Friday, 24 June 2022

KETEKUNAN YANG BODOH


Sebuah ungkapan Albert Einstein
"Cukuplah disebut sebagai ORANG GILA, seseorang yang mengulang-ulang cara yang sama dan berharap mendapatkan hasil yang berbeda"

Oke, mari kita membahas ucapan seseorang yang katanya jenius ini. Biasanya orang pintar itu kata-katanya bermakna. Jadi ada ribuan makna yang bisa kita bahas ketika orang pintar itu mengucapkan sebuah pernyataan.

Untuk memudahkan, mari kita memulai dengan sebuah cerita. Saya rasa melalui analogi sederhana, kita akan memahami maksud dan tujuan Albert Einstein mengeluarkan pernyataan tersebut. 

Misalnya begini :
Seorang siswa yang tidak mengerti rumus matematika, guru tetap menjejalinya dengan kalimat abstrak tanpa mencoba menyederhanakan kalimat yang rumit itu. Bagaimana menurut kamu? Ada yang salah dengan kasus guru tersebut?

Lanjut kita ke kasus berikutnya :
Seorang karyawan yang tidak paham dengan instruksi, sementara boss tetap meneriakinya dengan kalimat yang sama berulang-ulang tanpa mencoba menggunakan kalimat baru. Nah, ini boss nya gak kalah bikin greget karyawannya kan? Ingin rasa berteriak di telinga boss, mau elu apa sih boss? Hehehe

Ada lagi sebuah cerita :
Seorang pria yang selalu gagal meluluhkan hati kekasihnya dengan cara menggoda via media sosial, tetap melakukan hal yang sama tanpa berusaha untuk datang ke rumah dan langsung melamar si pujaan hati. Nah, sungguh pria yang tanpa kejelasan bukan? Saya rasa tidak ada wanita yang ingin diperlakukan seperti itu.

Kita liat dari beberapa kasus yang telah dijabarkan sebelumnya. Ada hal yang dapat kita ambil persamaannya? Salah satu hal positif yang bisa kita ambil dari kisah di atas adalah tentang ketekunan (persisten). Dari beberapa kisah di atas, terlihat betapa manusia itu cenderung persisten di dalam hidupnya. Lihat saja, guru yang tekun mengajari siswanya dengan old method nya. Begitu juga dengan boss yang gak kalah tekun meneriaki karyawan dengan kalimat yang sama. Termasuk pria yang terus menggoda perempuannya melalui media sosial. Ya, mereka begitu tekun.

Bahkan saking tekunnya manusia-manusia itu, ketika ia belum berhasil, ia cenderung mengulangi cara yang sama, lebih lama bahkan lebih sering. Mereka berharap dengan pengulangan ini, ia akan mendapat hasil yang berbeda. Terkesan lucu ya? Dengan cara yang sama dilakukan secara persisten, mereka berharap hasil yang berbeda. Ahh, sungguh ini merupakan ketekunan yang begitu bodoh.

Bagaimana guru bisa berharap siswanya paham dengan matematika jika ia hanya mengulang-ngulang kalimat rumit aljabar itu? Bagaimana seorang boss berharap karyawannya paham dengan instruksi jika ia tak berusaha menyederhanakan instruksi agar lebih dipahami karyawannya? Bagaimana seorang pemuda berharap seorang perempuan mau menikah dengannya jika ia hanya sibuk menghubungi media sosial tanpa eksekusi yang lebih pasti. Mereka tekun, sayangnya bodoh. Benar begitu kan?

Mungkin kita harusnya berpikir, ketika suatu cara belum membuahkan hasil, maka sudah saatnya kita mencoba cara lain. Ya, mungkin perlu refleksi terlebih dahulu, apakah cara ini efektif atau tidak? Apakah kekurangan dari cara ini sehingga iatetap gagal walau dicoba berulang kali? 

Satu hal yang perlu dipercaya bahwa ketika satu cara tidak berhasil, maka cara berbeda tentu akan memiliki peluang lebih besar daripada cara yang telah kita lakukan. Beda cara tentunya beda hasil dong, walau hanya sedikit, tetapi tetap berbeda. Nah, yang jadi masalah itu adalah kenapa kita begitu konsisten dengan cara-cara yang tak kunjung membuahkan hasil?

Para guru kekeuh dengan metode mengajar yang dilakukan karena menurutnya ia nyaman. Para boss tetap marah kepada karyawan karena ia merasa nyaman. Para orang tua sibuk memarahi anaknya karena ia merasa cocok dengan tindakan itu. Nyaman. Itulah alasan kita untuk tetap melakukannya. Kita merasa nyaman dengan apa yang tengah kita lakukan. 

