. . .If You Want something You`ve never had, You Must be Willing To do Something You`ve never done. .
Wednesday, 15 July 2020
Jadilah Bijaksana
Monday, 13 July 2020
Karena Kita Telah Sepakat Bukan?
Thursday, 9 July 2020
Mendengar lah !
Monday, 6 July 2020
Duhai Anak Perempuanku
Sunday, 5 July 2020
Aku
Ini adalah cerita tentang aku.
Tentang aku yang dulunya harus dibantu setiap akan makan, minum, berjalan atau hanya sekadar mengambil sesuatu.
Tentang aku yang dari kecilnya begitu suka bermain alek-alek (baca : masak-masakan) dengan krucil-krucil di sekitar rumah.
Tentang aku yang dengan mata berbinar menunggu kedatangan papa pulang kerja. Sambil mengkhayalkan “duuh, papa bawa makanan apa ya?”
Tentang aku yang dulu selalu pakai baju adat Jogja setiap karnaval sekolah. Yang ini beneran aku gak tahu apa alasannya. Entah kenapa aku begitu suka sekali memakai baju adat Jogja. Hmm..hmmm, jangan..jangan..
Ini masih tentang aku yang dulu berjuang melawan sakit itu. Tanpa kenal lelah kuhabiskan hampir satu bulan lamanya hanya berbaring di atas tempat tidur. Sejenak melupakan rutinitas sekolah, melupakan enaknya bermain atau sekadar mengejar capung bertebangan.
Waktu itu aku harus merelakan diri untuk cukup rawat jalan saja. Semua itu disebabkan kondisi finansial yang memprihatinkan kala itu. Kedua orang tuaku tidak punya dana untuk opname di rumah sakit. Alhasil aku harus berdamai dengan penyakit itu. Mengandalkan ramuan kampung untuk kesembuhanku.
Ya, walau sesekali aku harus cek kesehatan ke rumah sakit. Aku merelakan tubuhku melewati serangkaian tes medis yang cukup menyakitkan untuk anak umur 7 tahun. Tubuhku harus meberima suntikan di bagian sana dan sini. Belum lagi obat-obatan yang harus rutin diminum setiap harinya. Semua kulakukan demi agar bisa sekolah lagi. Bahkan aku ingat ketika aku menangis sejadi-jadinya karena ternyata aku tidak dapat ranking di kelas. Ini semua disebabkan oleh penyakit itu.
Sungguh, ada banyak hal yang telah aku lalui.
Aku yang dulu membuat diriku menjadi seperti aku yang sekarang.
Aku yang sekarang masih lembut hatinya.
Aku yang sekarang masih menangis manja kalau lagi telponan melepas rindu kepada bunda dan papa.
Aku yang sekarang masih menangis setiap masalah menghampiriku.
Aku yang sekarang masih setia menunggu papa pulang kerja karena ingin bergelayut manja. Bahkan otakku pun masih berkhayal tentang hal yang sama. Papa pulang bawa apa ya?
Aku yang sekarang masih suka minta disuapin makan oleh bunda. Dengan dalih, lebih enak makan langsung dari tangan bunda.
Aku yang sekarang masih saja sedih dan kecewa maksimal ketika targetku gagal
Dan aku baru sadar. Ternyata aku yang sekarang tak jauh berbeda dengan aku yang dulu. Ternyata anak sulung papa dan bunda masih kecil dan belum dewasa. Aku masih sepenuhnya bergantung kepada papa dan bunda. Aku yang masih bersandar kepada bunda dan bergelayut manja dengan papa. Ternyata aku masih membutuhkan lambaian tangan papa dan bunda setiap pergi meninggalkan rumah. Aku masih membutuhkan nasehat dari papa dan bunda. Sepertinya papa dan bunda tahu bahwa aku selalu menjadi anak kecil mereka.
Medan, 5 Juli 2020, 22 : 37
Sebongkah rindu begitu membuncah di dalam dada. Semoga akhir tahun ini bisa segera bertemu.
Sunday, 28 June 2020
Kisah Mimpi Yang Tak Sampai

Sumber : http://danielmarihot1996.blogspot.com/2017/04/mimpi-dan-harapan.html
Setiap orang tentu memiliki sebuah harapan yang besar.
