-laki yang perhatian. Bahkan dalam hal-hal kecil dia begitu perhatian. Ruu juga humoris. Dalam suasana yang tegang dan serius, dia mampu melempar candaan sehingga orang di sekitarnya merasa terhibur. 

Dan yang paling penting itu Ruu adalah sosok pria yang romantis. Beneran deh, dia mampu membuat para wanita yang berinteraksi dengannya menjadi baper. Nah, aku adalah salah satu dari wanita itu. Aku selalu merasa Ruu memberikan perhatian kecil itu untukku. Ahh, sungguh tingkat baper ku tinggi sekali.

Kadang aku berpikir, mengapa Tuhan bisa menciptakan makhluk yang sempurna seperti Ruu. Ya, Ruu memang laki-laki sempurna. Tidak hanya parasnya yang menawan, namun hati dan pikirannya juga sangat menawan.

Ahh Ruu.. Ruu..

"Senyuuuum" 

Suara itu mengejutkanku dari lamunan panjang tentang Ruu. Ahh.Aku menoleh ke sumber suara. Dan tidaaak...itu dia. Ruu tepat berada di depanku. Dan pastilah dia mendapatiku sedang melamun. Ya Tuhan, bagaimana ini? Apakah wajahku jelek sekali ketika dia melihatnya? Batinku.

"Kie, ngelamunin apa sih? Serius banget" tanya Ruu sambil melihat hasil fotoku di kameranya. Busyet. Rupanya pria memesona itu berhasil mengabadikan wajahku yang khusu" banget melamun.

"Gak ada. Kamu juga, ngapain fotoin aku. Hapus ya !!" aku sedikit protes karena pasti Ruu telah mendapatkan wajah jelekku. Dan tentu saja aku tidak mau. Aku ingin Ruu juga melihatku sebagai gadis sempurna untuknya. 

"Biar kesannya candeed gitu kie, hahahahaha, makanya jangan sering melamun. Lagian ngapain ngelamunin dia yang gak disini. Kamu gak lihat aku tuh disini.." sambil tersenyum ke arahku lalu dia kembali memainkan kameranya.

Grrrrrrr..
Aku mematung.
Kaannn.. kaaan
Pria itu mulai lagi gombalannya. Dan aku tidak bisa meredam perasaanku. Seolah darah hampir mengalir deras ke seluruh tubuhku. Kata-kata Ruu kembali berhasil menghipnotisku.
Aah..
Jangan-jangan Ruu juga menyukaiku?
Jangan-jangan Ruu memiliki rasa yang sama denganku?

Jangan berpikiran macam-macam kie, sadarlah !! Sadarlah!! Aku pun menepis perasaan aneh muncul lagi. Ya, walau kadang aku suka berkhayal tentang Ruu, namun otak warasku masih bisa bekerja. Ia berusa menepis segala bentuk ke-halu-anku tentang Ruu.

Tanpa menanggapi perkataan Ruu, aku segera merapikan berkas-berkasku dan bersiap meninggalkan ruangan itu menuju kamar tidur. Ya, kami harus segera beristirahat karena besok proyek akan dimulai

Lalu..

"Ini.."

Aku melihat ada secangkir cokelat panas di hadapanku. Aku pun melihat ke arah sumber suara. Tidaaak..
Ruu lagi !!
Bagaimana Ruu tahu kebiasaanku yang sangat menyukai cokelat panas? Apakah Ruu??

"Desa ini terlalu dingin, cokelat panas ini mungkin bisa sedikit menghangatkanmu kie" ucap Ruu sambil terus menghadirkan wajah yang memesona itu. 

Dengan sedikit gugup, aku mencoba mengambil cokelat panas itu. Dan sepintas aku menatap wajah Ruu lekat-lekat. Ia menyerahkan cokelat panas itu sambil tersenyum manis. Ahh, sungguh manis sekali. Ahh, sungguh hangat sekali. Siapa? Ruu dan cokelat yang diberikannya untukku.

"Terima kasih Ruu" aku mencoba menyusun kata-kata agar terlihat "biasa saja"

"Anything for you Kie" dia pun berjalan mundur meninggalkanku. Tak lupa memberikan lambaian tangan sebagai ucapan perpisahan di malam itu.

Aku melayang-layang. Beginikah rasanya jatuh cinta layaknya orang-orang katakan itu? Senyumannya, lambaian tangannya. Seolah mengisyaratkanku "mimpi indah Kie, jangan lupa mimpiin aku". Oh My God. 

Aku berlalu menuju kamar tidur tentu dengan khayalan yang indah yang terus memenuhi isi kepalaku. Aku berharap Tuhan akan mempertemukan aku lagi dengan Ruu di alam mimpi. Aku harap Ruu benar-benar hadir di mimpiku. Dan kisah romantis antara aku dan Ruu akan dimulai, berawal dari dunia mimpi, berakhir di dunia nyata.