Kita takut mencoba hal baru, malas merepotkan diri dengan ilmu baru atau tidak mau bertemu sesuatu yang baru. Zona nyaman begitu mengikat pola pikir dan mental kita. Sehingga kita benar-benar takut keluar darinya dan terjadilah ketekunan yang bodoh ini, lagi dan lagi.

Move on Dude!
Berhentilah dengan pikiran jaman old kita. Keluar dari zona nyaman yang kita banggakan. Mungkin diawal agak berbeda, karena kau tengah memberikan rasa baru dalam hidupmu. Wajar. Nikmati perubahan itu, dan lihatlah keajaiban akan terjadi ketika kau memutuskan keluar dari zona nyaman yang begitu mengekangmu.

Berikan ruang untuk hal-hal baru dan lihatlah, kita akan mendapatkan hasil yang jauh lebih baik. Berani mencoba? Ahh, harusnya yok coba !!



Medan, 24 Juni 2022, 22:10 WIB

Thursday, 16 June 2022

PERCAYAKAN KEPADA ALLAH

Adalah ia, seorang ibu dari anak yang masih sangat kecil serta istri kedua dari manusia kekasih Allah. Tanpa membantah, ia mengikuti perintah Allah yang diturunkan melalui suaminya berhijrah ke sebuah lembah yang jauh.

Bermodalkan bekal yang ala kadarnya, perjalanan jalan kaki yang dilakukan hampir berbulan-bulan serta membawa seorang bayi di bawah sinar matahari yang menyengat di siang hari serta dingin udara yang menusuk di malam hari.

Akhirnya perjalanan panjang itu berakhir di sebuah lembah bernama Bakkah. Tiada kehidupan yang menjanjikan di sana. Tiada masyarakat, sumber air atau pepohonan. Sejauh mata memandang, hanya hamparan pasir yang tampak.

Keluarga kecil itu bertahan disana dengan bekal seadanya yang masih tersisa. Kondisi yang benar-benar memperihatinkan. Hingga sang suami memutuskan untuk kembali ke Palestina, tempat mereka bermula.

Sang istri begitu terkejut mendengar suaminya yang akan pergi meninggalkan dirinya dan seorang bayi di sebuah tempat yang benar-benar tidak ada apa-apanya. Tetapi ketika suaminya menjelaskan bahwa Allah yang menyuruhnya kembali, maka sang istri dengan bijaksana;

"Pergilah, sesungguhnya Allah tidak akan mengecewakan kami"

Akhirnya sang suami pergi dengan ridho meninggalkan keluarga kecilnya dalam Kuasa Allah.

Ya, sepenggal kisah heroik Siti Hajar, Ibrahim dan Ismail kecil. Betapa payahnya kondisi mereka ketika awal berhijrah. Ternyata kepayahan itu tidak menyurutkan rasa yakin mereka kepada Allah.

Hajar yang begitu yakin bahwa Allah akan mengurusi ia dan Ismail di tempat yang gersang ini. Ibrahim begitu mempercayakan keluarganya kepada Allah. Dan lihatlah, Allah membalas keyakinan mereka dengan menghadirkan mata air zamzam yang sangat berkah. Masha Allah.

Bisa jadi kita selama ini tidak mempercayakan urusan kepada Allah. Makanya sering berantakan, gagal atau tidak sesuai harapan. Kita percaya dengan hukum orang lain, percaya dengan diri sendiri atau percaya dengan logika yang dibangun di kehidupan kita

Kalau rajin bekerja harusnya hidup sukses. Itu kan logika kehidupan yang entah siapa penciptanya. Padahal kan sukses itu indikator nya banyak. Terkadang ada yang sukses tapi tidak bahagia, namun ada juga yang bahagia tetapi kesuksesannya ditunda dulu. 

Lalu, siapa yang paling kecewa?
Mereka yang tidak mempercayakan urusannya kepada Allah lah yang akan kecewa. Bukankah sudah jelas jika kita bergantung atau berharap kepada selain Allah, maka kekecewaan yang akan kita peroleh?

Dalam hidup, sejatinya kita hanya dituntut untuk melakukan ikhtiar maksimal, namun kita tidak berhak mendikte Allah atas hasil dari usaha tersebut. Disinilah Allah menuntut kita untuk percaya kepada Nya. Bahasa lainnya itu tawakkal. Berat sih, tapi bukan berarti tidak bisa kan? Yok kita mencoba untuk bertawakkal dengan segala ketetapan Allah.