Kamu juga kan? Ya, seremeh apapun itu di mata orang lain tetap saja itu sebuah
harapan besar dalam hidup kita. Ibaratkan sebuah mimpi yang sangat tinggi.
Walaupun pendek di mata orang lain namun tetap tinggi menjulang di pikiran
kita.
Harapan dan mimpi itu bukan sekadar hiasan dalam pikiran belaka. Kita dengan sekuat tenaga berusaha mendapatkannya. Kita mendayagunakan seluruh tenaga, memaksimalkan segala rupa bentuk ikhtiar agar bisa mencapainya. Hal ini dilakukan agar harapan itu menjadi sebuah kenyataan. Agar mimpi yang hanya bermain di dalam pikiran bisa keluar menampakkan wujud aslinya.
Namun sayangnya, kita gagal. Ya, ternyata Allah memilihkan jalan kegagalan atas paripurnanya usaha maksimal kita. Kita gagal mendapatkan harapan besar dan impian tinggi tersebut. Sedih? Sudah tentu, tak usah ditanya lagi. Menangis? Jelas. Entah sudah berapa liter air mata keluar dari mata ini. Kecewa? Tentu saja. Bahkan hati mulai menyangsikan ke-Maha Besar-an Allah. Diri mulai bertanya-tanya, “Allah itu kok gak adil ya?”
Merasa sedih dan kecewa itu wajar kok. Kita kan manusia, jadi sangat wajar merasakannya. Hanya saja cukupkan perasaan itu sebatas sedih dan kecewa saja. Jangan ditambah-tambah dengan mengutuki diri sendiri, terlebih lagi menyalahkan keadaan atau menyalahkan takdir Illahi. Hingga kita berkoar-koar ke lagit meneriakkan betapa tidak adilnya Sang Illahi. Astaghfirullah.
Coba tarik napas perlahan. Berpikirlah dengan jernih. Jika kita melakukan itu semua, apakah takdir akan berubah? Ahh, tentu saja tidak bukan. Lalu apa yang bisa kita dapatkan setelah mencerca diri sendiri atau mencerca akan sifat Allah? Semua itu hanya membuang tenaga dan menguras emosi.
Kita mungkin lupa, ada sebuah fase penting dalam perjalanan ikhtiar kita. Tawakkal. Ini harusnya kita lakukan setelah memaksimalkan ikhtiar kita. Seharusnya manusia memasuki fase ini. Fase dimana seorang manusia mempercayakan skenario terbaik kehidupan kepada Robb Nya. Fase dimana manusia dituntut ikhlas menerima segala bentuk takdir dalam kehidupannya. Fase dimana sabar dan syukur itu sangat diuji.
Maka, untuk hati yang tengah terluka oleh mimpi yang kandas, cobalah untuk bertawakkal. Terkadang yang menurut kita baik, belum tentu sepenuhnya baik di mata Allah. Bukankah Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba Nya? Lalu alasan apalagi yang bisa kita kemukakan ketika takdir Allah tak sejalan dengan harapan kita?
Cukuup percayakan saja kepada Allah. Biarlah Allah yang mengatur kehidupan kita. Tugas dan tanggung jawab kita hanya berikhtiar maksimal. Namun, hasil akhir itu hal mutlak Allah. Tak perlu lah kita sibuk mengurusi akhir dari ikhtiar.
Sekarang, usap air matamu. Percayalah, yang sedang kau
alami saat ini bukan akhir dari segalanya. Sejenak coba lupakan dulu mimpimu,
nikmati segelas kopi hangat atau nontolah beberapa episode drama korea di
laptopmu. Insya Allah kau akan menjadi lebih baik lagi dan kembali bersiap
mewujudkan segala harapan dan mimpi yang tertunda.
Medan, 25 Juni 2020, 22 : 03 WIB
Wednesday, 24 June 2020
Buku; Benda Sakralku
KAU TAK SENDIRI
Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...
-
Judul : Diary Garpu Tala Penulis : Nasrullah Penerbit : KMO Indonesia, 2018 Halaman : ...
-
Tepat pada hari ke 120 di rahim ibunya, seorang "calon manusia" mengalami kejadian hebat dalam hidupnya. Disaat itu esensinya se...
-
Judul : Bintang Penulis : Tere Liye Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Halaman :...