Tunggu kelanjutan kisah Ruu dan Kie yak !!

Wednesday, 20 October 2021

DIAM-DIAM SUKA (PART 1)


13.45 WIB
 
Layar handphone menunjukkan waktu disiang hari itu. Seberkas cahaya handphone mengalihkan fokusku dari agenda rapat komunitas kami di siang ini. Bergegas aku mematikan layar handphone dan berusaha kembali fokus dengan pembahasan proyek kali ini

Ku edarkan pandangan pada orang-orang yang berada dalam ruangan ini. Semuanya fokus, mengerahkan  pikiran untuk memajukan proyek tersebut. Ya, sebuah proyek besar akan kami garap. Tentu saja membutuhkan perencanaan yang matang agar memberikan hasil yang maksimal.

Sayangnya, aku tidak seperti mereka. Walau kami berada di ruangan yang sama, kami membicarakan hal yang sama. Namun pikiranku tidaklah sama dengan mereka. 

Aku memang memegang berkas itu, sesekali ku bolak-balik dan mencoret tak tentu. Hal ini ku lakukan agar tak seorang pun di ruangan ini yang menyadari pikiran apa yang tengah menari-nari di dalam batok kepalaku. Tatapanku pun tak lagi fokus pada papan tulis yang ternyata telah penuh berisi target proyek kami ke depannya. Ahh, bahkan aku tak menyadarinya kalau papan tulis itu sudah penuh. Kemana saja sih aku?

Aku fokus pada dia.
Ya..
Dia yang sekarang berada di arah jam 11 ku. Dia yang sekarang memakai baju kotak-kotak hitam putih. Wah, ganteng sekali dia. Bibirku tersenyum malu setiap kali melihat wajah tampannya yang penuh dengan semangat.

Lihatlah, pria ini begitu antusias mengeluarkan ide briliannya. Dia yang terkadang menggeser layar smartphone nya dan mengetik beberapa kalimat disana. Nada bicaranya bersemangat, pilihan katanya apik dan rapi, dengan santai ia menjelaskan bahan rapat yang sebenarnya rumit dan memusingkan, bahkan sesekali ia mengelurakan jokes agar peserta rapat tetap rileks. Ahh, semakin menawan dan memikat hatiku.
.
"Oke guys, kita langsung ke pembagian kelompok untuk tugas masing-masing anggota ya" ucapnya
.
Kalimat ini adalah bagian yang paling ditunggu-tunggu dari sebuah rapat proyek. Disinilah kami tahu tim yang akan menjadi rekan dalam proyek ini, orang-orang yang akan menghabiskan waktu bersama-sama dalam waktu yang cukup lama.
.
Aku selalu deg-degan ketika berada di bagian ini. Mulutku tak henti-hentinya melantunkan doa banyak-banyak agar aku bisa satu tim dengan dia. Siapa lagi kalau bukan pria tampan berbaju kotak-kotak itu.
.
Akhirnya ~~~
Sekali lagi Allah masih kabulkan doaku. Ahh, sepertinya semesta memang bersahabat dengan diriku.
.
"Hai Kie, same group, agaian ?" lelaki bersuara bass itu menyapaku dengan semangat.
.
"Hai Ruu, yeah..," jawabku singkat menyembunyikan kegugupanku.
.
"Hope you not boring with me" dia kembali mengeluarkan kata-kata yang membuat jantungku bekerja lebih cepat.
.
"Of course. I will not boring, you are good friends" aku menjawab sambil memberikan senyum manis
.
"Okay, welcome to the jungle princess" dia menutup pembicaraan kami dengan kalimat yang membuat aku touching banget.
.
Dia berlalu untuk menyapa anggota grup yang lain. Oh My God. Kenapa dia begitu memesona? Terbuat dari apa makhluk Mu yang satu itu ya, kok dia begitu sempurna?
.
Aku segera membalikkan badan dan keluar ruangan rapat. Serasa ingin berteriak kesenangan. Karena kali ini Allah kabulkan lagi permohonanku. Aku kembali dipertemukan dalam kelompok yang sama.
.
Walau gembira, namun ada sedikit kecemasan dalam hatiku. Aku selalu deg-degan setiap memulai proyek dengannya. Aku berlebihan? Oh ya, tentu saja. Jika tidak berlebihan seperti ini, tentu saja itu bukan aku. Ehh.

Aku selalu tak bisa mengontrol jantungku ketika dia memberikan perhatian lebih, walaupun hanya sekadar bertanya aku sudah makan atau belum.
Dan aku sering salah tingkah ketika dia mengatakan "Kie, cantik deh kalau pakai baju itu"
.
.
Ahh..
Ruu..
Aku memanggilnya Ruu..
Lalu kenapa harus Ruu?
.
Tunggu kisah Ruu dan Kie di part 2 yaak

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...