Belajarlah dari Hajar. Lihat, beliau begitu yakin dan percaya dengan Allah. Bahkan ketika ditinggalkan bersama bayi merah di tanah yang tandus, tak ada getir takut menghampirinya. Kenapa Hajar begitu berani? Karena Ia yakin bahwa Allah tidak akan mengecewakan dirinya.
Masha Allah

Gak terasa sebentar lagi sudah lebaran Idhul Adha saja ya kan? Kira-kira apa yang akan kita kurban di tahun ini? Apakah kita masih berkurban perasaan (lagi)?


Medan, 17 Juni 2022, 06.20 WIB

Thursday, 17 February 2022

PEREMPUAN DAN IMPIANNYA

"Perempuan gak usah kuliah tinggi-tinggi, kan nantinya cuma di rumah saja"

"Perempuan itu yang penting pandai ngurus rumah, anak dan suami"

"Perempuan yang berkarier itu menyalahi kodratnya"

Itulah, beberapa stereotipe yang sering aku dengar. Menurutku, itu terkesan menyebalkan dan terlalu menjustifikasi kaum perempuan. Membuat otakku berpikir, apakah memang seharusnya perempuan tidak boleh menjadi hebat, cerdas, berkualitas, dan luar biasa? Apakah perempuan itu benar-benar harus di rumah saja? Apakah perempuan itu tidak boleh bekerja di luar rumah untuk membantu menyelamatkan perekonomian keluarganya? Apakah perempuan itu tidak boleh mengaktualisasikan diri dan kemampuan yang dimilikinya?

Oke, baiklah. Mari kuajak sedikit bercerita tentang sebuah kisah menarik. Tentang Ibunda Khadijah.
Kalian tahu kan? Ya, istri pertama Rasulullah ini menurutku adalah sosok perempuan yang wajib diidolakan oleh para wanita. Coba kita baca shiroh tentan Ibunda Khadijah. Bukankah Ibunda Khadijah seorang pebisnis yang sukses? Beliau punya usaha yang maju, karyawan yang banyak, omset yang tinggi. Bener kan ya?

Itu artinya beliau bekerja dong? Beliau wanita karier dong? Beliau pinter doong. Mana mungkin seorang pebisnis, seorang wanita karier mendapatkan ilmu tanpa belajar dan berkumpul dengan orang hebat? Gak mungkin kan ibunda khadijah hanya berdiam diri tanpa berusaha belajar dan terus meng upgrade dirinya. Menurutku, Ibunda Khadijah adalah sosok wanita karier yang sholihah.

Lalu, mari kita lanjutkan dengan Ibunda Aisyah. Siapa yang tidak tahu betapa hebat, kritis dan cerdasnya ibunda Aisyah. Menurut kamu, apakah kepintaran itu ia dapatkan secara cuma-cuma? Sudah jelas Ibunda Aisyah belajar banyak agar memiliki kepintaran seperti itu.

Dari dua kisah ibunda hebat tersebut. Sudah jelas kan, betapa keduanya tidak hanya berdiam diri saja. Mana mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh kedua Ibunda luar biasa itu didapatkan hanya dari dapur, sumur dan kasur. Sudah pasti kedua Ibunda itu belajar dan diskusi. Jika di zaman mereka ada sekolah atau universitas, ku rasa mereka telah menyelesaikan kuliah doktoral.

Setidaknya ini adalah alasan mengapa aku berani untuk melanjutkan pendidikan. Aku berani untuk terus belajar. Bukan berniat untuk menandingi Ibunda Khadijah dan Aisyah, aah mana pantas diri ini disandingkan dengan Ibunda luar biasa itu. Bukan juga untuk menunjukkan ke aku an ku. Menunjukkan kalau aku hebat, keren. Bukan. Astaghfirullah.

 Aku hanya belajar banyak dari Ibunda Khadijah dan Aisyah bahwa perempuan itu harus cerdas dan hebat. Perempuan itu harus mengambil peran di dalam kehidupannya, harus memberi manfaat bagi bangsa, agama dan sekitarnya. Tidak harus menjadi hebat sekali, terkenal atau memberi dampak besar. Ya, terutama untuk keluarga kecil mereka, lalu dilanjukan keluarga besar dan tetangga nya. Tidak mutlak harus memberikan manfaat yang besar, bahkan hal remeh temeh sekalipun asalkan bermanfaat itu sudah lebih dari cukup

Begini deh, bayangkan saja jika tidak ada perempuan yang kuliah dokter, bagaimana nasib perempuan yang ingin melahirkan, padahal itu jelas-jelas memperlihatkan auratnya? Jika tidak ada perempuan yang belajar hadits, bagaimana nasib perempuan yang kebingungan bagaimana cara membersihkan darah haidh? Aku rasa dua analogi ini sudah sangat menjelaskan mengapa perempuan itu harus pintar, hebat dan berkualitas. Dan bukankah ibu itu adalah madrasah pertama bagi anaknya?  Aah, bayangkan saja jika si ibu tidak punya kemampuan mumpuni, bagaimana nasib si anak coba.

Untuk perempuan di luar sana, menjadi hebat lah ! Teruskan mimpimu, gapai cita dan cintamu. Menjadi perempuan hebat itu tidak salah kok. Apresiasi dirimu dengan menjadi sosok yang hebat dan luar biasa. Teruslah belajar. Bodoh itu tidak salah, tapi membiarkan diri untuk terus dalam kebodohan itu merupakan kesalahan besar




Medan, 16 Februari 2022, 21:46 WIB


Monday, 7 February 2022

TERLIHAT BAIK

Percakapan sederhana dari gambar :

"Kamu posisi fotonya di depan aku ya, biar aku gak kelihatan gendut kali"

"Ehh..aku paling belakang aja deh, jerawat lagi banyak banget nih"

"Aku duduk aja ya, biar gak nampak kalau aku gak  tinggi-tinggi banget"

Skenario pembicaraan ketika hendak melakukan photoshoot rame-rame. Pembicaraan seperti ini gak berlangsung 1 atau 2 menit saja lho. Tapi bisa berlangsung lama, bikin pegel, greget, makan hati, terus gak jadi foto. Hehehe. Namun, jika sudah betul-betul terjadi photoshoot nya, percaya deh, akan muncullah foto-foto yang bagus dan semuanya terlihat sempurna. 

Aku ulangi lagi. SEMPURNA. Apakah benar kita semua sempurna dalam gambar yang abadi itu? Atau kita hanya terlihat sempurna? Terlihat baik-baik saja? Terlihat hebat? Terlihat keren? Sehingga kita bisa memanipulasi pikiran orang bahwa kita memang benar sosok yang sempurna, kita adalah sosok yang hebat, keren dan awesome banget deh pokoknya.

Apakah kita yakin diri kita memang se awesome itu? Apakah kita percaya diri jika semesta menganggap kita adalah yang terbaik? Apakah kita tidak malu ketika lingkungan begitu meng-agung-agungkan atas kehebatan yang sering kita per tonton kan?

Tapi ya, menurutku itu sebuah hal yang wajar dan manusiawi kok. Aku tidak membenarkan sikap seperti itu ya. Hanya saja berusaha memandangnya dari perspektif yang berbeda. Manusia wajar untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik, menampilkan hal terbaik yang dimilikinya. Menunjukkan kepada lingkungan tentang ke-aku-an dirinya. Lalu berusaha keras menutupi segala aib-aib dalam dirinya agar tak dicap jelek oleh sekitarnya. Kamu merasakannya juga kan? Ya, gak masalah. Itu manusiawi banget.

Gak usah jauh-jauh deh. Betapa banyak orang yang jatuh bangun dalam memenangkan sebuah kompetisi. Ikut lomba sana sini untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia memang terbaik. Begitu rajin belajar dan menimba ilmu agar sekitarnya tahu bahwa ia memang cerdas dan berkelas. Ingin menjadi mahasiswa terbaik di kampus, mendapat predikat cumlaude, penghargaan ini itu. Ingin menjadi guru yang diidolakan para siswanya. Bahkan utk urusan remeh, ya sebut saa berfoto sekalipun, manusia tetap ingin menjadi yang terbaik. Aneh kan? Tapi ini sangat wajar !

Eits, aku tidak bilang jika kompetisi itu gak baik lho ya. Aku mendukung adanya kompetisi, itu menunjukkan eksistensi diri seseorang. Seperti yang aku bilang, semua itu sangat wajar dan manusiawi. 

Namun...

Sayangnya, kenapa keinginan untuk jadi yang terbaik itu hanya untuk urusan dunia saja? Kenapa kita sibuk mengurusi dunia kita agar kita selalu terlihat baik, selalu terlihat sempurna. Kadang kita terlalu bekerja keras membuktikan kepada orang lain hal terbaik apa yang kita miliki. Kita mati-matian memperbaiki imej dan harga diri kita di hadapan bos, mertua, karyawan. Kita mengagung-agungkan kesempurnaan semata hanya untuk kepentingan dunia saja. Bahkan kita merasa hancur sejadi-jadinya ketika imej sempurna yang kita bangun itu berantakan. Aah, serasa mau mati saja. Begitu kan?

Padahal kita tahu teorinya, tahu ilmunya, tahu hakikatnya. Bahwa tak secuil pun hal di dunia ini yang benar-benar kita miliki. Semuanya hanya titipan. Anak, keluarga, harta, bahkan diri sendiri saja bukan milik kita. Apatah lagi imej dan harga diri yang begitu kita banggakan itu. Cukup sekejap mata saja jika Allah berkehendak, Dia ambil itu semua, Dia hancurkan apa yang telah kita bangun. Tidak salah kok, wong itu punya Dia, kita cuma dititipin doang.

Permasalahannya adalah, kenapa kita juga tidak menampilkan yang terbaik di depan Robb kita? Kenapa kita tidak menjadi hamba Nya yang memenangkan kompetisi Nya ?
Kenapa kita tidak berusaha untuk setiap saatnya memang terlihat baik, terlihat cantik dan terlihat sempurna di mata Robb kita?
Padahal Tuhan itu 24 jam bersama kita, kita selalu berada dalam pantauan Nya. Bagaimana mungkin kita bisa bersikap lalai jika kita selalu dilihat Nya?
Renungkan!!

Jika brand yang kita bangun adalah menjadi hamba sempurna bagi Tuhan, sungguh itu hal yang paling tepat. Dan memang sudah seharusnya seperti itu kan. Kita itu harusnya menyempurnakan diri di hadapan Tuhan, bukan dihadapan makhluk Nya. Buat apa coba? Kalau di hadapan Tuhan, kita dapat ganjaran pahala, dapat surga lagi. Terus kalau di hadapan manusia dapat apa? Ya, pujian sih. Tapi berapa lama? Setelah itu dilupakan kan? Dighibahkan kan?

Sadarlah wahai diri !!
Teruslah menjadi hamba Nya yang terbaik. Menjadi hamba Nya yang berusaha mencari kesempurnaan di depan mata Tuhannya. Menjadi hamba Nya yang kelak akan memenangkan kompetisi ini. Kompetisi yang akan diumumkan di yaumul akhir nantinya. Menjadi hamba Nya yang dibanggakan oleh seluruh makhluk langit. Kurang romantis apa Tuhan itu coba, jika ada hamba Nya yang Ia cintai, Ia akan menyuruh semua malaikat juga untuk mencintai hamba tersebut. Duh, duh, duh, Masha Allah kan ?


"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dgn hati yg ridho dan diridhoi Nya"
(Al Fajr :27-28)
.
.
Ps :
Karena kami hampir 15 menit menyusun formasi begini
Hahahha..
.
.
Loc : Air Terjun Linggahara, Lobusona, Rantau Selatan, Kab.Labuhan Batu, Sumatera Utara
.
.
#gambarjadiide
#catatankecilsuci

Wednesday, 2 February 2022

PANIK (?)

PANIK (?)
Pernah menghadapai yang namanya tes? Kompetisi? Ujian? Atau apapunlah sejenisnya.
Tentunya pernah. Sering malahan. Karena memang dunia adalah tempat ujian. Baik itu ujian yang tersistem, terkondisikan maupun ujian yang tidak tersistem, insidental. Bahkan ujian yang tidak tersistem inilah yang paling sering kita jalani ya kan? Ujian kehidupan. Setiap hari hidup selalu menguji kita dengan berbagai caranya. Masha Allah

Apa yang kita rasakan ketika hendak menghadapinya?
Deg degan? Takut? Grogi? Tenang, rileks?
Aah..tentunya setiap orang punya cara berbeda. Mereka punya cara tersendiri melakukan treatment terhadap diri sendiri agar bisa melewati ujian dengan baik. Bahkan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar hasil dari ujian yang tengah dijalani merupakan hal terbaik bagi kelanjutan masa depannya

Hal yang lumrah ketika kepanikan akan mulai menyusup ke dalam diri kita. ketika menit demi menit mendekati ujian. Lalu otak akan menggambarkan hal-hal yang menakutkan.
Takut gagal, takut gak bisa menyelesaikan. Takut hasilnya tak sesuai dengan harapan. Takut beginilah, takut begitulah. Ahhh..
Bukankah ujian itu sudah menakutkan? Lalu mengapa kita masih menambahnya dengan ketakutan-ketakutan yang tak beralasan seperti itu?
Nyeseek kan? Bangettt
Ada untungnya ? kagak !!
Tapi kenapa masih sering dilakukan?
Eeh..

Mungkin perlu diubah tradisi sebelum ujian. Jangan pikirkan hasilnya bagaimana, apakah aku bisa, bagaimana jika aku gagal. Berhentilah memikirkan hal itu. Alangkah lebih baik jika kita mengubah "warming up" sebelum tes itu dgn hal yang lebih berkualitas. Nah, nah, seperti apa?

Sesederhana menyemangati diri agar tak takut kalah atau gagal. Diri kita butuh disemangati dari dalam. Ya, tentu saja setelah ikhtiar maksimal yang kita lakukan agar melewati ujian dengan baik. Semangat dan percaya diri yang tinggi menjadi poin penting dalam keberhasilan mengikuti ujian. 

Mengatur nafas agar bisa lebih rileks, ngobrol ringan dengan sahabat, berdoa kepada Robb, atau bahkan satu kali jepret  dengan teman, mungkin akan sedikit membantu mengurangi kepanikan itu. Eh. Ya, tentu ada banyak cara yang bisa kita gunakan mengatasi kepanikan berlebihan tersebut. Sekali lagi, panik itu boleh, tapi panik secara berlebihan itu tidak baik. Karena akan membuat ujian kita berantakan dan gagal total.

Wajar kok jika panik, namanya juga mengikuti tes dan pasti ingin mendapatkan hasil terbaik.
Sayangnya, kita tidak bisa menjamin diri ini  mendapati hasil yang luar biasa dan sesuai keinginan kita. Karena ada Dzat Maha Kuasa yang telah menggariskannya. Yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar dengan usaha terbaik, usaha luar biasa. Lalu bungkus ikhtiar itu dengan tawakkal. Insha Allah, apapun hasilnya kau tak akan pernah merasa kecewa karena percaya itu adalah hal terbaik dari Robbmu

Berhentilah panik menjelang Ujian yaa..
Ini hanya ujian kok !! Eeh..




Ps:
Ini dia wajah2 sok rileks, sok gak panik padahal sebentar lagi mau mengikuti tes IRR 3. Dan kau tahu badai kepanikan melanda kami pasca IRR 1 dan IRR 2.😫
.
Pelatihan Asesor Egra, USAID Nasional
Loc : Sari Pan Pasific Hotel, Menteng, Jakarta Pusat
.
.
#gambarjadiide 
#catatankecilsuci

Monday, 20 December 2021

DIAM-DIAM SUKA (FINAL PART)


"Hufft" aku menghela nafas panjang. Entah kenapa malam ini tak seindah biasanya. Padahal ribuan bintang itu bersinar dengan indahnya, bahkan tak satupun sinar dari ribuan bintang itu yang menyilaukan lamunanku. Aku merasa langit malam yang cerah ini hitam legam, tak ada setitik cahaya di atas sana. Ahh, layaknya duka yang tengah melandaku. Duka yang memporak-porandakan kehidupanku. Aarrrrggggghhhh..

Aku terus memandangi layar smartphoneku. Memperhatikan timeline instagramku.
Lama....
Lamaaa sekali
Aku memperhatian sebuah gambar yang terpampang jelas. Aku membaca caption yang ditulis kata demi kata nya. Dan akhirnya buliran air mata jatuh secara perlahan. Aku menangis.

Happy Engagement day !!
*Ruu and Swa*

Kurang lebih begitulah kalimat singkat yang tertera di caption itu. Sedangkan gambarnya menampilkan sosok Ruu dan Swa memamerkan cincin yang sama mengikat di jari manis masing-masing. Di kolom komentar pun tersematkan ribuan doa untuk pasangan idaman ini. 

Aku? Jangankan memberikan like atau ikut mendoakan. Menatap gambarnya saja aku sudah tak kuat, rapuh, gamang, goyang. Ahh, Apa yang sebenarnya aku rasakan? Inikah yang mereka sebut dengan patah hati? Inikah yang mereka namakan cinta tak harus memiliki?

Aku menghidupkan laptopku. Melakukan scrolling ke atas dan ke bawah lalu berhenti fokus memperhatikan layar laptop. Yaah..tampak seorang pria bersweater hitam itu sedang ter-canded memegang kameranya. Aku mengamatinya. Lama. Lama sekali. Dan sekali lagi, aku kembali menangis, menumpahkan segala kecewa yang aku rasakan. Meluapkan kesedihan yang ternyata tak dapat dibendung lagi

Aku menghela nafas panjang. Perlahan mengelap air mataku. Lalu sambil  memejamkan mata aku menekan tombol delete, dan foto pria itu lenyap dari laptopku. Dengan senyum yang dipaksakan aku mengazzamkan
"No more Ruu"
Lalu aku mematikan laptopku.
Ya. Itu adalah foto terakhir Ruu yang aku hapus dari laptopku setelah aku berhasil menghapus semua foto yang ada Ruu.

Aku kecewa. Aku terluka? 
Kenapa?
Apakah karena Ruu?
Tentu saja tidak. Aku kecewa karena diriku sendiri. Aku yang membangun khayalanku, aku terus menimbunnya hingga angan-anganku terbang tinggi. Hingga aku lupa membedakan mana yang nyata, dan mana yang fana. Sampai akhirnya ketika Tuhan membangunkanku dari khayalan ini semua, aku tersentak, kaget, jatuh. Aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku mengalami luka yang teramat pedih, mengalami nestapa yang teramat dalam. 

30 menit berlalu. 

Aku tersenyum. Ya, senyuman yang terpaksa aku hadirkan dalam basahnya air mata. Tersenyum menyadari akan kebodohan yang selama ini aku nikmati. Aku yang terlalu mengharapkan Ruu, aku yang diam-diam menyukainya, aku yang membangun imajinasi luar biasa tentang Ruu. Aku yang terlalu menikmati semua perhatian kecil yang Ruu berikan, perhatian yang ternyata bukan hanya untukku. Tapi untuk semua orang di sekitarnya.
Aku..
Aku yang begitu bodoh.
Dalam diamku aku menyukainya. Teramat menyukai. Tanpa aku tahu tahu ternyata dalam diamnya, dia sedang membangun bingkai pernikahan dengan pujaan hatinya.

Aku yang salah menyukai Ruu diam-diam. Aku yang salah karena tak memintanya langsung kepada Robbku. Aku yang salah karena telah mengkhianati cinta Robbku secara diam-diam.

Mulai sekarang, no more Ruu. Begitu pun, tak akan ada Ruu yang lainnya. Sudah cukup. Aku tak akan berkhayal lagi. Aku tak kan berimajinasi lagi. Aku akan menjaga hati agar kelak tak patah lagi seperti ini. Sungguh, ini menyakitkan

Jika nanti akan ada orang lain datang kembali, minta saja kepada Robbku. Aku tak perlu berimajinasi, tak perlu berkhayal lagi. Sudah cukuup. Aku harus menghentikan kebodohan ini. Aku harus kuat. Aku harus melanjutkan kembali kehidupanku.


Medan, 20 Desember 2021, 06.21 WIB
Entah kenapa di bagian ini menulisnya dengan sedikit air mata. 

Wednesday, 8 December 2021

DIAM-DIAM SUKA (PART 3)

DIAM-DIAM SUKA
Part 3~~


Akhirnya proyek kami selesai dengan hasil yang sangat memuaskan. Sebenarnya hal ini sudah biasa. Proyek kami akan selalu berhasil karena perencanaan yang matang dan kinerja yang profesional.

Semua orang bahagia. Mereka saling merayakan keberhasil proyek ini dengan sukacita. Mereka merayakan kehebatan diri masing-masing yang memiliki andil dalam proyek ini sehingga menjadikkanya berhasil. Sombongkah? Ahh, tentu saja bukan. Ini hanya bentuk apresiasi terhadap diri sendiri karena telah mampu bekerja keras sejauh ini.

Semua orang bahagia, kecuali aku. Ya, aku biasanya memiliki kesedihan tersendiri dalam hal ini. Kau tahu kenapa? Dengan berakhirnya proyek ini berarti selesai pula kebersamaanku dengan Ruu.

Ruu lagi?
Iya. Karena dia akan selalu menjadi alasanku untuk menikmati setiap proyek yang diberikan kantor. Karena dia aku bersemangat menjalani hari-hariku di kantor. Karena dia juga aku mengalami peningkatan dedikasi terhadap pekerjaanku. Ahh, Ruu..

Selesainya proyek ini juga berarti bahwa aku akan kembali ke deadline kantor. Aku akan disibukkan dengan aktivitas di balik meja. Yang sesungguhnya cukup membosankan. Dan tentu saja, aku tidak akan bertemu dengan Ruu lagi. Lalu, kemana perginya Ruu??
Ruu kembali menggeluti dunia fotografinya. Ruu akan terbang jauh mencapai mimpi dan harapannya. Tentu saja dengan meninggalkan aku yang sampai saat ini masih penuh harap dengannya.

Dua minggu berlalu pasca proyek.

Aku memasuki sekretariat komunitas kami perlahan. Hari ini aku iseng main ke sini untuk mengalahkan rasa jenuh yang ada di kepalaku. Bagaimana mungkin aku tidak jenuh karena sepanjanh hari aku terus berkutat dengan ketikan di depan layar laptop. 

Perlahan aku mengamati sudut ruangan. Menelusur setiap ruangan satu per satu. Mataku sedang berusaha menangkap bayangan seseorang. Berharap akan menemui sosok itu di tempat ini. Bolak-balik aku mengelilingi ruangan ini. Berpura saling menyapa, melepas rindu, padahal mataku tak henti mencari sosok itu. Namun ternyata, NIHIL

Aku tak menemukan sosok yang berkharisma lagi menawan itu.  Aku bahkan tak mendengar suaranya. Ahh, sungguh rasanya sia-sia perjuanganku ke tempat ini. Rinduku yang begitu memuncak ternyata benar-benar tak terbayarkan. Harus ditabung lagi sepertinya.

Dengan gontai aku menjatuhkan tubuhku ke salah satu sofa dan memulai obrolan ringan dengan yang lainnya. Ya, hampir semua anggota komunitas ini aku kenal. Karena memang aku aktif dalam setiap kegiatan komunitas ini. Jadi kedekatan kami muncul seiiring berjalan waktu.

"Kie, udah tahu belum gebetan Ruu?" tiba-tiba salah seorang dari mereka nyeletuk

Derrrr. Sebuah pertanyaan yang cukup menggelegar bagiku. Mendengar namanya saja aku sudah dagdigdug. Apalagi ini nama itu dikaitkan dengan gebetan. Apa maksudnya itu? Apakah Ruu memang sedang mencari tambatan hatinya? Apakah Ruu berusaha menemukan bidadari hidupnya?

"Oh ya? Siapa" tanyaku was-was. Aku berpura-pura tidak begitu antusias. Aku menutupi rasa suka yang sebenarnya menggebu-gebu di dalam dada. 

"Lho, kan kamu sering banget 1 proyek sama dia, kok bisa gak tahu ya?" timpal mereka yang membuat aku semakin penasaran.

Wah, apa-apaan ini, batinku. Naluri kepo ku bermunculan. Apakah gadis yang disebut gebetan Ruu itu adalah yang sering melakukan proyek dengan Ruu? Bukankah itu aku ya? Eh, tapi..

"Beneran aku gak tahu" aku berkilah. Berpura-pura bodoh dan tidak peduli

"Nih aku kasih tahu ya, nama gadis itu Swa. Dia cantik, manis, imut lagi. Dia itu akuntan di sebuah perusahaan asing. Kayaknya Ruu bakal serius deh sama dia" mereka bercerita penuh semangat

Jleb.
Swa?
Siapa gadis ini? Aku tidak mengenalnya? Kenapa dia tiba-tiba hadir menghancurkan semua khayalanku?

"Dia anggota komunitas juga? Kok kalian bisa kenal?"

"Iya, dia baru join juga. Dan langsung deket sam Ruu. Dan sekarang dia lagi sama Ruu ngurusin izin proyek terbaru kita"

Gerrrr..
Aku diam. Ini mimpi bukan? 
Ahh, ini pasti mimpi. Aku mencubit tanganku. Ternyata sakit. Oh My God. Ini ternyata bukan mimpi. Siapa Swa? Mengapa harus gadis itu? Mengapa dia datang tiba-tiba dan mengambil Ruu dari hidupku? Dia berhasil mencuri Ruu dari hidupku. 
Aah..

"Kie, kok diem sih? Kita tuh pada patah hati semua. Karena harus kehilangan sosok Ruu" timpal mereka manja

"Lho, Ruu mau pergi dari sini?" Aku kembali bertanya. Memastikan apakah Ruu benar-benar akan pergi meninggalkanku dengan gadis itu?

"Ya ampuuun Kie, kalau Ruu udah nikah sama Swa, kan gak bisa kita goda lagi. Gimana sih kamu?"

"Apa? Nikah ?" aku tersekat mengucapkan hal itu

"Iya Kie, mereka akan segera menikah"

Aku memalingkan wajah dari mereka, lalu bergerak menuju kamar mandi. Memandang wajah polosku di cermin, lalu membatin "Benarkan Ruu akan menikah? Tapi tidak denganku? Kenapa ini terasa sakit sekali? Aku benar-benar tidak membayangkan hal ini akan terjadi. 

Perlahan-lahan air mata mengalir membasahi pipiku. Ya Tuhan, ini benar sakit sekali. Sungguh. Kuatkah aku menghadapi hari esok? Sedangkan hari ini saja aku sudah tak berdaya. Huffht !!




Gak habis-habis ceritain Ruu dan Kie. hehehehe..
insyaallah edisi berikutnya final part kok...
Penasaran?? Samaaa aku juga 😍

KAU TAK SENDIRI

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang tengah merasa sendiri. Pernahkah merasa sendiri? Merasa seolah tak ada orang lai...